
"Pluk."
Sora melempar ke samping ponselnya dengan kesal,sudah beberapa kali dia menelepon Aaron namun tak di angkat.
"Ma,apa mama dulu seperti aku,yang hanya bisa menunggu suami pulang."
"Emm." Jawab singkat mamanya yang masih fokus dengan beberapa perhiasan yang ada di depannya.
"Maaa."
"Denger Sora ngomong gak sih?"
Ucap Sora yang sedikit kesal merasa tak dengar.
Olivia meletakkan perhiasan yang dia pegang,memutar kepalanya dan menatap Sora.
"Sayang mama dulu seorang wanita karier,saat mama hamil kamu,mama juga masih kerja."
"Saat itu perusahaan kakek membuka cabang di beberapa tempat,jadi papa dan mama kerja keras agar semua berjalan lancar." Terang Olivia sambil membelai lembut rambut Sora.
"Dan kamu lihatkan,sekarang kita menikmati hasil kerja keras yang dulu mama papa kerjakan."
"Udah dong sayang kamu gak usah marah jika Aaron tak mengangkat telpon kamu."
Sora terdiam,memikirkan perkataan mamanya.
"Apa aku kembali bekerja aja ya." Batin Sora.
Sora mengambil ponsel yang dia lempar di sofa lalu menekan layar ponsel dan menelepon Jean.
Dan setelah terhubung..
"Jean." Panggil Sora.
"Sora?"
"Kamu kok kaget,Jean." Tanya Sora yang sedikit penasaran.
"Enggak Ra..,aku pikir kamu Zain Ernest."
"Dari tadi dia selalu meneleponku dan selalu menanyakan laporan yang ku buat."
"Mm beneran?"
"Iya Ra.."
"Kalau kamu gak percaya telpon aja suami kamu..."
"Jean...,hiks.."
"Ra ada apa,kenapa kamu nangis." Ucap Jean yang panik mendengar suara tangisan Sora.
"Aku udah telpon Aaron berkali kali,tapi gak dia angkat...hiks."
Terlihat wajah Jean yang bimbang.
"Aduh...aku critain gak ya,apa yang ku lihat tadi." Batin Jean.
"Jean!!"
"Kamu kok diem."
"Kamu tau Aaron lagi ngapain kan?"
"Iya Ra..,tadi dia lagi meeting."
"Kenapa kamu sekarang cengeng banget sih."
"Dulu Sora yang aku kenal gak gini gini amat deh."
"Tau nih,bawaan bayi kali."
"Oke oke kalo itu aku gak bisa ngomong lagi." Jawab Jean.
"Jean,saat Aaron gak angkat telponku aku sempat berpikir.
"Mikir apaan sih Ra,serius banget."
"Sudah aku putuskan,aku akan kembali bekerja." Ucap Sora dengan mantap."
"What!"
"Kamu gila ya?"
"Kamu kan lagi hamil,lagian gak mungkin lah Aaron ngijinin kamu."
"Kamu kan juga barusan pulih Ra."
"Aku gak peduli Jean."
"Capek ah kalau aku harus nungguin dia pulang kerja setiap hari."
"Bukankah setelah nikah kamu di suruh kakek untuk mengurusi perusahan keluargamu?"
"Mereka belum terlalu membutuhkan aku sih Jean,ada kakek ayah dan ibu."
"Ra,aku senang jika kau kembali bekerja di sini."
"Apa Aaron akan setuju dengan keinginanmu?"
"Entahlah aku akan mencoba mencari cara."
"Oke deh terserah kamu aja."
"Kau jaga dirimu juga jaga keponakanku ya."
"Iya,makasih Jean aku sudah lumayan lega berbicara denganmu."
"Bye."
"Oke,bye juga."
Mereka menutup telponnya.
***
Aaron duduk terdiam di meja kantornya memandang gedung gedung tinggi di luar jendela dan tenggelam dalam pikirannya.
"Tuan muda." Panggil Fredy.
Pikiran Aaron buyar ketika Fredy memanggilnya.
"Tuan muda saya sudah mengurus pekerjaan nona Reyna."
"Dia akan menjabat menjadi manager."
"Hanya posisi itu yang sekarang kosong."
"Baik."
"Dan satu lagi tuan muda."
"Saya sudah mendapatkan informasi mengenai perusahaan fiktif itu."
"Menurut saya Eric menggunakan nama lain agar Alveshine tak terseret jika perusahaan itu bermasalah."
"Bisa jadi setelah dia bisa membeli separuh saham M grup,dan mereka berencana mengakusisinya,sudah pasti Alveshine akan mengambilnya.
"Aku mengerti."
"Bagaimana dengan Lucy Louvan?"
"Tak ada tindakan yang mencurigakan."
"Sampai sekarangpun Calista Alves masih di negara M."
"Atur perjalananku ke kantor pusat untuk dua hari."
"Kau urus yang di sini."
"Aku akan mengajak Leon."
"Baik tuan muda."
Begitu Fredy melangkah keluar dari ruangan,Aaron mengambil ponsel yang ada di saku jas nya.
"Ya Tuhan,enam belas panggilan."
Segera Aaron menelepon Sora.
"Hallo sayang,maaf ya tadi aku sedang rapat."
"Apa kau ingin sesuatu?"
"Gak,aku gak ingin apa apa."
"Apa kau lembur nanti malam?" Tanya Sora.
"Tidak,hari ini aku akan pulang tepat waktu."
"Baiklah,aku akan tutup telponnya."
"Sayang,tunggu."
Aaron menempelkan ponselnya kembali.
"Em ada apa?"
"Aku ingin berbicara denganmu saat kau sudah sampai di rumah." Ucap Sora.
"Baiklah,aku gak sabar untuk pulang."
"Aku tutup ya."
"Iya,muach."
Sora mengakhiri dengan ciuman dan Aaronpun menutup telponnya.
Aaron kembali menekan tombol di ponselnya dan menelpon Fredy.
"Fredy,batalkan makan malam dengan pak tua itu,aku harus pulang awal hari ini."
"Baik tuan muda." Jawab Fredy dari seberang telpon.
...
"Braakk."
Tubuh Jean tersontak,Zain memukul meja karna melihat Jean tenggelam dalam pemikirannya.
"Aah apaan sih pak Zain."
"Kalau aku kejang kejang karna kaget gimana?"
"Aku tuh udah manggil kamu berapa kali,kamu lihat kan aku masuk ruanganmu aja kamu gak tau."
"Iya iya pak,besok jangan ngagetin gitu lagi ah."
"Ada apa pak ke sini,apa ada masalah dengan dokumen tadi pagi?"
"Enggak ada masalah."
"Aku hanya ingin mengajakmu makan setelah pulang kerja."
"Hah makan?" Ucap Jean yang tak percaya dengan pendengarannya.
"Iya."
"Selama ini kan kamu udah bantu aku."
"Aku hanya ingin membalasnya aja dengan makan di luar."
"Hii,gila."
"Para gadis di perusahaan kan pada ribut mau deketin pak Zain,buat jadiin pacar mereka."
"Kalau mereka tahu aku keluar dengan pak Zain,pasti heboh deh."
Batin Jean yang ingin berteriak namun tak bersuara.
"Jean.."
"Gak usah banyak mikir deh."
"Eh maaf pak Zain,aku gak bisa.
"Aku ada keperluan sepulang kerja."
Zain terlihat kecewa,namun dia berusaha agar Jean mau keluar dengannya hari ini.
"Oke tak masalah, aku akan mengantarmu,setelah itu kita makan."
Ucap Zain setelah itu dia berlalu dan meninggalkan Jean dengan perasaan bingung dan kesal.
"Eh pak,pak Zain!"
"Iih apaan sih,udah ku bilang kan aku gak bisa."
"Hiiisszz nyebelin..." Gerutu Jean.
Jean kembali menatap layar komputernya,namun pikirannya masih saja teringat adegan Aaron yang memeluk wanita lain.
"Aduh kok aku masih kepikiran sih."
"Aku juga gak akan cerita ke Sora apa yang ku lihat tadi."
"Aku harus lu-pa-in."
Guman Jean sambil menghirup nafasnya dalam dalam,dan kembali menatap layar komputernya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
...
Kejadian tadi siang terbawa dalam pikiran Jean,di atas tempat tidur Jean bimbang antara memberitahu Sora ataukah hanya diam dan memperhatikan.
"Ah..,Sora maafin aku,aku takkan menyampaikan apa yang ku lihat tadi demi kebaikanmu,hiks." Guman Jean dengan perasaan bersalah.