
Suasana di dalam kediaman Rassam setiap malam selalu terlihat sepi,Aaron melangkahkan kakinya sepelan mungkin.
"Hanya lebih lima menit,gak apa apa kan?" Guman Aaron dan dia berlari kecil agar cepat sampai di kamar.
Aaron sudah di depan pintu kamar dia menghirup nafasnya dalam dalam,bersiap akan apapun dengan kemungkinan yang terjadi jika Sora memarahinya.
"Klek."
Aaron menutup nya kembali setelah membuka pintu kamar.
Lampu kamar sudah di matikan,hanya penerangan lampu meja yang sekarang menerangi kamar.
Aaron membuka lebar matanya dan menyusuri setiap sudut kamar mencari keberadaan Sora.
Terlihat gundukan di atas tempat tidur,dan Aaron pun mendekati tempat tidur mengintip apakah Sora sudah terlelap dalam tidurnya atau belum.
"Huft."
"Ternyata dia sudah tidur."
"Aku pikir dia bener bener menungguku." Batin Aaron.
Aaron segera membersihkan dirinya, setelah selesai dia naik ke tempat tidur dan berbaring dengan memeluk Sora dengan erat.
***
"Tak tok tak tok."
Suara langkah kaki seorang wanita yang memakai high heel dengan terburu buru.
Sekretaris Aaron yang melihatnya segera berlari dan mencoba untuk menghentikannya.
"Nona!"
"Tolong berhenti!"
Wanita itu berhenti dan memutar tubuhnya,memperlihatkan wajah yang sedikit kesal.
"Maaf nona anda tak bisa masuk kesana"
"Hah kenapa?"
"Apakah kau tak tau jika presdirmu sedang menungguku."
"Maaf nona menurut jadwal yang ada pak Aaron sebentar lagi akan rapat dengan tuan Justo,pemilik dari RJ Oxford hotel."
"Leah!"
Fredy memanggil sedikit keras untuk menghentikan perkataan sekretaris Aaron.
"Kau kembalilah bekerja."
"Baik pak." Ucap sekretaris itu tanpa membantah sedikitpun,dan berjalan menuju mejanya kembali.
"Nona Reyna,maaf atas kesalah pahaman barusan."
"Saya sedikit terlambat mengetahui pesan dari tuan Justo."
"Silakan anda masuk,tuan muda sudah menunggu"
Ucap Fredy dengan mengangkat satu tangannya mempersilakan untuk berjalan duluan.
...
Fredy membukakan pintu,dan Reyna segera masuk.
Kedatangan Reyna membuat tubuh Aaron mematung,menatap Reyna dari atas ke bawah,merasa tak percaya dengan penampilannya yang sekarang benar benar terlihat seperti wanita.
"Apa kau salah minum obat?" Ucapan pertama Aaron setelah menatap Reyna.
Mendengar ucapan Aaron Reyna berjalan pelan dengan anggun,dan saat di depan Aaron tanpa banyak bicara langsung mengambil dokumen yang berada di atas meja dan memukul lengan Aaron dengan keras.
"Hei!!"
"Kau ini!!
Aaron mengambil dokumen yang dipegang Reyna dan menarik tangannya agar berhenti,namun hal itu membuat Reyna tak dapat berdiri dengan benar dan terjatuh di atas tubuh Aaron yang duduk di kursi.
...
"Jean,apa kau sudah menyelesaikan dokumen proyek Phelps?" Tanya Zain dari telpon kabel.
"Sudah."
"Aku tinggal meminta tanda tangan pak Aaron." Jawab Jean.
"Baik,segera kamu selesaikan,karna sebelum jam sepuluh aku harus mengirimnya."
Setelah itu Zain menutup telponnya.
"Hah."
"Pak Zain...,tut tut tut." Jean jadi kesal Zain menutup telponnya,lalu melihat jam di dinding.
"lima belas menit lagi."
"Sekarang kan Aaron sedang rapat."
"Hisszz nyebelin banget deh."
Jean berpikir cepat dan menekan tombol telpon kabel.
"Leah,apa pak Aaron sudah mulai rapat?"
Tanya Jean.
"Belom sih,orang dari RJ Oxford belum datang." Jawab Leah,sekretaris Aaron.
"Maaf Jean nanti kita bicara lagi."
Leah buru buru menutup telponnya ketika melihat seorang wanita yang berjalan terburu buru ke arah ruangan Aaron.
Dia berdiri dan berlari kecil,lalu sedikit berteriak untuk menghentikannya.
"Nona!"
"Tolong berhenti!"
...
Jean berjalan dengan terburu buru ke arah pintu ruangan Aaron,tanpa mengetuk pintu dia langsung membukanya.
Semua mata memandang ke arah Jean saat dokumen yang di bawanya jatuh satu persatu.
Jean mematung sesaat melihat adegan Aaron bermesraan dengan seorang wanita.
"Maaf pak Aaron ada yang harus anda tanda tangani." Ucap Jean begitu tersadar dari penglihatannya yang membuatnya tak percaya.
Aaron segera mendorong pelan Reyna yang berada di atas tubuhnya akibat perkelahian kecil mereka,Aaron mengangguk lalu menandatangani dokumen yang di bawa Jean.
"Klek."
Jean menutup pintu dengan pelan ketika keluar dari ruangan Aaron.
"Gila,apa aku salah lihat,ternyata gunung es itu bisa deket sama wanita lain?"
"Awas aja ya,kalau selingkuh dari Sora."
Jean berjalan dengan perasaan kesal.
...
"Rey,apa orang tua itu masih marah padaku?" Tanya Aaron.
Reyna hanya mengangkat bahunya,lalu memulai perkataan.
"Ok,kita mulai rapatnya."
"Ron kakek akan menjual sepuluh persen sahamnya,tapi.."
Tanpa melanjutkan bicaranya Reyna tersenyum.
"Dia mengajukan syarat untukmu."
"Aku menolaknya." Jawab Aaron tanya berpikir panjang dan melipat tangannya di dada.
"Plak"
Reyna melempar tasnya ke arah Aaron.
"Apa sih susahnya dengerin aku ngomong." Teriak Reyna.
Aaron kaget dengan tas yang melayang mengenai kepalanya.
"Rey!"
"Aku pikir penampilan kamu berubah,maka sikap kamu juga berubah."
"Ternyata kamu masih bar bar seperti dulu." Ucap Aaron sambil mengusap usap kepalanya.
Reyna melotot dan berkacak pinggang dengan ucapan Aaron.
"Ok,ok,apa maunya pak tua itu." Ucap Aaron.
"Kakek ingin aku bekerja di perusahaanmu." Jawab Reyna.
"Hanya itu?"
Reyna mengangguk dengan jawabannya.
"Baik aku akan setujui,mulai besok kamu bekerja di kantor utama."
"Ron!!"
Teriak Reyna dan berdiri dari duduknya.
"Kantor utama ada di negara M,kakek ingin aku bekerja di sini." Terang Reyna dan duduk kembali dengan kesal.
Aaron mendekati Reyna,membungkukkan badannya dan menatap Reyna dengan tajam.
"Rey,aku tau jalan pikiran pak tua itu."
"Dia masih gigih satuin kita."
"Aku beri tahu ya,aku sudah menikah,dan aku mencintai istriku,satu lagi,istriku saat ini sedang hamil." Ucap Aaron dengan tegas.
Mendengar perkataan Aaron,Reyna memasang wajah yang serius dan menarik dasi Aaron,dan semakin mendekatkan wajahnya.
"Kau pikir aku akan terus mengejarmu." Bisik Reyna.
"Sebagai teman aku hanya ingin membantumu."
Reyna mendorong Aaron dengan kasar dan melepaskannya.
"Kudengar seseorang berusaha mengambil perusahaanmu."
"Jika kakek menjual sepuluh persen sahamnya,perusahaanmu takkan ter akusisi."
"Jika aku bekerja di sampingmu,kau tak akan rugi kan?" Ucap Reyna.
Aaron diam memandang Reyna dengan dingin.
"Ok,aku setuju."
"Tapi kau jangan macam macam terhadapku."
"Jika kau punya rencana untuk menganggu pernikahanku,aku tak akan sungkan untuk membalasnya." Ancam Aaron.
Reyna tersulut emosi saat mendengar perkataan Aaron,kali ini dia menarik kerah baju Aaron.
"Jika kau tak sungkan membalasku,lebih baik dulu ku biarkan kau mati."
Setelah mendengar perkataan Reyna Aaron hanya tersenyum.
"Hei,aku hanya bercanda kok."
"Rey,jangan sia siakan penampilanmu yang seperti ini,percuma kan jika kau masih bar bar." Sambil berucap Aaron menepuk bahu Reyna dan tersenyum.
Reyna melepaskan cengkeramannya dan mendorong Aaron sekali lagi dengan kasar.
"Aku mengampunimu,tapi ingat kau masih berutang padaku." Ucap Reyna.
"Aku anggap kau setuju keputusan kakek."
"Sekarang kau tanda tangani."
Akhirnya mereka sepakat dan menandatangani kepemilikan saham,setelah selesai Reyna pergi meninggalkan perusahaan M.