Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
85. Kejutan


Jam menunjukkan pukul lima.


Aaron menutup laptop nya dan berdiri dari kursinya,berjalan dengan cepat meninggalkan perusahaan dan pulang ke kediaman Rassam.


Aaron melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh,ada perasaan tak sabar untuk segera bertemu dengan Sora.


Setelah beberapa menit mobil sudah memasuki pekarangan rumah utama.


Aaron membuka pintu mobil,dan sudah di sambut Sora di depan pintu.


Aaron menyambutnya dengan pelukan dan ciuman di kening Sora.


"Apa kau sudah lama berdiri di sini." Tanya Aaron.


Sora hanya menggeleng dan di iringi dengan senyuman di bibirnya.


Setelah melepaskan pelukannya Aaron meraih telapak tangan Sora dan menggandengnya berjalan menuju kamar mereka.


"Klek."


Sora menutup pintu kamarnya,dan mengikuti Aaron yang berjalan ke arah ruangan pakaian.


Setelah Sora membantu melepaskan jas ,Aaron memegang kedua bahu Sora dan menyapu setiap inci wajah Sora dengan matanya yang tajam.


"Sayang kenapa dari tadi kamu diam?"


"Apa kamu merasa gak enak badan?"


Aaron bertanya untuk memastikan.


"Enggak,aku gak apa apa."


"Mm..sayang apa kau ingin aku mandiin?"


Aaron menaikkan satu alisnya,tak percaya dengan apa yang barusan Sora ucapkan.


"Kamu..mau..mandiin..aku..?"


Tanya Aaron memastikan,yang masih tak percaya dengan pendengarannya.


"Iya."


"Kamu gak mau?" Sora balik bertanya.


Aaron tersenyum lalu mendekatkan mulutnya di telinga Sora dan berbisik.


"Jika itu yang kamu inginkan aku gak akan menolak,tapi setelah kamu mandiin aku,gantian aku yang mandiin kamu."


"Apaan sih,aku kan bisa mandi sendiri." Ucap Sora.


"Oo gitu..."


"Kamu ingin mandiin aku."


"Tapi kamunya gak mau aku mandiin."


"Kalau gitu sih,aku mandi sendiri aja."


Ucap Aaron dengan kesal,dan berjalan meninggalkan Sora.


"Eh sayang kok marah sih,maksud aku bukan begitu.."


"Sayang..."


Sora mengejar Aaron dan berusaha menjelaskan.


...


Sora beberapa kali melirik Aaron yang duduk di sofa kamar dan masih sibuk memainkan jarinya di layar tab.


Di atas tempat tidur Sora membalikkan sedikit demi sedikit lembar novel yang dia baca.


Sora masih memikirkan kejadian tadi sore yang membuat Aaron tak berbicara padanya hingga malam.


"Dia beneran marah ya."


"Bilang apa tidak ya." Batin Sora.


Melihat Aaron yang mematikan tab nya dan berdiri,Sora segera menutup novelnya dan merebahkan tubuhnya lalu memutar ke samping dan memejamkan matanya.


Aaron berjalan ke tempat tidur,menyusupkan tangannya di leher Sora dan memeluk Sora dari belakang.


"Sayang bukankah tadi kau ingin berbicara denganku." Ucap Aaron yang berbisik sambil terpejam.


Sora membuka matanya dan memutar tubuhnya menghadap Aaron.


"Kamu gak marah?"


"Marah?"


"Kenapa aku marah dengan kamu?"


Aaron sedikit memundurkan kepalanya untuk melihat wajah Sora.


"Bukankah tadi saat mau mandi..." Sora menghentikan ucapannya dan segera mengganti topik pembicaraan.


"Emm..,sayang aku ingin bilang ke kamu kalau aku ingin bekerja lagi di perusahaanmu." Ucap Sora dengan perlahan.


"Kerja lagi?" Aaron memastikan apa yang dia dengar.


"Iya."


"Aku sangat bosan berada di rumah."


"Enggak boleh,kamu sedang hamil,kamu harus istirahat di rumah."


"Tapi sayang..."


"Sayang kamu lebih aman jika berada di rumah,aku gak mau sesuatu terjadi lagi


dengan kamu."


"Sayang,kali ini kamu harus patuh ya.


Ucap Aaron sambil membelai rambut Sora.


Sora hanya bisa terdiam tanpa bisa membalas ucapan Aaron.


"Sekarang tidurlah."


"Aku akan mengijinkan kamu kembali bekerja."


"Ah benarkah." Ucap Sora yang senang setelah mendengarnya.


"Jika kamu sudah melahirkan si kembar." Ucap Aaron dengan tersenyum tipis.


"Sudah."


"Sayang kamu harus dengerin suamimu bicara."


Aaron menenggelamkan kepala Sora di dadanya yang bidang,dan mempererat pelukannya.


***


"Non...,sudah biar bibi aja yang masak."


"Udah bi gak apa apa,Sora bisa kok masak."


Namun tak semudah yang di lakukan,Sora bersiap memasukkan ikan yang akan di goreng.


"Pletok pletok pletok."


Suara minyak goreng yang tercampur dengan butiran air.


"Aduh... non bibi aja ya."


"Hii ya udah bi kamu aja,suaranya nyeremin."


"Kok bisa gitu sih bi?"


"Itu sih karna wajannya belum kering,non Sora udah ngasih minyak duluan."


Terang bi kana.


"Ooo."


"Non Sora nunggu aja di sana,biar bibi yang masakin." Ucap bi kana sambil menunjuk meja makan.


"Enggak bi,Sora nunggu di sini aja."


"Ya udah terserah non aja."


"Bi masaknya jangan pedes pedes ya,Aaron gak terlalu suka pedas."


"Iya non."


...


"Sudah selesai."


"Makasih ya bi." Ucap Sora.


"Iya non."


Sora memasukkan beberapa lauk dan nasi di dalam rantang,siang ini dia ingin ke kantor Aaron dan memberi kejutan untuknya.


Sora melihat jam di dinding,satu jam lagi istirahat siang,dia meraih rantang dan membawanya lalu berlari kecil menuju mobil.


Sejak kejadian yang menimpa Sora,Aaron tak mengijinkan Sora untuk berkendara sendirian.


Pak Chow di depan rumah sudah siap untuk mengantarkan Sora ke manapun yang dia mau.


"Pak Chow,antar aku ke kantor Aaron."


"Baik bu."


***


Hari ini hari pertama Reyna bekerja di kantor Aaron.


Reyna yang sudah berpengalaman bekerja di perusahaan kakekny tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengerti tentang pekerjaannya.


"Brukk."


Reyna melempar dokumen di meja Aaron.


Aaron yang kaget segera melihat siapa yang melakukannya.


"Rey!"


"Aku ini bos mu,apa kau tak bisa sopan sedikit."


Aaron mengambil dokumen itu.


"Apa ini."


"Bukalah,kau akan tau." Ucap Reyna.


Dengan wajah serius Aaron membukanya.


"Apa kau yakin?"


"Kau bisa melihat ada beberapa hal yang seharusnya kau perhatikan."


"Sebelum proyek itu di selesaikan kau harus segera mengeceknya."


Tak menunggu lama Aaron meminta Fredy untuk segera melakukan perintahnya.


Reyna mengambil dokumen yang tadi dia lempar di meja Aaron dan berjalan dengan sombongnya ke arah pintu.


"Rey."


Panggil Aaron yang sudah berdiri di samping meja.


Reyna memutar tubuhnya dan menatap Aaron.


"Terimakasih." Ucap Aaron singkat.


Reyna tersenyum,dan melangkah menuju Aaron lalu kedua tangan Reyna merapikan dasi Aaron dan menarik Aaron dengan tiba tiba,hanya berjarak beberapa inci saja wajah mereka.


"Apa kau masih tak percaya denganku?" Ucap Reyna memperlihatkan wajah seriusnya.


Aaron tersenyum.


"Aku percaya padamu,tapi tidak dengan pak tua itu."


"Kleek."


Aaron dan Reyna menengok kepalanya ke arah pintu yang terbuka.


"Prank."


Rantang terjatuh dari tangan Sora yang tak sengaja melihat kedekatan Aaron dengan Reyna.


Sora terdiam,tenggelam dengan penglihatannya bahwa ada seorang wanita yang sedang menyentuh Aaron,matanya percaya tapi hatinya membantah untuk tak percaya,Sora memutar tubuhnya dan berlari meninggalkan kantor Aaron.


Menyadari situasi itu Aaron mendorong Reyna dan berlari mengejar Sora.