Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 03


"Lengkara ...."


Yudha tidak mengerti kenapa sang kekasih begitu sulit ditebak. Apa yang salah dari Lengkara hingga tiba-tiba bersikap begini, untuk pertama kali Yudha menatap tak suka padanya. "Bercanda, jangan marah ... mas Yudhaku tidak pernah marah," ucapnya kemudian mengecup pelan wajah Yudha, tidak hanya sekali tapi berkali-kali.


"Kamu kenapa sebenarnya? Salah minum obat atau kenapa?"


"Anggap saja begitu ... aku ngantuk, mau tidur," ucapnya kemudian tanpa dosa bersiap-siap tidur bahkan kini bersembunyi di balik selimut.


"Kara."


"Apa?" Yudha benar-benar menyerah dengan jurus andalannya, jurus pura-pura tidak tahu.


"Keluar."


"Mas tidur sini, muat berdua ... kasurnya luas."


Bukan masalah kasur, tapi yang Yudha pikirkan keselamatannya. "Dalam hitungan ketiga tidak tidur, aku teriak biar mas digebukin Papa," ancam Lengkara yang membuat Yudha menyerah dan turut menghempaskan tubuhnya.


"Eeeuuugh!!" Gemas sekali, jika tidak berdosa Yudha ingin mencubit ginjalnya detik ini juga.


"Jangan menghadap ke sana, aku sudah jauh-jauh menemui Mas kemari," tutur Lengkara menyentuh punggung Yudha yang membelakanginya.


"Tidurlah." Tidak hanya sekadar menghadap ke arahnya, tapi juga mendekap Lengkara. Meski mereka sudah menjalin hubungan cukup lama, bahkan rencana menikah sudah begitu matang, tapi ini kali pertama Yudha berani melakukan hal semacam ini.


"Mas ...."


Yudha pikir diamnya adalah tidur, tahunya masih mampu bersuara juga. Tidak ingin masalah diperpanjang, Yudha memilih untuk pura-pura tidur. Agaknya Lengkara tidak menyerah karena kini dia kembali memanggil Yudha untuk kesekian kalinya.


"Mas Yudha!! Bagas!! Ck Tami Puspitasari!! Aku tahu kamu pura-pura tidur ya."


"Astaga apalagi?" Yudha meringis kala merasakan perutnya sakit akibat cubitan kecil dari Lengkara.


"Kamu akan menemui Ana juga setelah ini?"


"Tidak, tugasku sudah selesai dan selebihnya tugas Sean dan ayah dari Satria," jelas Yudha pelan-pelan, khawatir jika telinga Lengkara kemasukan air.


"Baiklah kalau begitu, good night, Mas."


Hidup sesukanya, Yudha pasrah saja kala Lengkara mengusap wajahnya agar menutup mata. Jika sudah begini mana mungkin Yudha bisa tidur, selain menjaga Lengkara dari jin dalam dirinya, pria itu juga menjaga dirinya.


Tidak butuh waktu lama, Yudha sudah mendengar dengkuran dari Lengkara. Cukup lama dia pandangi, Yudha mengikis jarak dan mendaratkan kecupan di keningnya begitu lama.


"Belum saatnya, Kara ... aku khawatir lepas kendali," bisiknya pelan sebelum membopong tubuh Lengkara keluar.


Yudha tidak bisa menjamin dia akan waras-waras saja. Bukan karena dia takut pada tiga pria yang menyayangi Lengkara, tapi Yudha sadar akan batas-batasnya.


Pelan-pelan, pria itu membawanya kembali ke kamar yang lain lantaran khawatir Lengkara terbangun dan marah besar. Tubuh sang kekasih terasa begitu ringan, apa mungkin karena dia menggendong Zean hingga begitu kentara bedanya.


"Sepi, syukurlah ... aku keluar di saat yang tepat sepert_"


"Yud."


"Ayaaaaaaammmmmm." Yudha mengatupkan bibirnya rapat-rapat, matanya membulat sempurna kala mendengar suara berat dari belakang.


"Apa yang kau lakukan?"


"Dia kenapa?"


"Ketiduran di kamarku, mau kupindahkan ...."


"Kau mencicilnya?" selidik Zean dengan mata yang membola, tatapan hiperbola yang membuat Yudha ingin mencongkel bola matanya.


"Sembarangan!! Lebih baik bantu aku, buka pintunya aku susah."


"Merepotkan."


Dia mengumpat, tapi tetap dibantu juga. Zean bahkan menunggu Yudha menyelimuti Lengkara dengan penuh kasih sayang, agak mual sebenarnya. Namun, di sana Zean menangkap ketulusan dan yakin jika Lengkara benar-benar jatuh pada pria yang tepat.


"Jangan pernah sakiti dia, Yudha ... kau kebahagiaannya, dia tidak pernah jatuh cinta sedalam itu sebelumnya."


Ini adalah pembicaraan dua pria dewasa tentang wanitanya. Esok hari mungkin Lengkara akan marah mengetahui jika sudah tidur di tempat yang berbeda. Keduanya berlalu segera, khawatir jika kurang tidur karena bisa dipastikan alarm sahur akan berbunyi lebih cepat juga seperti tahun sebelumnya.


.


.


Sesuai dugaan Yudha, keesokan hari Lengkara benar-benar diam. Setelah sahur, dan pagi-pagi mereka bertatap muka Lengkara tampak murung seperti memiliki tagihan hutang yang tidak dapat dia selesaikan.


Zean memahami, sementara keluarga yang lain tentu saja bingung sendiri. Bahkan ketika mereka pamit pulang, Lengkara naik ke mobil Zean agar tidak berdekatan dengan Yudha.


"Hadueh belum juga menikah ... kalau sudah menikah nanti gimana?"


"Udah diem, cerewet banget sih jadi laki-laki," ketus Lengkara mendelik tajam ke arah Zean yang merasa tidak salah apa-apa.


"Makanya jangan agresif, pacarmu takut."


"Heeh jaga mulutnya ya."


"Balik sana, selesaikan masalah kalian ... jangan bawa aura keributan ke keluargaku, sana."


Baru dengan kalimat itu, Lengkara mengalah dan kembali ke bergabung dengan papanya dimana Yudha menjadi supir sementara. Tentu saja kesempataan itu, Yudha gunakan untuk mengajaknya bicara.


"Maaf, Sayang ... aku belum siap."


"Ngok!!"


Tanpa mereka sadar jika tingkah kekanakan semacam itu disaksikan keluarganya. Bahkan, Lengkara yang tengah menirukan suara hewan yang paling Zean takuti itu sampai ke telinga Sean.


"Hahaha yang itu tolong turunkan saja di hutan belantara, Yud ... sepertinya terpisah dari rombongannya."


"Iya benar, Sean coba periksa uangmu nanti, khawatir sudah Lengkara kuras semalam," sambung Zean yang semakin membuat panas keadaaan.


"Sean, Zean!! Maksud kalian apa? Hah?" tantang Mikhail yang sudah berkacak pinggang lantaran tak terima putrinya dianggap b4bi, atau mungkin silumannya.


.


.


- Edisi Yudha - Lengkara -