Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 07 - Edisi Ana - Axel


Tanpa pernikahan, berawal dari sebuah kesahalan. Mereka sama-sama menurunkan ego demi anak. Ya, demi anak dan keduanya terikat meskipun tanpa pernikahan seperti Sean dan Zalina. Namun, peran keduanya tidak jauh berbeda seperti pasangan lain, mau bagaimanapun mereka adalah orangtua Satria.


Usai makan bersama, Axel memenuhi janjinya pada Satria. Sudah jelas harus melibatkan Sean, beruntung saja pria itu mengerti bahkan memberikan kartu dan mobilnya untuk Axel gunakan hari ini. Kalau kata Sean, kebahagiaan anak adalah hal paling utama dan tidak dapat ditawar.


Tidak hanya sekadar membelikan mainan, Axel juga menemani Satria ke sebuah play ground walau tidak diminta. Nalurinya sebagai ayah yang bicara, Axel berdesir setiap kali mendengar gelak tawa Satria. Darah dagingnya yang tumbuh di rahim wanita dengan luka menganga tanpa sepengetahuannya.


"Kenapa kau berbohong?"


Sejak tadi hanya bungkam, Axel dibuat terkejut kala Ana melontarkan sebuah pertanyaan singkat padanya. Keduanya duduk berjauhan, tapi masih memungkinkan untuk bicara.


"Bohong soal?" tanya Axel memberanikan diri menatap wanita itu, wanita cantik yang sejak tadi selalu membuatnya tertunduk malu.


"Semua yang Satria dapatkan hari ini, bagaimana kau membayarnya pada Sean nanti?"


Wanita itu tahu alurnya, dia bukan wanita bodoh dan juga mengenal Sean cukup baik. Pria royal yang memang tidak peduli mengeluarkan uang sebanyak apa untuk membantu orang-orang di sekitarnya, termasuk dia selama beberapa bulan terakhir.


"Aku akan bekerja keras setelah ini, kau tenang saja ... aku tidak akan memintamu patungan membayarnya."


Axel salah paham, padahal Ana hanya khawatir jika dia semakin sulit. Seperti yang Ana ketahui, Axel mendekam di penjara cukup lama. Dia bukan pria kaya seperti Sean yang tidak masalah sekalipun dipenjara puluhan tahun, pria di sampingnya ini tidak lebih dari pengangguran.


"Bukan soal itu, maksudku kau berlebihan ... harusnya tidak perlu semuanya, kau begitu membuat Satria besar kepala nanti."


Dia berucap tanpa memandang, bukan karena jijik ataupun takut, tapi belum berani saja menatap matanya. Selama di sisi Axel, jujur saja Ana tidak merasa takut atau membencinya, mungkin karena pria itu lebih lembut dari yang Ana kira.


"Tidak masalah, sudah kewajibanku sebagai ayahnya."


Ana sontak berdesir mendengar ucapan Axel. Wanita itu mecoba terlihat biasa saja, padahal saat ini dia salah tingkah dengan jawaban Axel yang menegaskan jika dia benar-benar ayah dari Satria.


Selama ini, pria yang tidak masalah dipanggil Daddy hanya bersikap seadanya untuk Satria. Kini, pria itu bersikap sama meski di belakang Satria. Sebagai wanita yang biasanya selalu meminta maaf atas kelakukan putranya, kali ini jelas hatinya menghangat begitu saja.


"Terima kasih," ujar Ana singkat, tapi dia benar-benar tulus.


"Aku yang terima kasih ... dan maaf, aku membuat kalian berada di posisi sulit selama ini."


"Kau terutama," tambah Axel kemudian menatap lekat manik polos Ana, wanita itu seketika terpaku menatapnya.


Pembicaraan mereka mulai serius, hingga keduanya terhenti kala mendengar teriakan Satria. Keduanya saling memandang sebelum kemudian beranjak berdiri.


"Mommy!! Daddy!!"


Sama-sama panik, Axel melangkah dan meninggalkan Ana yang memang tidak secepat Axel jika berlari. Dia juga bingung kenapa Satria sampai berteriak begitu, padahal biasanya juga main sendiri dan Ana menunggu dia sama sekali tidak masalah.


Ana mempercepat langkahnya, hingga hati wanita itu kembali terhenyak kala menatap Axel yang berlutut dan menghapus air mata Satria. Sejak kapan Satria cengeng, selama ini dia sangat ceria dan sosok anak yang teramat kuat.


"Satria kenapa?" tanya Ana turut berlutut di sisi Axel, seakan tidak peduli siapa pria itu sebenarnya.


"Takut, Mommy," jawabnya tersedu masih dengan menggenggam bola di tangannya.


"Takut? Takut apa?" Ana mengerutkan dahi, padahal siang hari mana mungkin matanya meliat sesuatu yang tidak diinginkan.


"Daddy pergi."


Kali ini, bukan hanya Ana yang terhenyak, tapi Axel juga. Dia pikir putranya kenapa, sungguh dia benar-benar tidak sengaja meninggalkan Satria sebentar. Dia berpikir tidak mengapa karena tidak terlalu jauh, dan juga dia hanya berusaha membangun interaksi bersama Ana.


"Tidak akan, Satria ... Daddy tidak akan pergi."


"Benarkah? Apa Daddy tidak akan meninggalkan Satria seperti Daddy yang lain?"


.


.


❣️