Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 20 - Edisi Ana - Axel


Selepas akad, status mereka resmi berganti. Semua terjadi begitu cepat, secepat Axel mengubah takdir Ana di masa lalu. Delapan tahun lamanya, cukup lama Ana berdamai dengan lukanya. Beruntungnya, baik Irham maupun ibunya tidak menyinggung masalah itu.


Sama sekali tidak dendam, karena pada faktanya mereka dapat dikatakan sama-sama dikendalikan Bramanto kala itu. Menjelang malam, Axel dan Ana diantar menuju kediamannya. Tidak hanya Irham, tapi juga Ricko, Sean beserta istrinya.


Rumah mereka memang tidak begitu jauh, awalnya Irham mengizinkan mereka untuk tidur di kamarnya. Namun, Sean melarang dan mengusulkan lebih baik pulang saja. Jangan lupakan status Irham tidak sekaya dahulu, rumah yang mereka tempati hanya punya dua kamar dan tidak lucu jika Irham tidur di sofa sementara kamarnya dipakai pengantin.


"Kita tidak mampir dulu, Se?"


Sean mengelus dada, padahal sudah dikatakan sejak awal bahwa tugas mereka hanya mengantar, tidak untuk yang lainnya. Pria itu benar-benar mengerti privasi orang lain, terlebih lagi hari sudah malam karena memang selepas Isya Axel dan Ana dinasihati panjang lebar oleh kiyai Husain selaku tetua di sana.


"Kalian tidak masuk dulu?"


Belum kering bibir Ricko, wanita itu justru memberikan tawaran. Beruntung saja Sean cepat bertindak dan menginjak kaki Ricko agar tidak lancang mengambil tindakan.


Tidakkah dia sadari bahwa Satria sudah tidur dalam pelukan Axel yang artinya sudah begitu malam. Mata tajam Sean yang kini mendelik berhasil membuat Ricko ciut, dia menyerah lantaran tak kuasa menahan sakit lebih lama.


"Lain kali saja, An ... khawatir anakku bangun."


Zalina mengerti apa yang suaminya pikirkan, dia menolak halus sebelum benar-benar berlalu. Tidak hanya mereka yang mengerti, Irham juga demikian. Mereka pulang dengan arah yang terpisah, Sean meminta Irham lebih dahulu karena dia sendirian.


Setelah di perjalanan, Sean pikir tingkah menyebalkan Ricko sudah usai. Nyatanya kian menjadi dan mendadak minta berhenti dengan alasan ingin buang air kecil. Satu pertanyaan yang Sean lontarkan pada Ricko dengan kepala yang mulai berasap.


"Kenapa tidak dari tadi?!"


"Ya mana kutahu!! Kebeletnya sekarang, sabar, Kiyai jangan marah-marah."


"Kiyai dengkulmu, sudah sana," kesal Sean sedikit meninggi, jauh dari Zean ternyata kesabarannya justru diuji oleh Ricko.


"Ada botol tidak? Aku khawatir kalau asal."


"Hah? Botol? Tidak ada, arahkan ke mulutmu saja," ucap Sean asal dan membuat Zalina menggeleng pelan.


"Gila!! Tunggu kalau begitu, jangan tinggalkan aku ... Hadueh Jony kenapa harus sekarang, mana gelap lagi," gerutu Ricko dan hal itu terdengar jelas di telinga Sean, sontak pria itu berdecak sebal dan menutup telinga istrinya.


"Kamu tidak dengar, 'kan?" tanya Sean begitu lembut pada istrinya, seperti orang yang berbeda.


"Tidak," jawab Zalina tersenyum geli, mana mungkin tidak dengar karena Ricko menggerutu sama halnya menyampaikan pengumuman.


"Sayang serius, nanti bayi kita ikut mendengarnya juga bahaya," tutur Sean benar-benar tidak rela jika calon buah hatinya mendengar omelan Ricko.


"Sudah lupakan, Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa," ucap Zalina menenangkan sang suami, setakut itu memang.


Karena kehamilan kali ini berbeda. Tidak hanya ditemani Sean, tapi Ricko juga. Sean mengelus perut Zalina berulang kali, setiap waktu yang ada akan dia gunakan untuk memanjakan calon buah hatinya.


Setiap waktu, Sean benar-benar menebus kesalahan yang ketika dia di penjara. Seperti ini contohnya, sementara menunggu Ricko kembali Sean menghabiskan waktu untuk bicara pada calon buah hatinya.


"Masih ditanya anak siapa, anakmu lah!!"


"Sewot!! Makanya punya istri!!"


"Kalian ini benar-benar tidak waras, pasti Axel juga sedang begitu ... anak siapa ini? Anak siapa ini? Sudah jelas anaknya masih saja berta_"


Audzubillahiminasyaitonirojim bismillahirohmanirohim


Salah-satu cara ampuh membuat Ricko bungkam, dia tidak bisa berkata-kata kala murotal juz 30 itu mulai terdengar. Saat itu pula, Sean kembali melaju dengan kecepatan sedang lantaran memikirkan istrinya.


.


.


Sementara itu, jauh dari bayangan Ricko, Axel tengah tertegun menatap putranya yang tengah terlelap. Tidak ada pertanyaan seperti yang Ricko duga, tapi dia menitikkan air mata melihat versi dirinya tertidur begitu lelap.


"Maafkan Daddy, Satria," ucap Axel tulus dan mengecup pelan keningnya, tidak akan habis rasa bersalah dalam diri Ricko hingga akhir hayatnya.


Cukup lama Axel berada di dalam kamar putranya, hingga tepat pukul sebelas malam pria itu menuju ke kamar Ana, sang istri. Tidak salah kemarin dia hampir salah masuk kamar, karena kini benar-benar menjadi kamarnya.


"An ... aku masuk ya?"


Dia masih bertanya lantaran khawatir Ana tak suka. Jujur saja dia gugup, dan dia semakin gugup kala Ana membukakan pintu. Darah Axel berdesir, panas sekali kala melihat pakaian tidur Ana, bukan lingerie, tapi pendek dan begitu pas di tubuhnya.


"Masuklah, sudah kurapikan tempat tidurnya," ucap Ana kemudian berlalu dan membuat Axel menahan napas, punggungnya mulus sekali, kenapa setelah jadi istri justru semakin seksi.


Perlahan, Axel mengikuti Ana yang kini berbaring di tempat tidur. Pemandangan tubuh seksi Ana hanya sebentar karena kini sang istri masuk dalam selimut.


Cukup lama mereka terdiam, sungguh kaku sekali. Jangankan memaksa, tersentuh sedikit saja Axel sontak menarik tangannya lantaran khawatir Ana masih trauma.


"Axel."


"Iyaaa, kau belum tidur?"


"Belum," jawab Ana berbalik, tatapan keduanya terkunci sejenak sebelum kemudian Ana menarik napas panjang.


"Kenapa belum?"


"Ehm itu ... apa kamu tidak menginginkannya?"


.


.


- To Be Continued -