Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 156 - Dalam Dekapmu ~ Tamat


Tiba di rumah, keadaan sudah tampak sepi. Padahal belum terlalu larut, tapi memang anak-anak sudah tidur. Begitu juga dengan abi dan uminya, mungkin terlalu lelah dan bosan jika menunggu hingga mereka memilih tidur lebih dulu.


Tidak masalah, toh keluarga sang suami masih akan tetap berada di Bandung hingga lusa. Sementara Sean memastikan keluarganya beristirahat, Zalina memandangi cincin yang tersemat di jemarinya.


Matanya kembali mengembun, Zalina tidak pernah menduga Sean akan melakukan hal semacam ini. Dilamar dengan janji sehidup sesurga, bagaimana mungkin Zalina bisa lupa.


Zalina menggeleng seketika, jika terus begini mungkin sampai pagi akan terus merenung di depan lemari. Padahal, niatnya tadi hendak ganti baju, tapi terhenti kala mengingat memori di bianglala bersama sang suami.


"Pakai yang mana ya? Ehm mas Sean suka aku pakai_ tunggu, bukankah aku melupakan sesuatu?"


Benar, Zalina lupa perihal kejutan yang dahulu hendak dia berikan pada Sean. Bahkan, barang yang sempat dia beli itu masih tersimpan rapat di dalam lemari.


Bukan karena baru saja diberi cincin dia berniat membahagiakan hati Sean, tapi memang dia sempat berjanji pada diri sendiri kala itu. Lagi pula, Sean sempat meminta Zalina agar sedikit lebih romantis, agaknya tidak salah jika malam ini dia berkamuflase menjadi seorang penggoda.


Sama halnya seperti malam pertama menggoda Sean, dia benar-benar melakukan niatnya dengan matang. Tidak lupa dia mengoleskan wewangian favorit Sean, sedikit sentuhan make up tipis karena memang bibirnya tampak pucat jika dilihat dari kaca.


"Perfect."


Zalina memuji dirinya untuk pertama kali. Wanita itu mengelus pelan perutnya yang belum terlalu kentara dan warna kulit yang begitu kontras dengan lingerie warna hitam itu membuat tubuhnya terlihat seksi, tepatnya sangat seksi.


Cukup lama Zalina menunggu, entah sedang apa sang suami di luar sana. Padahal, janjinya hanya memastikan semua tidur dengan baik, tapi Zalina justru dibuat menunggu cukup lama.


"Mas Sean kemana ya? Apa ketiduran di kamar anak-anak?"


Seketika dia lupa jika hanya menggunakan pakaian yang dahulu dia samakan dengan luaran kebaya. Tanpa pikir panjang, Zalina hendak meraih gagang pintu dan sudah memastikan tujuan untuk ke kamar sang buah hati.


"Zalina!!"


Tanpa terduga, di saat yang sama Sean membuka pintu dari luar. Tentu saja dia terperanjat kaget, mata sang suami dibuat membola seketika dengan mulut yang kini menganga.


Cepat-cepat Sean mengunci pintu dan meraih pinggang sang istri. Tidak dapat dibohongi, jantung Sean memang seakan berdetak dua kali lebih cepat saat berada di sisi Zalina, apalagi jika keadaannya sudah begini.


Matanya menatap sang istri penuh damba, Sean mendadak haus padahal sebelum naik dia sempat ke dapur untuk minum lebih dahulu. Tidak habis rasa kagum Sean, tubuh sang istri yang begitu terjaga begitu memanjakan matanya.


Meski beberapa kali Zalina mengatakan, setelah melahirkan dia tidak semulus dahulu, tapi untuk Sean sama sekali bukan masalah. Bagi seorang suami yang bersyukur, seorang wanita akan tetap sempurna.


"Kamu menungguku?" tanya Sean menarik sang istri semakin dekat hingga keduanya tak lagi berjarak.


Tanpa bicara, Zalina hanya mengangguk dan menghela napas panjang sebelum kemudian memulai rencananya. Sean sedikit terkejut, tapi bahagianya luar biasa kala Zalina mengalungkan tangan di lehernya sembari mengecup bibir Sean begitu lembut.


"Dalam rangka apa? Kamu tidak dipaksa Mbak Nia begini, Na?" Sean mengulum senyum, jujur dia sedikit bingung kenapa istrinya mendadak begini.


Zalina memang tidak sekaku itu sebenarnya, tapi jika dilihat dari modalnya malam ini seketika Sean mengingat kakak iparnya yang dia ketahui sebagai mentor istrinya.


"Tidak, aku sendiri yang mau ... mas tidak suka? Kalau tidak, aku lepas saja," ucapnya dengan makna lain dan tatapan menggoda yang membuat Sean semakin menggila.


"Woah mulai berani sekarang ya ... sepertinya kamu melupakan sesuatu."


Sean melangkah pelan sementara Zalina perlahan mundur kala menyadari nada bicara Sean sedikit berbeda. Padahal beberapa saat lalu dia benar-benar bermaksud ingin menggoda dan kini tiba-tiba bergidik ngeri.


"Ma-maksud mas apa?" tanya Zalina kala kakinya membentur tepian tempat tidur, sorot tajam Sean seolah menegaskan jika Zalina membuat kesalahan.


"Melucuti pakaianmu adalah tugasku."


Zalina sontak memekik kala Sean mendorong tubuhnya ke tempat tidur. Sudah dia duga jika pakaian dinas yang sempat dia beli sepulang menemui Ana waktu itu hanya bertahan beberapa menit di tubuhnya. Bahkan, waktu Sean merobeknya lebih cepat dibandingkan waktu yang dibutuhkan untuk Zalina memakainya.


Kembali setelah bertahun pergi, kamar ini menjadi saksi penyatuan mereka. Setelah dahulu dinding kamar hanya mendengar isakan tangis Zalina dalam kesendirian, kini dessahan dan rintihan kedua insan yang saling mencintai menghiasi kamar remang-remang itu.


"Aku mencintaimu, Mas," ungkap Zalina sembari mengecup kening sang suami yang saat ini masih terengah-engah dalam dekapannya.


"Aku tahu," jawab Sean seketika membuat raut wajah Zalina berubah, padahal untuk mengucapkan kalimat itu bukan hal mudah baginya.


"Mas kok jawabnya cuma begitu?"


Sean hanya tertawa sumbang, dengan sisa tenaga dan susah payah menahan kantuknya Sean mengangkat wajah dan menatap sang istri yang agaknya kecewa mendekat jawabannya.


"Mas bahkan mencintaimu lebih dari yang kamu tahu, Zalina ... selamanya, dan tidak akan berakhir," ucapnya sebelum kemudian menghujani wajah sang istri dengan kecupan. Sama sekali bukan dusta, dia memang benar-benar cinta.


.


.


- Tamat -


Untuk beberapa hal yang belum tuntas seperti Satria dan nasib teman-teman Sean nanti aku tulis di Extra Part ya, dan tentu saja keseruan ini belum berakhir jadi tungguin ya.