
"Iya sayang,ada apa?" Tanya Sora setelah dia keluar dari kamar Thian.
"Aku malam ini lembur lagi,kamu gak apa apakan?" Tanya balik Aaron dari seberang telepon.
"Gak pa pa,kira kira pulang jam brapa?
"Entahlah,mungkin seperti kemaren." Jawab Aaron.
"Mm oke." Jawab Sora dengan malas,dia jadi tidak bersemangat karna harus menunggu Aaron yang akan pulang larut malam lagi.
"Sayang,gak usah nungguin aku ya,kalau kamu ngantuk tidur aja." Pinta Aaron.
"Iya."
"Kalau aku udah ngantuk aku akan tidur." Terang Sora.
Mereka mematikan telepon masing masing dengan di akhiri kecupan dari Sora.
Kejadian hari ini membuat Sora merasa lelah,dia berjalan ke arah kamarnya,dan ingin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
***
Di kantor Aaron...
Beberapa jam sudah berlalu.
Jean masih bersama dengan Zain membantunya apa saja yang harus di kerjakan oleh Zain,untuk kedepannya pun mereka akan lebih sering bertemu,karna Jean harus membantu menyusun laporan secara sistematis kepada Zain untuk proyek yang di kerjakan.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore,namun Aaron masih berkutat dengan laptop di mejanya dengan beberapa dokumen yang menumpuk di meja.
"Fredy apa Zain Ernest masih berada di kantor?" Ucap Aaron dengan tangan kanannya memencet tombol telpon di meja yang ada di depannya.
"Belum tuan muda."
"Suruh dia lembur hari ini dan datang ke ruanganku."
"Dia harus secepatnya menyesuaikan diri dengan pekerjaan di perusahaan ini."
"Sekalian kau kabari pak Davin juga Jean untuk kemari."
"Baik."
Setelah menutup telpon Aaron merenggangkan tubuhnya dan memutar kepalanya agar terasa rileks,merebahkan sebentar punggungnya dan menutup mata di kursi kerjanya.
Suara ketukan pintu menyadarkan dirinya untuk segera membuka mata dan duduk layaknya seorang direktur.
"Masuk."
Fredy,pak Davin,Jean juga Zain,bergiliran berjalan memasuki pintu ruangan Aaron,dan berdiri berjejer menghadap Aaron.
"Zain Ernest." Panggil Aaron.
"Iya pak,saya."
Aaron mengamati Zain dengan seksama,dan berbicara dalam hatinya.
"Sepertinya tak ada yang mencurigakan."
"Tapi aku harus tetap memastikan."
"Kau lolos dalam wawancara di perusahaan utama."
"Kau tau,tidak mudah untuk bekerja dalam perusahaan ini."
"Aku tak mencari orang yang terlalu lama belajar,aku memberimu waktu dua hari untuk mempelajarinya,aku harap setelahnya,kau sudah bisa memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan perusahaan."
"Baik pak Aaron."Jawab Zain.
"Jean yang akan membantumu mempelajarinya."
"Pak Davin besok pagi kau langsung saja ke lapangan untuk memantau proyek Phelps,setelah makan siang,kembali ke kantor dan ikut bersamaku untuk rapat dengan tuan Joseph."
"Siap pak Aaron." Jawab pak Davin
"Hari ini kalian lembur,selesaikan dokumen proyek yang akan berakhir." Ucap Aaron.
"Lembur sampai jam brapa pak." Tanya Jean.
"Sampai...selesai baru boleh pulang."
"What."
"Kan laporannya gak mungkin tiga jam selesai."
"Gimana ama kencanku nanti."
"Hiks.." Batin Jean.
Melihat Jean mendadak lesu Aaron mengerti,menebak jika Jean ada acara nanti malam.
"Kalian bertiga kerjakan bersama,aku yakin dua jam pasti selesai."
"Fredy kau tetap di sini membantuku."
Ucap Aaron.
Ada binar binar kebahagian di wajah Jean setelah mendengar Aaron bicara.
"Baiklah kalian kembali kerja lagi." Perintah Aaron.
...
"Akhirnya selesai juga,aah." Ucap Jean sambil merenggangkan kedua tangannya ke atas lalu menarik tangan kanannya untuk memastikan jika dia bisa berkencan malam ini.
Mereka bertiga mengerjakan tugasnya di ruangan Zain,karna ruangan Zain lebih luas sedikit dari ruangan pak Davin dan Jean,jika mengerjakan di ruangan masing masing pasti akan kelelahan karna harus bolak balik mencocokkan laporan.
"Besok aja deh pak,masak kita sendiri yang ngrayain,anak anak juga udah pulang semua." Terang Jean.
"Kalau kalian mau sekarang boleh,saya akan merayakan dua kali,malam ini bersama kalian besok dengan semua anak anak tim satu dan dua."
"Beneran nih Zain." Tanya pak Davin.
Pak Davin lebih tua tujuh tahun dari Zain.
Zain mengangguk dengan cepat,memandang Jean dan pak Davin secara bergantian agar mereka mau.
"Enggak deh pak Zain,setelah ini aku ada acara."
"Maaf maaf bapak bapak sekalian,saya tidak bisa ikut." Sambil berucap layaknya berpidato,Jean mengakhiri dengan menunjukkan giginya yang rapi,setelah itu meninggalkan mereka berdua dan bersiap untuk pulang.
"Ya udah deh,besok aja Zain,banyak orang lebih asik."
"Aku pulang dulu." Ucap pak Davin.
"Oke...Baik pak."
Setelah mereka selesai membuat laporan mereka pulang,namun tidak untuk Aaron dia harus menyelesaikan beberapa laporan untuk minggu ini agar saat pesta pernikahannya dia bisa tenang tanpa memikirkan pekerjaan yang tertunda.
***
Esoknya...
Pukul dua siang di bandara
Fredy sudah menunggu lima belas menit untuk menjemput nenek dan sarah,beberapa meter di depannya,terlihat nenek,Sarah dan Aiko berjalan ke arahnya,Aiko menarik dua bag travel besar dan kecil,tentu saja yang besar punya nenek dan yang kecil miliknya,sedang Sarah menarik sendiri bag travelnya,Fredy berlari kecil menghampiri Sarah dan mengambil bag travel nya untuk di bawa.
Fredy di tugaskan oleh Aaron untuk melayani nenek selama di Oregon.
Di depan bandara terlihat Maybach milik Aaron,mereka mendekati mobil itu,sesampainya Fredy membukakan pintu mobil untuk nenek dan sarah yang duduk di belakang,setelah menutup pintu Fredy berjalan cepat memutari mobil dan masuk ke dalamnya,sedangkan Aiko duduk di samping Fredy.
"Fredy langsung ke kediaman Rassam." Perintah nenek.
"Baik nyonya."
"Apa saya perlu menyampaikan pada tuan muda jika anda berkunjung sekarang?"
"Tidak perlu."
"Aku hanya ingin berbicara hal tidak penting dengan tuan Ramush.
Fredy mengangguk dan segera menyalakan mobilnya.
"Nek,apa nenek gak capek kalau kita langsung ke sana." Tanya Sarah merangkul lengan nenek dengan manja.
Nenek hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tapi akukan capek nek,hiks."
"Eh tapi kan ini kesempatanku untuk deketin istri kak Aaron."
"Saat ini pasti kak Aaron masih kerja,jadi aku bisa lakukan rencanaku."
Batin Sarah.
Memasuki kediaman Rassam Sarah sedikit terbengong.
"Wah gak nyangka rumah istri kak Aaron ternyata sangat besar dan luas." Batin Sarah.
Rumah besar milik nenek pun juga besar seperti kastil,namun karna hanya terdapat padang rumput dan taman bunga,jadi seperti biasa saja melihatnya.
Sedangkan kediaman Rassam sejak memasuki gerbang utama sudah di perlihatkan pohon pohon besar yang seperti hutan, melewatinya pun memakan waktu sepuluh menit menaiki mobil.
Di dalam rumah utama kakek terkejut bercampur senang dengan kedatangan Emily,setelah pelayannya memberitahukannya.
Sebelum mobil Aaron sampai di depan rumah utama kakek segera memerintah pelayannya untuk segera menyiapkan penyambutan untuk mereka,bahkan kakek menyuruh bi Kana segera memasak masakan kesukaan Emily.
Olivia dan Sora saling berpandangan melihat keanehan tingkah laku kakek,mereka berdua duduk tak jauh dari kakek yang sebelumnya sedang bermain catur dengan pak Simon.
"Ma liat gak,kakek keliatan aneh banget deh."
"Hu'um."
"Emang siapa yang datang ya?"
Jawab Olivia.
Sora hanya mengangkat kedua bahunya,karna dia tidak tau.
"Olivia,Sora,kalian cepat bersiap,nenek Aaron datang kemari." Ucap kakek
"Sekarang?" Tanya Sora terkaget hingga dia langsung berdiri dari duduknya.
"Tapi Aaron bilang nenek akan datang kemari nanti malam."
"Entahlah,mungkin neneknya berubah pikiran." Jawab kakek.
"Iya ayah baik,aku dan Sora akan segera bersiap." Ucap Olivia dan menarik pergelangan tangan Sora untuk mengikutinya.
"Ma,mama gak curiga ama kakek."
"Keliatan banget deh kalo kakek kayak orang yang lagi jatuh cinta."
Ucap Sora saat mereka masih berjalan ke arah kamar masing masing.
"Udah anak kecil gak usah ikut ikutan." Jawab Olivia menggoda anaknya.
"Apaan sih mama ini,udah gede segini masih di bilangin anak kecil melulu." Ucap Sora sambil memonyongkan mulutnya.
"Iya iya sekarang udah gede,gak usah ngambek kalo gak mau di bilangin anak kecil sana cepetan ganti baju,ntar langsung turun ke bawah." Olivia tersenyum dan menepuk nepuk kepala sora lalu membelainya.