Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 19 - Edisi Ana - Axel


"Gugup, An?"


Sudah jelas wajahnya pucat pasi, Zalina masih bertanya Ana gugup atau tidak. Tidak ada pesta mewah, Ana tidak mengharapkan hal itu sama sekali. Sesuai dengan arahan kiyai Husain, mereka memilih kediaman Irham sebagai tempat Axel mengucapkan janji sucinya hari ini.


Keduanya tidak bersanding, Ana berada di ruangan yang berbeda, tapi bisa mendengar dengan jelas suasana di ruang keluarga. Jantung Ana berdebar tak karuan, bersama Zalina yang sejak tadi menemaninya, wanita itu ingin menangis rasanya.


"Sangat, aku tidak menyangka akan segugup ini, Na."


Saat ini Ana membutuhkan Satria sebenarnya, tapi sang putra justru lebih memilih duduk di pangkuan Ricko demi menyaksikan Axel. Sempat bingung kenapa orang tuanya menikah, tapi Ana memberikan pengertian tadi siang membuat putranya mengerti apa yang tengah terjadi saat ini.


Keringat dingin mulai mengucur di kening Ana, segugup itu padahal tugasnya hanya menunggu Axel selesai meloloskan sighat qabul di sana. Namun, Axel sudah dua kali salah menyebut nama ayah Ana membuat wanita itu semakin berdebar seketika.


Tidak hanya Ana yang khawatir, tapi Sean yang berada di dekat Axel juga sama cemasnya. Berbeda dengan Ricko yang justru terbahak lantaran Axel membuat kesalahan. Tidak terlau fatal, tapi cukup membuat perut Ricko melilit.


"Fokus, Axel ... Mahesa Purnawardjono bukan Purwano!!"


"Sabar, mungkin Axel belum hapal namanya."


Irham berusaha menenangkan makhluk satu itu, sejak tadi memang sudah sibuk sendiri. Kini, Axel yang salah dia seakan gila lantaran gemas sendiri. Sementara Sean yang hanya menunduk malu, mungkin tidak kuasa dengan sikap Ricko.


"Coba latihan dulu, Axel ... Mahesa Purnawardjono," ucap Irham membimbing Axel pelan-pelan, Axel mengangguk dan mencoba mengucapkan nama itu.


"Mahesa," ucap Axel perlahan, dia tidak sedang sandiwara, tapi memang benar adanya lidahnya sangat sulit mengucapkan nama itu.


"Hm sepatah kata lagi, purnawardjono." Kembali Irham menuntunnya, tanpa membentak ataupun mendesak harus bisa saat ini juga.


"Mahesa Purwanto."


"Astaga, Axel!! Malah berubah Purwanto ... Pur-na-war-djono!!!!! Apa sesulit itu? Huruf d-nya tidak perlu dibaca, tapi Jono!! Ck, aku saja kalau kau tidak bisa." Kesabaran Ricko yang memang paling tebal di antara ketiganya kini hancur sudah, jangan ditanya sekesal apa jelas luar biasa.


"Santai-santai!! Jangan semakin membuatnya panik," tegas Irham berdecak sebal dan menatap tajam ke arah Ricko.


"Mungkin harus minum dulu, Abi," tutur Sean memberikan saran, benar adanya mungkin Axel butuh minum demi meredakan kegugupannya.


"Boleh."


"Mau kopi atau sus_"


"Kan siapa tahu, Se ... Axel ngantuk," tutur Ricko masih begitu percaya diri bahwa solusinya sudah paling tepat.


Irham hanya menggeleng pelan, sementara Agam tanpa bicara segera menyerahkan air mineral untuk melegakan tenggorokan Axel. Dia paham bagaimana gugupnya akad nikah, terlebih lagi untuk kasus Axel jelas saja sangat berbeda.


Selang beberapa saat, Kiyai Husain kembali bertanya apa memang sudah siap atau belum. Axel mengangguk pasti, berharap kali ini tidak akan salah lagi. Aneh memang, nama mendiang ayah Ana begitu dia hapal sejak satu minggu sebelum pembantaian itu dilakukan.


Namun, ketika hendak mengikat putrinya dalam ikatan suci, tiba-tiba sulit sekali. Apa mungkin ini bukti pernikahannya tidak direstui? Apa mungkin mendiang Mahesa masih marah dan tidak sudi putrinya dinikahi. Sungguh, pikiran Axel benar-benar kacau saat ini.


"Izinkan saya menikahi putrimu, Tuan ... maaf atas semua kesalahan yang telah saya perbuat di masa lalu."


Axel sempat membantin sebelum percobaan ketiga dilakukan. Untuk yang kali ini kiyai Husain memberikan jeda cukup lama sebelum kembali memulai.


Suasana yang tadinya sempat kacau perkara nama Mahesa dan kopi yang Ricko tawarkan, kini kembali lebih tenang dan khusyu' sebagaimana mestinya. Gugup yang sempat tertunda kembali membuncah hingga membuat Axel bergetar di setiap helaan napasnya.


Hingga, Axel berhasil meloloskan sighat qabul dengan begitu mantap dalam satu tarikan napas tanpa hambatan. Seketika Irham dan seisi ruangan bernapas lega, drama nama ayah Ana tuntas walau cukup panjang dan membuat kesal beberapa pihak lainnya.


"Bagaimana, Saksi?"


"Sah!!"


"Anggap sah saja, Kiyai kasihan sudah berulang kali sampai lemas," ucap Ricko masih asal ucap hingga Sean membungkam mulutnya dengan telapak tangan. Jangan sampai saja setelah ini mertuanya justru curiga Sean tidak jauh berbeda seperti Ricko.


Memang benar-benar sah, sungguhan bukan karena kasihan Axel sudah mencoba berulang. Tidak peduli apapun ucapan Ricko, saat ini mata Axel mengembun karena merasa seolah menemukan serpihan dunianya.


Hingga, air mata Axel benar-benar luruh kala sudah dipersilahkan melihat Ana. Ana yang saat ini menjadi istrinya, wanita cantik dengan sejuta luka di masa lalu, dia kembali menemui gadis itu.


"An," ucapnya bergetar, Axel perlahan mengikis jarak kala diperbolehkan untuk mengecup keningnya.


"Sudah woey!! Teruskan nanti, kenapa malah kebablasan, Axel." Axel bahkan tidak sadar jika dia terlalu lama, begitu banyak harapan yang dia lambungkan tentang Ana, istrinya.


.


.


- To Be Continued -