
Mobil Aaron melaju dengan kencang menuju Rodders,bar yang biasa Sean kunjungi.
Selesai bekerja Sora hanya ingin pulang dan beristirahat,membiarkan Aaron bertemu dengan teman temannya.
Sesampai di depan pintu bar Rodders,Aaron turun dari mobil dan masuk ke dalam bar menuju ruang vip yang sudah di pesan oleh Sean.
"Ron! Akhirnya kau datang."
"Mana Sora?"
Tanya Sean yang berteriak dengan keras karna tersaingi suara alunan lagu yang begitu keras di dalam ruangan.
Aaron menanggapi Sean dengan wajah dingin,dan berjalan lalu duduk dengan tenangnya.
Sean mengangkat tangannya meminta pegawai bar tersebut untuk mengecilkan volume lagu yang sedang di putar.
"Ron,kau tak mengajak Sora?" Tanya Reyna.
"Dia harus istirahat." Jawab Aaron dengan dingin.
"Hei Ron,dasar gunung es,masih saja berwajah seperti itu." Ucap Sean.
"Apa kau tau,malam ini ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu dan semua orang."
Melihat ekspresi Aaron yang dingin Sean tak melanjutkan bicaranya lagi dan duduk di sebelah Reyna.
"Sepertinya kita tak perlu memberitahunya." Bisik Sean pada Reyna.
Reyna hanya diam dan menikmati minuman di gelas yang berada di tangannya.
"Apa yang ingin kau sampaikan padaku." Tanya Aaron.
"Hahaha pada akhirnya kau bertanya juga padaku."
"Aku tau kau sebenarnya peduli padaku kan." Ucap Sean senang.
"Apa kau tak lihat diriku sekarang Ron?"
"Aku sangat bahagia."
Sean merangkul Reyna dan memperlihatkan kemesraannya di depan Aaron.
Ron melirik Sean dan menaikkan satu alisnya ke atas,dengan wajah yang penasaran.
"Ron,dengar ya,akhirnya kakek Justo merestui hubunganku dengan Reyna,dan pernikahan kami sudah di tetapkan."
"Aku sudah tau."
Ucap Ron tersenyum kecil.
"Apa..? Kau sudah tau tentang ini." Tanya Sean.
"Kau pikir kau bisa sembunyikan hal ini dariku."
"Aku pernah melihatmu bersama Reyna masuk ke hotel."
"Juga.. orang tua itu pernah memintaku untuk memisahkanmu dari Rey."
Mendengar perkataan Aaron,Sean tersedak oleh minuman karna kaget.
"Maksud kamu...,orang tua itu pernah..."
Ucap Sean.
"Sudah..,kenapa kau harus kaget."
"Yang penting kan sekarang."
Bujuk Reyna dengan tenang.
"Tapi sayang...,aku benar benar." Ucap Sean yang tak terima jika kakek Justo seperti itu di belakangnya.
"Kenapa?"
"Kau gak terima jika kakekku berbuat seperti itu." Ucap Reyna sambil menyilangkan tangannya di dada dengan nada kesal.
"Bisa kalian diam!"
"Jika aku di sini hanya melihat pertengkaran kalian lebih baik aku pergi." Ancam Aaron.
"Oke oke,aku salah." Ucap Sean.
"Bagaimanapun aku ucapkan selamat untuk skalian." Ucap Aaron sambil mengangkat gelas dan meminumnya sekali teguk,lalu mereka mengikuti Aaron dan minum bersamaan.
"Ron,terima kasih ya kau sudah membantu kami." Ucap Reyna.
"Jika aku gak bantuin kalian,orang tua itu pasti gak akan berhenti menjodohkan kita." Jawab Aaron.
"Apa Sora masih cemburu denganku?" Tanya Reyna.
"Kau tau jawabannya kan."
"Hari ini aku memaafkanmu Rey,ke depannya jika kau masih menggodaku,aku tak akan segan lagi untuk memecatmu." Ucap Aaron.
"Hahaha kau lihat sayang dari dulu dia selalu serius." Ucap Reyna pada Sean,dan seketika itu Reyna mengubah raut wajahnya sedikit datar.
"Dasar gunung es." Ucap Reyna ketus.
"Sudah sayang,kau tau kan Aaron memang seperti itu." Ucap Sean menenangkan Reyna.
Aaron menarik lengan jas nya untuk melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Aku harus pergi,kalian lanjutkan pestanya tanpa aku."
"Eh eh secepat itu kau sudahi pestaku." Ucap Sean setengah berteriak saat Aaron melangkah meninggalkan ruangan itu.
"Ron!"
"Ayolah malam ini kita rayakan kebahagian kami sampai larut." Bujuk Sean sambil menahan lengan Aaron agar mau tinggal lebih lama lagi.
Aaron memutar tubuhnya dan memegang kedua bahu Sean.
"Sean kau akan mengerti setelah menikah dan saat akan menjadi ayah."
"Apa yang kau bicarakan aku tak mengerti." Jawab Sean.
"Sudahlah,aku harus pulang."
"Sora pasti menungguku." Ucap Aaron.
"Baik,kau pulang lah."
Ucap Sean.
Aaron hanya menghela nafasnya mendengar jawaban Sean,dan meninggalkan bar Rodders.
****
Di kediaman Rassam...
Di kamar Aaron dan Sora
Aaron duduk perlahan di tepi ranjang,dan melepaskan dasi yang terikat di lehernya.
Melihat Sora yang tertidur,Aaron sepelan mungkin melepaskan bajunya.
"Sayang kau sudah pulang." Bisik Sora yang menyusupkan kedua tangannya dari belakang ke perut Aaron dan memeluknya erat lalu mencium punggungnya.
"Kau belum tidur?" Tanya Aaron.
Sora menggeleng pelan.
"Bagaimana pesta tadi?"
"Apa Reyna masih berusaha menggodamu?"
Aaron tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan tersusun rapi.
"Kau cemburu?"
"Sudahlah,aku tidur aja."
Sora mendorong pelan Aaron.
"Apaan sih jawabnya gitu,sudah pastilah aku cemburu." Batin Sora.
Aaron menarik lengan Sora dan berbicara pelan.
"Sayang pokoknya kau tenang saja,setelah hari ini Reyna tak akan berani melakukan itu lagi."
"Benarkah?" Jawab Sora pelan.
Aaron mengangguk.
"Aku beri tau kamu,dia akan menikah dengan Sean."
"Sean?"
"Temanmu Sean?" Sora memastikan ucapannya karna tak percaya.
"Kenapa?"
"Kau tak percaya?" Balas Aaron.
"Enggak aku hanya... kaget." Ucap Sora.
"Selama ini aku tak pernah melihat mereka bersama."
"Sean sudah tertarik dengan Reyna sejak pertama bertemu."
"Dia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mendekati Reyna." Terang Aaron.
"Bukankah Reyna menyukaimu?" Ucap Sora.
"Dulu saat dia belum mengerti antara rasa suka dan rasa untuk berterima kasih padaku."
"???" Dalam pikiran Sora.
"Sudahlah sayang kau mandi dulu,setelah itu kau beristirahat." Pinta Sora dan merebahkan tubuhnya kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Sayang apa kau gak mau ngasih aku kecupan." Ucap Aaron.
"Mandi lah dulu,kau bau alkohol." Pinta Sora.
"Sayang.." Bujuk Aaron.
"Jika kamu gak mandi sekarang jangan harap untuk ku cium malam ini." Jawab Sora.
"Baiklah." Jawab Aaron dengan nada kecewa.
****
Negara M...
Kota Maine
Elan menatap selembar foto dirinya dan seorang wanita cantik sambil meneguk minuman di dalam gelas.
Terlihat kedua matanya menunjukkan kebencian.
"Lan apa kau belum bisa melupakannya?"
"Kau tau kan wanita itu menikahi sepupumu." Ucap sahabat Elan yang baru saja datang dan melihat foto itu lalu duduk berseberangan dengan Elan.
Elan hanya diam dan meremas selembar foto di tangannya,lalu meneguk minumannya hingga habis.
"Aku akan menantikan saat kami akan bertemu nanti." Ucap Elan.
"Kau tak melupakannya,tapi dia melupakanmu." Jawab sahabat Elan.
"Lan biarkan dia bahagia."
"Aku tak ingin kau kecewa dan terluka lagi."
"Kau mendengarkanku kan?"
"Lan?"
"Aku mengkhawatirkan mu."
Ucap sahabat Elan.
"Tentu,jangan khawatirkan aku."
"Pasti aku akan membiarkan dia bahagia." Jawab Elan dengan Smirk evilnya.