
"Bagaimana?"
"Tidak diangkat."
Jawaban yang berhasil membuat Sean menghela napas panjang. Syukurlah, agaknya Yudha bisa diajak kompromi malam ini. Zalina menyerah, dia tidak ingin menghubungi Yudha untuk kesekian kalinya. Mungkin benar Ana mengajak Sean bertemu, dia tidak bisa menyalahkan Yudha sebagai dalam hal ini.
"Mas mana mungkin bohong, Na ... kamu tahu sendiri dari dulu mas sangat jujur, 'kan?"
Tidak ada jawaban yang lolos dari bibir Zalina, wanita itu masih betah bungkam seraya menghela napas panjang. Tidurnya malam ini benar-benar terganggu, matanya menatap tajam ke arah Sean yang kini bersandar seakan tanpa beban.
"Boleh ketemu, tapi jangan sendiri," tegas Zalina setelah meletakkan ponselnya ke atas nakas.
"Ehm mas pikir-pi_"
"Sean!!"
Suaranya meninggi, bersamaan dengan guling yang mendarat tepat mengenai dadanya. Sejak tadi memang pria itu cari masalah, Zalina yang tidak sadar jika dia yang begitu semakin membuat Sean menjadi.
"Maaf, jangan pergi sendiri ya, Mas ...." Dia mencebik, Zalina mengambil guling itu segera kemudian mengusap pelan dada sang suami.
"Apa imbalannya?"
Pakai imbalan? Benar, Zalina tidak salah dengar. Sean menginginkan imbalan dari hal yang Zalina minta mati-matian, pria itu menatap lekat sang istri yang kemudian balik bertanya apa yang Sean ingini.
"Mas maunya apa?"
"Singkirkan guling sialan itu dari tempat tidur kita," ucap Sean tak terbantahkan, Zalina yang merasa itu adalah benteng pertahanannya jelas saja sedikit keberatan.
"Yang lain ada?"
"Hanya itu ... kalau tidak mau ya sudah, tidurlah ini sudah malam dan besok mas harus cek bengkel sekaligus periksa rumah kita," ucap Sean mengatur posisinya dan hendak tidur membelakangi Zalina.
Satu menit, dua menit dan sudah lima menit berlalu tidak ada jawaban dari Zalina. Apa mungkin wanita itu benar-benar marah? Entahlah, yang jelas Sean tidak akan tidur menghadap ke arahnya sebelum Zalina yang meminta.
"Dia benar-benar tidak membutuhkanku? Ays kuat juga pendiriannya."
Matanya masih terpejam, tapi pikirannya melayang dan dipenuhi oleh sang istri. Susah payah Sean menahan diri agar tidak berbalik, karena jika sampai dia melakukan itu jelas Zalina akan menganggap Sean mengalah.
Tekat Sean sudah bulat, dia tidak akan pernah mengalah sekalipun sama-sama diam begini. Pria itu berani bertaruh, Zalina mana mungkin kuat dia diamkan.
"Three ... two ... one!!"
Tepat, Sean tersenyum simpul kala merasakan tangan sang istri melingkar di perutnya. Pada akhirnya Zalina yang mengalah, tidak sia-sia Sean jual mahal jika kini Zalina memeluknya dari belakang.
"Sudah kubuang, malam ini kita tidak perlu pakai guling," tutur Zalina pelan, terdengar bergetar tapi bukan berarti ragu.
Hanya malam ini? Enak saja, mana mau Sean menyia-nyiakan kesempatan. Setelah Ana tidak akan ada lagi seorang wanita yang bisa dia jadikan alasan untuk membuatnya cemburu, mana harus meminta bantuan Ayunda, pikirnya.
"Hm malam ini."
"Malas kalau hanya malam ini."
Percayalah, sebenarnya dia sangat tidak tega untuk menjawab Zalina seperti ini. Sekuat hati Sean menahan agar tetap tidak tergoda, padahal hanya dengan pelukan itu sesuatu dalam diri Sean sudah menggelora sebenarnya.
"Sampai malam besok?"
"Apa bedanya, lebih baik tidak kalau hanya dua hari ... sudah sana."
"Ih!! Iya-iya!! Selamanya tidak perlu pakai guling, puas?!!"
Kesabaran Zalina agaknya sudah habis, secara sadar Zalina tahu bahwa dia yang enggan didekati Sean adalah hal yang tidak baik. Namun, semua itu juga diluar kendalinya, tiba-tiba saja dia tidak suka dan berada di dekat Sean seolah berada di depan gudang buah durian.
"Benarkah?"
"Benar, tapi jangan temui Ana sendirian ... ajak mas Agam atau abi sekalian, tidak boleh sama Yudha juga karena kalian sama iyanya."
Berhasil, Sean berbalik seketika kala mendengar perjanjian Zalina. Tidak dia sangka jurus sok jual mahal ini sungguh berguna, ditambah dengan menggunakan nama Ana tentu saja.
"Aih kamu kenapa begitu?" tanya Sean dengan mata yang kini membola,
Baru saja hendak senang, tapi seketika Sean mengerutkan dahi melihat Zalina yang menggunakan masker di hadapannya. Tidak hanya selapis, tapi berlapis-lapis dan membuat Sean merasa dirinya seolah pasien dengan penyakit menular.
"Tidurlah, aku tidak mencium bau mas kalau begini," tutur Zalina yang semakin mendekat bahkan tanpa ragu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sean.
"Apa kamu tidak sesak begitu?"
"Lebih sesak cium baumu, Mas."
Siallan, tidak terhitung telah berapa kali Zalina mengungkapkan jika Sean bau. Ingin marah, tapi kembali lagi Sean ingat jika wanita ini adalah salah-satu harta paling berharga yang dia miliki.
"Good night, my beloved wife ... mas sayang sekali padamu, Na," ucap Sean mengeratkan pelukannya. Beberapa hari terakhir dia hanya bisa memandangi, jelas saja kerinduannya luar biasa.
"Kamu menang malam ini, tapi malam-malam setelahnya aku pastikan tidak, Mas." Tanpa Sean ketahui, jika sikap istrinya beberapa hari terakhir bukan karena ngidam biasa. Tidakkah dia sadar bahwa insting wanita terhadap pasangan sangatlah tajam, terlebih lagi soal kebohongan yang mereka lakukan.
.
.
- To Be Continued -