
"Keterlaluan, sudah tahu cupu begitu ... Zean pantasnya naik odong-odong," ujar Mikhayla menahan perutnya yang terasa sakit, sudah dia duga sesuatu yang terlihat manis dari kejauhan tidak sesuai faktanya.
"Tahu nih, Kak Sean kelewatan, Yudha jadi harus jagain bayi itu, harusnya aku yang digendong begitu bukan_"
"Heh!! Anak kecil satu ini, sana susul kakakmu. Sudah saatnya kita pulang, papa mau beli martabak dulu ... di sebelah sana tebal-tebal, topingnya banyak lagi."
"Papa makan terus yang dipikirin, batagor yang tadi juga masih ada," celetuk Lengkara sama sekali tidak khawatir meskipun sudah mendapat jeweran dari sang papa.
"Kacangnya berlimpah, perut Papa lapar sekarang. Sudah kalian sana."
Bak itik digiring tuannya, anak cucunya menurut begitu saja. Sementara Zia sudah tentu harus menemani sang suami memenuhi keinginannya.
Namun, belum sempat melangkah Mikhail menghela napas perlahan. Matanya tertuju pada anak-anaknya yang kini sudah memiliki kebahagiaan sendiri. "Mereka sudah besar semua, rasanya baru kemarin kita membawa anak-anak."
"Iya, Mas ... aku juga merasa begitu."
Lamunan keduanya seolah kembali memutar memori indah tentang mereka beberapa tahun silam. Saat dimana anak-anak mereka masih kecil dan lucu, sungguh waktu secepat itu berlalu.
"Mas sudah tua berarti?" tanya Mikhail dan berharap Zia akan menjawab berbeda.
"Mungkin, wajahmu sudah keriput sedikit," jawabnya tersenyum tipis, paham jika sang suami mungkin saja menekuk wajahnya sebentar lagi.
"Huft sepertinya mas harus rutin olahraga seperti kata papa, mulai besok mas akan lari pagi setelah ini."
Zia memutar bola matanya malas, wacana dari tahun 1875 SM itu kembali dia dengar. Lari pagi katanya, dengan tujuan menjaga kesehatan, tapi justru Mikhail gunakan untuk berburu makanan.
Zia iya-iya saja, bahkan ketika Mikhail meminta dia berjanji untuk mengingatkannya lari pagi, Zia tidak mematahkan semangat sang suami. Sudah terbiasa, memang sejak muda hidup sang suami sama sekali tidak sesuai dengan ucapannya. Ya, Zia berharap saja kedua menantunya tidak merasakan hal yang sama.
Sementara pemimpin dinasti membeli martabak kesukannya, anak cucunya tampak bersiap mengatur posisi. Mikhayla yang membeli banyak barang membuat Sean sedikit bingung saat ini.
"Harusnya bawa mobil sendiri-sendiri ... kau!! Orang gila mana yang beli baskom di luar kota begini?!"
Awalnya Sean sudah menduga jika yang Mikhayla beli adalah perabotan rumah tangga, tapi tidak sebanyak ini juga. Keyvan diam saja seolah tak terlibat dalam permasalahan ini, terserah Sean saja karena sebelumnya mulut Evan sudah berbusa.
"Diskon, Sean ... lagi pula itu warnanya bagus, jarang-jarang ada kombinasi warna abu-abu monyet sama biru dongok jadi satu begini," ucap Mikhayla merasa dirinya sama sekali tidak salah.
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, Kak serius," keluh Sean menggeleng pelan.
"Jangan dipusingin, selagi muat apa salahnya."
Baru saja selesai masalah barang belanjaan pribadinya, Zavia mendekat menyerahkan boneka yang sama besarnya hampir sama seperti boneka milik Zalina. Tidak selesai di sana, Azkara ikut-ikutan menyerahkan bola plastik dengan duri-duri persis buah durian yang membuat Sean seketika merasa akan mudik ke kampung halaman.
"Jangan cemberut, Om nanti umurnya pendek," ujar Azkara yang membuat Sean tidak sengaja menjitaknya, di belakang Evan tentu saja.
"Zavia ... di antara semua boneka kenapa milihnya buaya?" tanya Sean menghela napas kasar, pasalnya bukan hanya besar, tapi juga panjang.
"Hadeuh kata Aga terus, memang Aga siapamu?"
"Ehm my beloved brother," jawab Zavia mengerjap pelan, persis mamanya jika sedang ditanya.
"Sudah sana masuk," titah Sean mengusap puncak kepala keponakan cantiknya itu. Puitis sekali, dan juga sejak kapan dia justru terdengar sedewasa itu, pikir Sean.
Zalina hanya menyaksikan sang suami yang sudah persis sopir bus antar kota. Sean menatapnya dengan wajah ditekuk seolah mengatakan jika dia sangat lelah malam ini.
"Kenapa masih di luar, harusnya masuk duluan, Sayang."
"Tunggu mas dulu, biar mereka tahu mas sudah punya istri," ucap Zalina mendelik ke sisi kiri, tampak beberapa gadis yang baru beranjak dewasa sejak tadi tampak membicarakan Sean.
"Siapa? Mereka?" tanya Sean menatap ke arah gadis yang sempat duduk di depannya sewaktu naik wahana bersama Zean.
"Iya, tuh pada pura-pura ngobrol, ketahuan kan."
"Mereka masih anak-anak, Na ... paling juga SMA," tutur Sean tersenyum tipis, tampaknya sang istri sedang tidak suka sang suami menjadi objek perhatian.
"Masuklah, tuh Papa sudah masuk ke mobil Zean ... mas sudah tidak sabar Nidurin kamu, Na."
"Hah?"
"Tidur sama kamu maksudnya, di sini dingin jadi lidah mas suka salah bicara," elak Sean mengada-ngada, padahal udara malam ini cukup hangat dan Zalina dengan jelas melihat kening Sean yang basah karena keringat.
.
.
- To Be Continued -
Buat yang berkenan kenalan lebih jauh sama Mikhayla dan Evan boleh di sini ya.
Blurb :
Menjadi penyebab utama kecelakaan maut hingga menewaskan seorang wanita, Mikhayla Qianzy terpaksa menelan pil pahit di usia muda. Tidak pernah dia duga pesta ulang tahun malam itu adalah akhir dari kebahagiaannya sebagai seorang putri Mikhail Abercio.
Keyvan Wilantara, seorang pria dewasa yang baru merasakan manisnya pernikahan tidak terima kala takdir merenggut istrinya secara paksa. Mengetahui jika pelaku yang menyebabkan istrinya tewas adalah seorang wanita, Keyvan menuntut pertanggungjawaban dengan cara yang berbeda.
"Bawa wanita itu padaku, dia telah menghilangkan nyawa istriku ... akan kubuat dia kehilangan masa depannya." - Keyvan Wilantara