
Sebagaimana yang Sean minta, baru setengah perjalanan hujan mendera ibu kota. Istrinya kedinginan? Ya, memang benar dan hal itu sesuai dengan harapan. Namun, yang menjadi masalah sekarang sang istri jutsru terlelap dengan memeluk boneka yang biasa digunakan untuk menenangkan Iqlima.
Sebelum hujan turun Sean sudah berpikir jika Zalina akan mendekat padanya, tapi yang terjadi justru berbeda. Perjalanan yang tadinya dia duga akan terasa romantis, hanya ada sepi dengan berbagai macam pengemudi tak sabaran yang mendahuluinya.
Hingga tiba di kediaman mertuanya, hujan tak jua reda. Begitu juga dengan Zalina yang masih betah dalam tidurnya, mungkin memang lelah karena begitu banyak yang Zalina lakukan di rumah duka. Melihat wajah lelahnya, Sean menjadi tak tega dan memilih membopong tubuh sang istri ke rumah.
"Non Zalina kenapa, Den?"
"Tidur, Mbok," jawab Sean singkat kala Ratri bertanya dengan mata tajamnya.
Bukan marah atau tak suka, memang begitu pembawaannya. Kehadiran wanita itu membuat Sean merasa tengah diawasi omanya sendiri, selain cerewet kepeduliannya juga berbeda dari pengasuh biasa.
"Sering dipijat, Den ... Non Zalina lelah sepertinya."
"Iya, Nyai," jawab Sean tertawa sumbang kala melewati mbok Ratri. Banyak sekali perintahnya, padahal tanpa didikte Sean juga paham apa yang harus dia lakukan.
Hingga tiba di kamar, Sean merebahkan tubuh Zalina begitu hati-hati. Khawatir jika tidurnya justru terkejut, sementara dari yang Sean ketahui jika tidurnya terganggu Zalina bisa sakit kepala untuk waktu yang lama.
Ditambah lagi, hari masih siang dan Sean khawatir imannya goyah jika mengusik sang istri. Kebetulan tubuhnya sedikit kotor, keringat yang tadi membasah di tubuhnya mungkin akan menguarkan aroma tak sedap jika tidak mandi segera.
Lima belas menit berlalu, Sean keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Tatapan pria itu tertuju ke tempat tidur dan Zalina masih terlelap dengan posisi tidur yang tidak berubah. Bahkan, setelah Sean mengenakan pakaiannya, Zalina masih sama persis seperti ketika Sean masuk kamar mandi.
"Tidak biasanya dia begini," gumam Sean kemudian, pertanda lelahnya Zalina tidak main-main.
Cukup lama Sean pandangi wajah ayunya, perlahan dia benar-benar memijat tangan sang istri seperti saran mbok Ratri. Tidak ada niat mencuri kesempatan kali ini, dia benar-benar memijat tubuh Zalina yang dia pastikan sangat lelah.
"Mas."
"Sudah bangun? Tidurlah lagi, anak-anak juga tidur kata mbok Ratri," tutur Sean lembut, sangat-sangat lembut.
"Terus mas kenapa tidak tidur?" tanya Zalina menatap Sean yang duduk sembari memijat lengannya.
"Nanti saja, mas tidak ngantuk, Na," ungkapnya sambil menguap, jelas saja Zalina segera menarik pergelangan tangan Sean untuk tidur berbaring di sisinya.
"Kamu mau apa?"
"Tidur, mas pasti lelah hari ini ... lagi pula di luar hujan," ucap Zalina pelan, meski mereka tidak berdekatan, tapi apa yang Sean lakukan tidak lepas dari tatapan Zalina.
Walau Sean mengatakan jika dirinya tidak lelah, tapi tidak mungkin setelah apa yang dia lakukan selama proses pemakaman Leona tidak membuat tenaganya terkuras.
"Tapi mas memang tidak ngantuk, Na ... kamu saja yang tidur, kalau dipaksakan biasanya mas sakit kepala," ujar Sean sejujur-jujurnya, selain tidak suka dipaska makan, Sean juga paling malas dipaksa tidur, kecuali tidur yang lain.
"Mau aku pijit?" tawar Zalina lagi, dia hanya berniat baik, tapi Sean justru mengusap wajahnya kasar.
"Ya sudah kalau tidak mau," ucap Zalina santai sembari menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Sean.
Tunggu, hal ini sedikit aneh. Apa Zalina memang tidak mempermasalahkan bau badannya, atau karena kejadian tadi dia enggan menjauh, pikir Sean.
"Tumben, hidungmu sudah waras, Na?" tanya Sean mengusap pelan rambutnya, jika benar iya jelas dia harus bersyukur sekalipun nanti akan jadi amukan mbok Ratri karena mencuri sabun kedua buah hatinya.
"Yang ini lebih baik, seperti wanginya Habil."
Baguslah, usahanya tidak sia-sia, tapi yang jadi masalah Zalina yang tidur dengan memeluknya begini membuat Sean susah payah menahan diri. Dirinya bahkan harus menggigit bibir dan memaksakan matanya terpejam demi menghindari hal yang terlalu jauh.
"Zalina sebentar, ada yang telepon," tutur Sean hendak beranjak dari tempat tidurnya, tapi Zalina secepat itu bergerak mengikuti sang suami.
"Angkat saja di sini, aku mau dengar," ucap Zalina meraih lengan Sean seolah dilarang menjauh darinya.
"Iya, duduk di sana," pinta Sean lantaran tidak ingin istrinya terlihat oleh seseorang yang menghubunginya.
Baru saja duduk, telinga keduanya dibuat sakit dengan teriakan Zean di seberang sana. Tanpa mengucap salam atau sapaan sopan lainnya, Zean marah besar dan meminta Sean mengaku di hadapan Nasyila tentang siapa Leona.
"Bicara yang jelas gila!! Kepalaku sakit," ucap Sean masih mengelus dadanya.
"Baiklah, dengarkan aku baik-baik ... barusan Lengkara mengatakan bahwa Leona meninggal dunia, sialnya adik sintingmu itu mengatakan bahwa Leona adalah cinta pertamaku. Kau tahu? Karena kabar bohong itu, istriku benar-benar percaya dan hal itu jadi masalah."
Panjang lebar Zean bicara, dan Sean hanya menanggapinya singkat sekali, "Lalu? Apa urusannya denganku?"
"Pertanyaanmu konyol sekali! Aku hanya ingin kau mengakui siapa Leona di hadapan Syila, kalau perlu perlihatkan buktinya ... kepalaku sakit, Sean," pinta pria itu tampak gusar.
"Ck bukti apa?"
"Ya bukti, bukankah kau masih menyimpan foto kalian sedari remaja? Yang waktu kalian kencan pertama naik biang lala, pas study tour ke Padang atau di puncak rinjani pokoknya terserah. Intinya yang pernah kau banggakan di hadapanku dulu, Sean."
Sean mendadak panas dingin, Zalina pasti mendengar dengan jelas ucapan Zean. Terlihat jelas dari wajah datar sang istri yang terlihat menahan sesuatu dalam dirinya.
"Ah kalau tidak, cukup foto kalian di Bandung yang malam tahun baru, pas tanganmu terbakar karena petasan itu, Sean!! Masih ada, 'kan?"
"Ya, Tuhan, Mama!! Harusnya dulu Zean dikubur beserta ari-arinya."
.
.
- To Be Continued -