Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 15 - Edisi Ana - Axel


"Aku serius, pertama kali aku melihatmu sepertinya masih 25 tahun ya?" tanya Ana kemudian, sebuah pertanyaan yang menegaskan jika Ana masih mengingat wajah Axel malam itu.


"Iya, dan kau 17 tahun ... benar, 'kan?"


Ana mengangguk, tidakkah mereka sadar apa yang mereka bicarakan? Sebuah pertemuan pertama yang sebenarnya mengenaskan, tragis bahkan tidak layak untuk diingat. Malam penuh luka, air mata, peluh dan juga darah.


Namun, bagi seorang Axel pertemuan itu juga dapat dia katakan sebagai pertemuan yang membuat hatinya terus terikat, sejak malam itu tidak pernah bisa melupakan sosok gadis suci yang ternoda akibat kebejattannya.


Pikiran Axel melayang ke beberapa tahun silam, malam dimana dia tidak mampu mendefinisikan apa yang terjadi padanya. Entah kenapa matanya benar-benar terkunci pada sosok gadis yang dia temui tengah meringkuk di sudut kamar. Axel tidak bisa melepaskan tatapannya, tanpa peduli teriakan para korban yang lain.


Hingga, tubuh mulus Ana yang hanya menggunakan baju pendek dan celana sejengkal itu membuat Axel hilang kendali. Iblis merasuk dan mengacaukan pikiran kotor Axel hingga memiliki niat sepicik itu, padahal tugas Axel waktu itu adalah untuk membunuh Ana, bukan menikmatinya.


Di waktu yang bersamaan, Ricko ikut masuk dan memastikan tugas Axel sudah selesai lantaran Hito mengatakan waktu mereka tidak lama lagi. Melihat Axel yang belum bertindak apa-apa, Ricko mengarahkan senjata api ke kepala Ana dan secepat mungkin Axel menggelengkan kepala.


"Jangan, nikmati saja dulu."


"Apa maksudmu?"


"Dia cantik, tidakkah kau tertarik?"


Begitulah awal dari kehancuran Ana, sebuah kalimat ajakan dari Axel yang hingga saat ini masih terbayang nyata. Ricko yang saat itu sama gilanya jelas tidak menolak, hingga di saat ketiganya usai Ricko kembali pada tujuan pertama untuk menghabisinya.


"Stop, aku belum selesai, Ricko," ucap Axel menghalangi niat Ricko dan membuat pria itu bingung.


Terpaksa, Ricko mengurungkan niat dan mundur beberapa langkah. Axel hanya ingin menunda niat Ricko, tenaga dan keinginan untuk melakukan kedua kali sudah tidak ada lagi sebenarnya. Tubuh lemah Ana di hadapannya sudah membuat Axel bergetar, hingga di saat yang sama Sean masuk dan mencoba menghentikan mereka. Sayangnya, semua sia-sia dan terlambat begitu saja.


"Axel?"


Suara lembut Ana dan guncangan di bahunya membuat pria itu terjaga, seketika dia baru sadar jika lamunannya terlalu jauh. Ana sudah memanggil pria itu beberapa kali, bahkan kini dia duduk begitu dekat demi bisa menepuk pelan wajah Axel.


"Hm?" Mata Axel mengerjap pelan, manik tulus Ana tengah menatapnya.


"Apa yang kau pikirkan? Apa uangmu dicuri anak-anak yang tadi?" tanya Ana mendadak khawatir jika Axel tengah dihiptonis, maklum saja dia benar-benar trauma karena pernah mengalaminya sewaktu Satria masih balita.


"Bu-bukan, An ... aku sedikit," ucap Axel menggantung, pria itu menghela napas pelan sebelum kemudian mengusap wajahnya kasar.


"Sedikit apa?"


"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Axel penuh harap, sebesar itu harapan Axel jika wanita yang kini menatapnya akan menjawab iya.


"Di sini?" Ana mengerutkan dahi, tidak lucu jika penjual tahu gejrot di depan sana justru tidak fokus, pikir Ana.


"Hm, di sini ... sebentar saja."


Ana mengatupkan bibir sebelum kemudian mengangguk pelan, tanpa terduga Axel merengkuhnya begitu erat. Pria itu tidak hanya memeluknya, tapi juga mengusap pelan pundak Ana sembari mengucapkan maaf berkali-kali dengan suara lirihnya.


"Maafkan aku, Ana ... kau pantas membunuhku," racau Axel dengan suara yang mulai terdengar berbeda, dia sesak dan mungkin tangisnya terlampau serius.


Ana masih terpaku, tangannya belum memperlihatkan akan memberikan balasan. Hingga, beberapa saat setelah Axel memeluknya, tanpa sadar Ana membalas pelukan pria itu.


Sebentar kata Axel, nyatanya begitu lama bahkan mungkin orang-orang di sekeliling mereka menduga jika tengah terjadi masalah rumah tangga. Axel tidak berhenti, sampai pundak Ana terasa basah akibat air matanya.


"Woah, Daddy!!"


Suara Satria dari kejauhan mengejutkan keduanya, mereka terlena dan tidak sadar jika memang sudah cukup lama. Axel panik, Ana juga demikian dan menatap wajah Axel yang menunduk dan berusaha menyembunyikan matanya yang memerah.


"Hapus air matamu, Satria pasti akan banyak tanya setelah ini," ujar Ana memberikan beberapa lembar tisu pada Axel yang berada di sisinya.


Sementara Satria kini terus berlari menghampiri mereka dengan wajah penasaran, mungkin jika dilihat dari kejauhan Ana dan Axel tampak manis hingga Satria sama sekali tidak menduga sang ayah sesakit itu meratapi luka lama yang dia ciptakan.


"Daddy kenapa, Mom? Mukanya merah, Mommy marahin ya?" tanya Satria begitu sadar bahwa Axel habis menangis, sudah jelas Ana yang menjadi sasaran utamanya.


"Tidak, Daddy tidak tahan pedas ... tahu gejrotnya kebanyakan cabai," jawab Ana mencari alasan, seketika penjual tahu gejrot yang sama sekali tidak salah itu terpaksa Ana seret.


"Daddy tenang!! Biar Satria yang marahin abang-abang tahunya!!"


"Ja-jangan, Satria ... Daddy yang salah, minta cabainya kebanyakan," ungkap Axel yang seolah turut mendukung kebohongan Ana, jika tidak begitu putranya tidak akan diam.


.


.


- To Be Continued -


Masih merindukan Ana - Axel? Ini hari senin, monggo votenya yang nggak kepake lempar Ana yak.