Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
79. Saham perusahan


Aaron duduk di depan laptopnya tak jauh dari Sora yang tertidur.


"Dret dret dret."


Ponsel Aaron bergetar,dia menghentikan jari tangannya yang sedang mengetik dan mengambil ponselnya.


"Tuan muda,pusat memberitahu jika ada perusahaan fiktif yang sudah membeli saham pada para pemegang saham."


"Berapa saham yang kita miliki?"


"Empat puluh tiga persen tuan muda."


"Kau Selidiki perusahaan fiktif itu."


"Dan segera hubungi pak tua itu untuk bertemu denganku."


"Baik tuan muda."


Setelah selesai berbicara mereka menutup telponnya.


Aaron menyandarkan bahunya pada punggung Sofa.


"Sepertinya ada yang ingin bermain main denganku."


"Baik akan ku hadapi sampai aku bosan." Batinnya.


***


Di perusahaan M


"Jean... tunggu." Teriak pak Zain ketika melihat Jean yang berjalan terburu buru.


"Kamu mau kemana?"


"Ini kan masih jam kerja."


"Oh..aku mau ke rumah sakit pak."


"Tadi aku sudah ijin sama pak Fredy kok pak."


"Oh kamu mau jenguk istri pak Aaron."


"Iya."


"Oke,tunggu aku." Ucap Zain sambil menarik pergelangan tangan Jean ke ruangannya.


"Eh..eh pak,akukan bisa nunggu di sini."


Zain tak memperdulikan perkataan Jean dan tetap menarik pergelangan tangannya.


"Pak Zain..!" Teriak Jean.


Zain tiba tiba berhenti dan berbalik menunjuk Jean dan berbicara.


"Jika aku membiarkanmu kau pasti akan meninggalkan ku lagi kan,seperti saat itu?!"


"Hehehe saat itu aku tak sengaja pak."


Jean meringis setelah mendengar perkataan Zain.


Di ruangan Zain...


"Ok,sekarang kita berangkat."


"Ya ampuuun,dia balik ke kantornya tuh buat gitu itu doang,buat apaan coba?" Batin Jean.


Zain merapikan rambutnya dan menganti jas nya dengan warna yang lain.


Zain menyadari saat Jean memandangnya dengan aneh.


"Jean,apa kamu berpikir yang enggak enggak?"


Jean hanya diam dan memperhatikan Zain dari atas ke bawah.


"Kau lihat kan Jean,warna jas yang ku pakai sebelumnya itu terlalu mencolok,apa pantas jika aku menjenguk istri presdir yang sedang sakit memakai baju yang mencolok seperti itu?" Zain mengarahkan kedua tangannya ke arah jas yang dia gantung.


"Bener juga sih alasan dia." Pikir jean.


Setelah Zain selesai bersiap mereka bersama sama pergi ke rumah sakit.


***


Sora terbangun dari tidurnya,merasakan tenang ketika melihat Aaron yang duduk di sofa tak jauh dari dirinya berbaring,memakai kemeja putih yang di rangkap hody berwarna navy,terlihat sedikit santai namun berwibawa.


Melihat Aaron yang masih sibuk dengan pekerjaannya Sora berusaha untuk mendudukkan tubuhnya dengan perlahan.


Aaron yang melihatnya bergegas berlari ke tempat Sora.


"Sayang kamu rebahan ya,dokter kan bilang selama beberapa hari gak boleh duduk ataupun turun dari ranjang."


"Sayang...badan aku tuh pegel banget."


Ucap Sora dengan suara manjanya.


"Kamu kan bisa miring ke kanan atau ke kiri."


"Nurut ya,kamu ingin baby Arsa Arsi sehat kan?"


Sora hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku laper..." Ucap Sora dengan manjanya seperti anak kecil.


"Oke,aku suapin."


Sora tersenyum.


Selama Aaron menyuapi,Sora melihat lihat sosmednya.


Sora terkejut begitu melihat akun nya.


"Sayang,ini kamu yang bikin?" Tanya Sora yang memperlihatkan layar ponsel pada Aaron.


"Iya."


"Kamu kaget ya?"


"Aku membayar seseorang untuk mengedit foto kita yang sedang bulan madu."


"Ayah,ibu pasti gak akan curiga jika melihat postingan ini."


Sora mengangkat kedua tangannya sambil tersenyum dan menunggu balasan Aaron untuk memeluknya. Aaron meletakkan mangkuk bubur ke meja dan memeluk Sora,mencium bibirnya berulang kali.


"Muach,muach,muach."


"Maaf kami tak bermaksud mengganggu,kami akan ke sini lagi nanti." Ucap Jean.


Jean dan Zain segera melangkah menuju pintu.


Sebenarnya mereka berdua masuk ke kamar perawatan dengan mengendap endap ingin memberi kejutan pada Sora.


Aaron yang kepergok merasa sedikit canggung,buru buru dia berdiri dan tak dapat berkata kata.


"Jeaan!" Panggil Sora.


"Mau kemana?"


Jean terhenti ketika mendengar teriakan Sora dan memutar tubuhnya menghadap Sora dengan meringis.


"Kalian bicaralah."


"Aku akan keluar untuk berbicara dengan dokter."


Aaron berjalan keluar melewati Jean dan Zain.


"Soraa.."


Sambil berteriak memanggil nama Sora,Jean meletakkan buah tangan yang di bawa nya di atas meja lalu memeluknya.


"Syukur kamu baik baik aja."


"Hallo sayang kalian sehat sehat aja ya di dalam." Ucap Jean sambil mengelus elus perut Sora.


"Iya tante aku baik aja." Balas Sora.


"Udah gak usah kelamaan ngelusnya."


Sora memindahkan tangan Jean agar tak mengelus perutnya lagi.


"Ah apaan sih." Jean kembali memeluk Sora,bahkan naik ke ranjang untuk bisa leluasa memeluk sora.


"Udah gak usah lebay Jean,aku baik baik saja."


Zain yang melihat kedekatan mereka hanya tersenyum merasa geli,seumur hidupnya Zain tak pernah melihat seorang yang berteman begitu akrabnya melebihi keluarga sendiri.


"Jean itu siapa." Bisik Sora.


"Oh iya kamu kan belom pernah bertemu kan?"


"Sora kenalin ini pak Zain Ernest,dia bekerja d tempat yang sama denganku,dia bagian perencanaan."


"Pak Zain ini bu Sora,dia istri pak Aaron."


"Eh bukankah anda yang berkelahi dengan penjahat itu?" Tanya Sora.


"Iya,dia penyelamatmu." Imbuh Jean.


"Trimakasih pak Zain jika tidak ada anda saat itu,mungkin sekarang saya tidak bisa berbicara dengan anda di sini."


Zain menjawab dengan senyuman.


***


Setelah Aaron keluar dari kamar perawatan,terlihat dia duduk di cafe yang berada di rumah sakit sedang berbicara dengan Fredy.


"Tuan muda,dua hari lagi tuan Justo akan datang kemari."


"Hanya dia yang belum menjual sahamnya."


"Saya sudah menyelidiki beberapa pemegang saham sebelumnya,mereka menjual sahamnya di bawah ancaman." Fredy memberikan penjelasan kepada Aaron.


"Mereka melakukan trik kotor lagi." Ucap Aaron dengan evil smirknya.


"Apa anda berpikir itu ulah mereka?" Tanya Fredy.


"Siapa lagi kalau bukan mereka."


"Fredy kedatangan pak tua ke sini jangan biarkan mereka mengambil kesempatan,aku yakin mereka pasti mengincarnya."


"Kawal dia dengan diam diam,setelah dia sampai di sini biar jacky yang urus."


"Sampaikan pada pak tua tujuanku bertemu dengannya."


"Baik."


"Tuan muda,tuan Justo mengajak cucunya ikut dengannya."


"Apa anda tak masalah dengan hal itu."


"Sepertinya dia masih bersikeras dengan perjodohan sepihak itu."


"Biarkan dia berbuat semaunya,aku bisa mengatasi pak tua itu." Ucap Aaron.


Setelah berkata seperti itu Aaron berdiri dan meninggalkan Fredy.


***


"Aku ingin lebih lama di sini,tapi karna setelah makan siang ada rapat aku gak bisa lama lama Ra."


"Gak perlu,kamu kerja aja,bantu Aaron dalam pekerjaannya."


"Kamu tau kan,Aaron yang nemenin aku di sini,dia benar benar perhatian banget ama aku."


"Iya temanku memang hebat,kamu satu satunya wanita yang sudah meruntuhkan gunung es." Ucap Jean sedikit membanggakan Sora.


Mereka berdua asik dengan obrolan mereka,Zain sadar jika dia bukan bagian dari dunia mereka berdua,dia hanya sebagai pendengar dan penonton keakraban mereka.


Jean melihat jam yang berada di tangannya.


"Eh udah jam segini,aku pamit dulu ya."


"Sora mungkin sampai kamu keluar dari tumah sakit aku gak datang ke sini."


"Kenapa?"


"Aku ingin kamu tetap aman Ra,keberadaan kamu di sini kan gak ada orang yang tau,kecuali kita."


"Jika aku sering datang berkunjung,mereka akan curiga dan akan mencelakai kamu lagi."


"Aku gak mau itu terjadi."


Mereka saling bersandar dan menggenggam tangan.


Setelah mereka selesai berbicara,Jean berdiri dan memeluk Sora untuk ke sekian kali dan kembali ke kantor.


Ketika Jean dan Zain berjalan keluar mereka bertemu dengan Aaron,memberi hormat dan pamit untuk pulang.