
"Alpukat?"
"Iya ... mas tidak lupa, 'kan?"
Sejak kapan pesonanya kalah hanya karena buah itu. Sean menggigit bibir sebelum kemudian menghela napas panjang. Ingin dia katakan lupa sebenarnya, tapi melihat tatapan sendu Zalina mana mungkin dia tega.
"Tentu saja, mau makan sekarang?"
Tanpa menjawab, Zalina mengangguk cepat dan bangkit segera. Punggung polos Zalina yang terpampang jelas di hadapannya membuat Sean berdesir, belum juga sepuluh menit sesuatu dalam diri Sean kembali memanas.
"Mas, ayo cepat," pinta Zalina kesal sendiri lantaran Sean seakan tidak berniat untuk beranjak dari tempat tidur.
Ya, tentu saja dia sedikit enggan. Sejak dahulu Zalina ketahui, tempat favorit Sean memang di atas ranjang. Sementara kini Zalina memaksanya untuk turun demi alpukat yang sejak tadi siang dia idam-idamkan.
"Give me a kiss."
"Kan tadi sudah berkali-kali, Mas."
"Tenagaku habis, Na," lirih Sean seolah paling menderita, padahal yang lelah bukan hanya dirinya.
Beruntungnya, Zalina bukan wanita pembangkang dan menurut begitu saja. Sean hanya minta sekali, tapi Zalina memberinya berkali-kali. Awalnya Sean pikir dengan cara ini akan berhasil membuat Zalina luluh dan terperangkap untuk kedua kalinya.
Namun, sayangnya saat ini alpukat lebih menarik bagi Zalina. Melihat sang istri semangat sekali bahkan memunguti pakaian yang tadi Sean singkirkan membuat Sean merasa diduakan. Cemburu sekali sebenarnya, jika saja bukan karena sang istri mungkin buah itu akan dia buang saja.
Malam ini Sean sepertinya sangat bebas. Berharap sekali hujan tidak reda agar mertuanya tidak pulang, Sean telanjur bahagia dengan rumahnya yang kini sepi. Tidak lucu jika adegan mesra di dapur ini tertangkap basah kiyai Husain, cukup tadi Zalina yang merasakan malu.
Momen semacam ini sangat langka, bahkan hampir tidak pernah. Terlebih lagi sejak awal Sean bebas Zalina sama sekali tidak pernah memeluknya selain di dalam kamar. Jelas alasannya karena tidak bebas, bisa disimpulkan malam ini adalah pertama kali mereka menghabiskan waktu berdua di dapur.
Tentu saja dengan Sean yang diminta membuka buah alpukat itu. Susah payah Sean menahan mual, hanya demi Zalina dia rela berpura-pura. Lima belas tahun berlalu, tapi Sean masih ingat betul bagaimana seniornya memaksa Sean makan alpukat hingga Sean masuk rumah sakit.
"Sudah, satu saja cukup, 'kan?" tanya Sean memastikan karena khawatir sang istri akan menyiksanya lebih lama lagi.
"Iya cukup."
Layaknya anak kecil yang sedang menunggu makanannya disiapkan, Zalina menurut begitu saja kala Sean memintanya untuk duduk segera. Mungkin saat ini dia lupa jika sudah memiliki dua anak dari pernikahannya.
"Ehm, Mas." Zalina menggigit bibirnya, kebiasaan sederhana yang berhasil membuat darah Sean mendidih.
"Kenapa?" tanya Sean yang baru saja kembali usai membasuh tangannya, dia tidak cukup kuat menahan diri terhadap aroma buah itu.
"Kocokin."
"Hah?"
Istrinya hanya bicara satu kata, dengan susu kental manis di tangan kanannya meminta agar Sean membuat minuman kesukaannya. Namun, otak Sean yang memang agak berbeda menangkap lain hingga dia bahkan batuk setelah mendengar permintaan sang istri.
"Ka-kamu minta apa? Di dapur, Na ... kalau ada yang turun tiba-tiba gimana?"
"Aku cuma minta kocokin alpukatnya, ini susunya kenapa mas panik? Aku tidak keberatan kalau nanti mereka melihat dan minta dibagi."
"Oh, begitu."
Sean tertawa sumbang sebelum kemudian meraih susu kental manis yang Zalina siapkan. Pria itu menggeleng pelan sembari menertawakan diri sendiri. Sungguh, sama sekali dia tidak habis pikir kenapa otaknya masih sekotor ini.
Mungkin karena Zalina yang bicara, karena biasanya Sean memang tidak bisa menahan diri jika yang memancing adalah wanitanya. Perutnya kembali mual, Sean susah payah terlihat biasa saja.
Sejak dahulu dia memang tidak suka, tapi entah kenapa kali ini semakin tidak suka dan hidungnya benar-benar tidak bisa menerima. Bahkan dia memalingkan muka kala Zalina menikmatinya.
"Mas mau?"
"Tidak, Sayang ... untuk kamu saja."
Beralaskan seolah peduli istri, padahal dia yang mual. Sean tidak mengatakan jika dia tidak suka, khawatir sang istri akan marah. Namun, Zalina yang tidak mengetahui seberapa besar trauma Sean terhadap buah itu jelas saja tidak ingin merasakan nikmatnya alpukat kocok itu sendirian.
"Aaaaa ... buka mulutnya, enak manisnya pas. Mas pinter ternyata," puji Zalina yang sama sekali tidak membuat Sean bangga.
"Untukmu saja, mas memang pintar kalau soal itu, Na," tutur Sean bukan pada makna yang sesungguhnya, senyum tengilnya sudah berbeda.
"Sedikit saja, Mas ayolah," pinta istrinya sedikit memaksa, Sean menggeleng cepat hingga ujung sendok itu menempel di bibir Sean.
Tidak pernah memaksa, tapi sekalinya memaksa istrinya sedikit gila. Bahkan sama persis seperti Zia yang memaksanya minum obat ketika Sean masih kecil. Pria itu menggeleng dengan bibir yang tertutup rapat, Zalina seolah tidak peduli Sean suka atau tidak, tapi yang jelas istrinya benar-benar memaksa malam ini.
"Aku nangis kalau mas tidak mau sumpah."
"Astaga, wanita satu ini kenapa sebenarnya."
"Buruan buka mulutnya, Mas ... nanti kucium mau?" tawar Zalina dan Sean tetap menggeleng, perutnya memang benar-benar menolak buah itu, apalagi ketika sudah dihancurkan seperti makanan bayi itu.
"Aku yang diatas? Kita di kamar 24 jam dan mas bebas ngapa-ngapain."
Sean masih enggan, dia bisa membuat Zalina 24 jam tak berdaya dalam kekuasaannya tanpa harus menyiksa diri dengan alpukat sialan itu. Zalina masih terus memberikan tawaran yang nyatanya tidak membuat Sean tergiur, hingga dia baru berhenti kala mendengar langkah kaki yang begitu familiar memasuki ruang makan.
"Astaghfirullah Zalina, sopan begitu sama suami, Nak?!"
.
.
- To Be Continued -