Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Hadiah pizza.


Sore harinya.


Keyla tampak berbaring di sofa ruang tamu sembari menonton televisi. Tak ada yang layak di tonton di televisi, semuanya hanyalah gosip semata. Ia sangat bosan, mau tidur tapi ia sudah tidur beberapa jam yang lalu. Mau makan cemilan, tapi tidak ada makanan ringan di dapur, hanya ada salad buah, buah-buahan. Ia ingin makan makanan ringan.


"Ha, lama sekali dia pulang." Keyla bahkan tak tahu apa pekerjaan suaminya. Tapi sepertinya laki-laki yang menjadi suaminya itu orang kaya, terbukti mereka mempunyai pesawat pribadi. Alan saja yang menurutnya kaya tak punya pesawat pribadi.


Ceklek.


Terdengar suara pintu terbuka, Keyla langsung berdiri.


"Assalamualaikum," ucap Rafka memberikan salam lalu menutup kembali pintu. Tampak di tangannya ia membawa satu kantong plastik.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh," jawab Keyla mendekat lalu menyalim suaminya. Eh, ia refleks bergerak dan menyambut suaminya. Aneh sekali, pikir Keyla.


"Kau sudah makan?" tanya Rafka berjalan menuju kamar.


"Makan nasi sudah, aku menghabiskan sisa asam pedas nya. Aku lapar, habisnya di sini tidak ada makanan ringan. Kan aku bosan, aku ingin makan sesuatu." Keyla mulai mengeluarkan unek-unek di kepalanya.


"Makanlah," ucap Rafka memberikan kantong plastik yang ia bawa pada Keyla.


"Apa ini?" tanya Keyla menerima kantong plastik. Di bukannya kantong plastik itu dan ternyata ada pizza serta kripik ukuran jumbo. Ia sangat senang.


"Terimakasih," ucap Keyla tersenyum senang mendapatkan hadiah kecil dari suaminya. Entah mengapa ia sangat senang, padahal itu hanyalah makanan yang bahkan sering ia makan dulunya.


"Hm, sama-sama. Makanlah semampu mu, kalau tak habis taruh saja di atas meja. Kalau habis, buang bungkusnya di tong sampah, aku tak ingin apartemen ini berantakan." Keyla tampak mengangguk lalu pergi ke ruang tamu untuk makan pizza. Ia akan mengenyangkan perutnya.


Di dalam kamar mandi, Rafka tampak membasahi kepalanya. Hari ini pasiennya banyak sekali dan rata-rata lansia. Mereka mengeluhkan mengapa mata mereka bisa terkena katarak padahal sudah pernah operasi katarak sebelumnya.


Dengan sabar ia harus menjelaskan bahwa jika sudah operasi katarak maka itu pandai-pandai kita menjaganya agar tidak terkena lagi. Karena operasi katarak hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup.


Yah yang namanya orang tua, ketika di jelaskan malah banyak bercerita membuat Rafka harus memiliki stok sabar yang besar.


Setelah selesai mandi, Rafka mengganti pakaiannya. Ia memakai kaos lengan pendek berwarna putih dan celana pendek warna hitam. Sekarang masih jam 5 sore, ia memilih pergi keluar kamar dan melihat makan apa ia nanti malam.


Di lihatnya sekilas ke arah Keyla yang masih menyantap pizza dan keripik. Ia sengaja membeli itu karena memang ia tak menyediakan cemilan di apartemen. Ia tak suka makanan tak sehat. Jadi, karena memikirkan ia mengurung manusia di dalam apartemen ia pun membelikan makanan itu.


"Kau tidak mau pizza?" tanya Keyla sembari mengangkat sepotong pizza yang ada di tangannya.


Rafka tampak menggeleng lalu membuka lemari pendingin.


Sepertinya ia ingin makan telur mata sapi balado. Itu pasti sangat enak, membayangkan itu Rafka mendadak jadi lapar.


"Kau ingin memasak apa?" tanya Keyla.


"Telur," jawab Rafka mengeluarkan 4 butir telur.


"Diapakan?" tanya Keyla.


"Di goreng setengah matang lalu di balado," jawab Rafka.


Tampak Keyla berjalan ke dapur sembari masih memakan pizza nya.


"Biar ku masak saja," ucap Keyla sembari mengunyah. Rafka membalikkan badannya lalu menatap istrinya itu.


"Duduklah kalau sedang makan."


"Iya iya, yasudah biar aku masak saja. Kau duduklah di kamar atau di manapun itu. Kau kan lelah," kata Keyla.


"Memangnya kau bisa memasak?" tanya Rafka meragukan Keyla.


"Kau tau....


"Tidak," jawab Rafka memotong ucapan Keyla.


"Hais, aku belum selesai bicara. Aku ini pandai memasak, kau akan tergila-gila dengan masakan ku, lihat saja nanti." Keyla sedang membanggakan dirinya.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Telurnya harus bulat sempurna dan kuningnya jangan matang, ketika kau mencampurnya dengan cabe, telurnya harus tetap rapi." Keyla tampak terdiam, ini memasak atau sedang ujian.


"Baiklah," jawab Keyla menyanggupi.


"Kalau tidak enak, kau harus menghabiskan nya tanpa sisa." Rafka berjalan menuju kamar meninggalkan Keyla yang sedang mengatur nafas. Bagaimana bisa ia menawarkan diri untuk memasak. Sugesti apa tadi itu, ia tiba-tiba menjadi bersemangat berhadapan dengan suaminya. Jangan bilang ini semua karena pizza.


*****


21.00


Sudah jam sembilan malam tapi Rafka belum juga makan. Ia masih sibuk dengan laptopnya.


"Kau tidak makan?" tanya Keyla mendekat ke arah Rafka. Apa karena Keyla yang memasak laki-laki itu tak mau makan. Ia kan tak memberikan racun di sana.


"Sebentar lagi," jawab Rafka masih sibuk dengan laptopnya.


"Hm, tapi jangan bergerak menggangguku," jawab Rafka membuat Keyla senang.


"Baiklah, aku tidak akan bergerak dan mengganggu mu."


Tampak Rafka menghela nafas panjang lalu memijit pelipisnya. "Kau sakit kepala? Sini biar ku pijit," tawar Keyla memegang kepala Rafka lalu memijit nya dengan pelan. Rambut Rafka terasa halus di tangannya, dan juga wanginya membuat Keyla rileks.


"Sudahi dulu kerja mu dan makanlah lalu istirahat, jangan terlalu di paksakan." Mendadak Keyla menjadi manis sekali. Entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu, tapi kelihatannya ia melakukan itu dengan tulus. Rafka pun tampak menikmati pijatan Keyla yang membuat ia rileks sejenak.


"Mau ku bawakan makanan nya kemari?" tanya Keyla.


"Tidak perlu, nanti akan ku ambil sendiri." Rafka tampak memegang tangan Keyla pertanda Keyla sudah bisa menghentikan pijatannya.


"Aku ingin tidur," lanjutnya menutup laptop lalu pergi ke kamar mandi.


"Lalu bagaimana dengan makan nya?" tanya Keyla. Sebenarnya ada rasa sedikit kecewa karena Rafka belum memakan masakan nya. Ia kan sudah sangat teliti tadi.


Beberapa menit kemudian, Rafka tampak keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju ranjang. Tampak di sana Keyla sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memangnya apa yang bisa ia lakukan sekarang selain rebahan.


"Kau tidak mau makan? Aku sudah memasak tadi. Apa karena aku memasak kau tidak mau makan?" tanya Keyla masih membahas makanan.


"Aku akan makan nanti," jawab Rafka naik ke ranjang lalu membaringkan tubuhnya. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Keyla. Jarak mereka lumayan jauh karena kasur itu sangat besar hingga untuk dua orang yang sedang jaga jarak akan sangat bagus digunakan.


"Kapan itu? Aku merasa sedih karena kau tak mau memakan masakan ku." Keyla tak mau menyerah. Ia sudah susah payah menata makanan agar rapi sesuai permintaan Rafka tadi.


"Aku hanya tidur sebentar, nanti sekitaran jam 10 aku akan bangun lagi lalu makan."


"Memangnya kau biasa seperti itu?" tanya Keyla menghadapkan badannya ke arah Rafka yang membelakangi nya.


"Hm."


"Baiklah, besok aku akan melihat piring nya sudah kosong. Oh ya, jangan lupa di rekam yah. Aku tak mau kau membuangnya," ucap Keyla.


"Iya."


"Kemari kan tangan mu," pinta Keyla mengangkat tangannya dan menunjukkan jari kelingkingnya.


"Aku mau tidur," ucap Rafka pelan.


"Janji dulu, kemari kan dulu tangan mu." Rafka tampak membalikkan badannya lalu menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Keyla.


"Janji," ucap mereka serentak membuat Keyla tertawa kecil.


"Sudah, aku mau tidur." Rafka kembali membalikkan badannya dan membelakangi Keyla.


"Oke, selamat malam."


"Malam."


Klik. Lampu di matikan dan hanya tersisa lampu tidur saja. Biasanya Keyla tidak bisa tidur di jam awal seperti ini, tapi karena tak ada kerjaan lain. Ia hanya bisa tidur, makan dan tidur.


Semoga mimpi indah °_°


_


_


_


_


_


_


_


_


ada yang mau author up lagi hari ini?


kalau ada jangan lupa like dan komen yah🙂


Yang gak suka silahkan tinggalkan tanpa jejak, gak usah berkoar-koar kalau kalian gak suka😁 jadilah pembaca yang bijak😊


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.