
Sudah Zalina ingatkan tadi sore, kemungkinan besar putrinya akan bangun tengah malam. Tidak ada waktu untuk bermanja-manja dan tidur dalam pelukan istrinya karena tepat jam satu dini hari, Sean masih menuntun putrinya berjalan.
Jangan ditanya bagaimana pinggang Sean, sudah tentu pegal karena memang harus menunduk mengingat tubuh mungil putrinya. Seolah sengaja menyiksa, Iqlima enggan diambil alih siapapun, termasuk pengasuh dan juga uminya.
Zalina yang merasa kasihan pada Sean berbaik hati dengan cara memantau di sofa ruang keluarga. Mata lelahnya berusaha bertahan memantau gerak-gerik perebut hati sang suami akhir-akhir ini, gelak tawa Iqlima dan keluhan Sean bersatu padu di telinga Zalina yang membuat wanita itu ingin kembali terlelap rasanya.
"Astaga anak ini ... kemana lagi."
Sejak di dalam penjara Sean selalu membayangkan bisa menemani setiap perkembangan sang buah hati. Setiap malam sebelum tidur, yang Sean bayangkan adalah kebahagiaan kala menuntun mereka melangkahkan kakinya.
Namun, baru juga beberapa saat menjalani peran sebagai ayah untuk putri yang tengah aktif-aktifnya membuat napas Sean kerap terengah-engah. Sudah satu jam dia menemani Iqlima, dia pikir setelah minum susu sang putri akan kembali tidur.
Nyatanya justru berbalik, Sean bahkan merasa lebih lelah dibandingkan usai bercinta bersama sang istri. Tenaganya terkuras dua kali lipat hingga keringat di sekujur tubuhnya sudah membasah.
"No ... sudah malam, kamu mau kemana?"
"Butaaa, Abi."
Putrinya merengek seraya menunjuk ke arah pintu utama. Sean mengerjap pelan dan menoleh ke arah sang istri yang sudah tidak bersuara di sana, pingsan atau koma Sean juga tidak tahu.
"Tidak, di luar ada nenek gayung."
"Yayun?"
"Hm, seram tahu," tambah Sean seakan tengah bicara pada yang sudah mengerti saja.
Iqlima mana tahu siapa nenek gayung, dia juga belum kenalan. Menakut-nakuti Hudzai mungkin akan mempan, tapi teruntuk Iqlima jelas saja percuma. Jangankan takut, dia justru semakin menjadi dan melepaskan diri dari genggaman Sean.
Belum bisa melangkah tanpa bantuan secara sempurna, tapi demi bisa membuka pintu itu Iqlima rela tertatih dan jatuh berkali-kali untuk tiba di daun pintu. Tiba di sana, Iqlima kembali mengulangi permintaannya dan merengek lantaran Sean masih diam saja.
"Keras kepala sekali anak ini ... sudah malam Iqlima."
Baru menghadapi putrinya yang begini, Sean sudah menganggap jika sang putri keras kepala. Gurat wajah Iqlima yang begitu memaksa membuat Sean tertawa sumbang, dia biarkan sang putri berusaha mandiri membuka pintunya.
Hingga, di detik terakhir Iqlima menyerah juga. Sean yang tahu jika sang putri tampak lelah, segera menggendongnya dan kembali ke pangkuan sang istri. Siapa tahu jika disogok pakai susu, sang putri akan sedikit lebih tenang.
"Ya, Tuhan lumba-lumba satu ini sudah terkapar ... Sayang, Iqlima haus," ucap Sean mengusap pelan puncak kepala sang istri yang kini sudah terlelap di sofa begitu nyamannya.
Tidakkah Zalina peduli seberapa lelahnya Sean saat ini? Ya, meski sejak tadi Iqlima memang menolak bersamanya, tapi bukan berarti Sean tak butuh ditemani.
"Zal ... Zalina, kamu benar-benar tidur rupanya."
Merasa tak punya cara, Sean nekat membuka kancing piyama Zalina satu persatu. Biasanya, Iqlima akan takluk jika melihat sumbernya secara langsung, entah kenapa yang kelas anak itu memang agak pemilih.
Sialnya, baru saja terlihat belahannya, Sean ikut menggila dan sesuatu dalam dirinya bergelora seketika. Bahkan, dia sampai tidak fokus kala Iqlima sudah menghambur ke sisi Zalina, tentu saja hendak mencari sumber kehidupan di sana.
Sementara Iqlima yang mungkin sudah benar-benar haus tampak bahagia luar biasa dengan terbukanya bagian dada Zalina. Tanpa dia sadari jika wajah abinya sudah begitu datar ketika membukanya agar Iqlima bisa minum dengan mudah.
"Eeeeuunghh."
Zalina melenguh singkat kala Iqlima mulai meredakan rasa hausnya. Mata ngantuk yang dia paksakan untuk terbuka membuat Sean merasa tak tega.
"Tidurlah, biar mas yang jaga Iqlima."
"Gerobaknya di sana, Mas."
Zalina meracau, telunjuknya mengarah ke atas. Selelah itu, padahal pekerjaan Zalina sehari-hari tidaklah sulit, mungkin hamil juga menjadi salah-satu penyebabnya.
"Gerobak?" Sean tertawa sumbang, pria itu berlulut menatap lekat wajah lesu Zalina.
Kasihan, memang jika dilihat secara kasat mata pekerjaan Zalina tidak ada. "Kamu terlalu lelah ya, Sayang," ungkap Sean masih setia memandangi dua bidadarinya.
Iqlima yang minum susu dengan kaki yang kemana-mana, sementara Zalina yang pasrah begitu saja karena memang terlalu lelah. Pemandangan semacam ini adalah hal yang tidak pernah dia kira dalam hidup, seketika senyum itu mengembang sebelum kemudian Sean mengikis jarak dan mengecup kening sang istri begitu dalam.
"Terima kasih, istriku."
Perlahan, mata Iqlima kian mengecil. Kakinya juga sudah tidak terlalu banyak gerak, pertanda Sean bisa tidur sebentar lagi. Namun, baru saja hendak membawa Iqlima ke kamar, mbok Ratri keluar dengan membawa Habil dengan wajah kusutnya.
"Aih pangeran kodok ini kenapa lagi, Mbok?"
"Kebangun, Den ... den kecil nangis, tapi tidak panas dan juga tidak mau minum susu."
Pada akhirnya tetap Sean jadi pilihan, padahal kemarin Habil menolak uluran tangan Sean. Anehnya, saat ini sang putra menerima saja bahkan menenggelamkan wajah ke dada bidang abinya.
"Kangen sama abi ya, Sayang?"
Tidak ada jawaban, jelmaan kanebo kering itu hanya diam dengan mata yang jelas memerhatikan lingkungan sekitar. Namun, diam bukan berarti tidur. Sean tidak bisa berganti posisi, Habil tengah nyaman berada di atas dada abinya tentu saja.
"Beginikah niat begadang yang sesungguhnya?"
.
.
- Edisi Sean's Family -