
"Sayang kau tampan sekali."
Ucap Sora sambil membelai lembut rambut Aaron.
"Tentu saja,aku memang sudah tampan sejak lahir."
"Cup." Ucap Aaron yang sangat percaya diri lalu di akhiri dengan kecupan di dahi Sora.
"Kau juga sangat cantik." Balas Aaron.
Sora melebarkan senyumannya setelah mendengar ucapan Aaron.
"Kau sudah siap?"
"Aku siap,selama kamu ada di sisiku." Jawab Sora.
Aaron menatap Sora dengan tatapan penuh cinta dan kasih,lalu mengecupnya sekali lagi.
"kleek.."
Pintu terbuka.
"Tuan,nyonya,acara akan segera di mulai,seluruh keluarga sudah menunggu." Ucap Aiko.
Aaron dan Sora bersiap untuk melangkahkan kakinya
"Fiuh.."
Sora menghembuskan nafasnya agar bisa kembali tenang.
Di dalam hati Sora masih tersisa rasa khawatir jika harus bertemu dengan Elan saat acara berlangsung.
Menelisik ingatannya akan Elan yang dulu tak ingin melepaskan Sora karna suatu hal yang sampai sekarang tak di mengerti oleh Sora.
"Sayang."
Suara Aaron menyadarkan Sora dari lamunannya dan mengangguk menandakan dia sudah siap.
Lalu mereka berjalan dengan pelan saat memasuki ruangan di mana seluruh keluarga Markle menunggu,Aaron dan Sora melemparkan senyuman pada mereka dan memperlihatkan wajah yang bahagia.
"Sayang kau cantik sekali." Puji nenek.
"Trimakasih nek." Balas Sora.
"Kemarilah kau harus bertemu dengan mereka." Ucap nenek sambil berjalan dan menggandeng tangan Sora.
Sora tak bisa menolak permintaan nenek,dan membuat dia harus terpisah dari Aaron.
"Hai Ron!"
"Wouw kau terlihat lebih tampan daripada hari pernikahanmu." Ucap Sean yang tiba tiba menepuk bahu Aaron dari belakang.
"Sean?"
"Untuk apa kau ikut kemari?"
"Hahaha."
"Sayang kau lihat kan,dia kejam sekali padaku." Ucap Sean yang mengadu pada Reyna yang ada di sampingnya.
Reyna hanya tersenyum dingin,dan mengabaikan pembicaraan mereka,lalu meninggalkan mereka berdua.
"Kau harus tau Ron,aku di sini mewakili kakek Justo." Bisik Sean dengan bangga.
"Hahaha,aku senang sekali akhirnya aku menjadi keluargamu." Ucap Sean sambil memeluk Aaron dari samping dan menepuk bahunya.
"Saat kau menikahi Reyna,baru ku anggap kau keluargaku." Balas Aaron.
"Dasar gunung es,jawabanmu membuat hatiku sakit." Canda Sean.
"Haah..." sean menarik nafas dan menghembuskannya lalu berkata-
"Tenang sobat,aku pasti menikahi sepupumu itu." Ucap Sean yang berubah bersemangat dan menepuk sekali lagi kedua bahu Aaron,setelah itu Sean meninggalkannya.
Setelah Sean berlalu Aaron melayangkan pandangan ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Sora sambil menyesap beberapa teguk minuman yang di bawanya lalu berjalan pelan menyusuri setiap sudut dan membalas sapaan para tamu dengan senyuman.
Sekelibat Aaron melihat bayangan Sora yang di tarik oleh seorang pria.
Dengan tergesa gesa Aaron mengikuti mereka namun-
"Brakk. Pyarr."
Aaron menabrak pelayan yang sedang membawa minuman di nampan.
"Maaf tuan,saya tidak sengaja." Ucap pelayan itu.
"Lupakan." Jawab Aaron.
Kemudian Aaron kembali mencari keberadaan Sora.
"Sialan." Aaron mengumpat karna kehilangan Sora dari pandangannya.
"Bukankah pria itu Elan?"
"Apa mereka saling kenal?"
Aaron bertanya dalam hatinya dengan memendam rasa cemburu.
....
"Rey sayang.." Ucap nenek dengan wajah bahagia ketika bertemu dengan Reyna dan mencium pipinya.
"Di mana kakekmu?"
"Saat ini kakek sibuk dengan dunianya nek." Jawab Reyna.
"Sejak dulu kakekmu tak pernah berubah."
"Dia memang tak terlalu suka dengan pesta." Imbuh nenek.
"Iya nek,tolong maafkan kakek ya,kakek hanya mengirimkan sesuatu sebagai hadiah perkawinan Aaron."
"Baik,baik,tak masalah,yang terpenting dia masih sehat dan hidup."
"Sayang." Panggil nenek pada Sora.
"Kau pasti sudah kenal dengan Reyna kan?" Tanya nenek pada Sora.
"Iya nek." Jawab Sora yang terkejut jika Reyna datang di pesta ini.
"Hai Sora." Sapa Reyna dan tersenyum tipis.
"Rey..."
"Kau terkejut? Wah ternyata Aaron tak selalu terbuka padamu ya." Bisik Reyna yang puas bisa meledek Sora.
Sora hanya diam dan membalas dengan senyuman terpaksa di iringi tatapan tajam pada Reyna.
"Hei,tenanglah nikmati pestamu." Ucap Reyna yang tersenyum puas dan meninggalkan Sora sendirian.
...
Sudah tiga gelas minuman keras yang Elan habiskan.
"Bro,kau harus merelakannya." Ucap sahabat Elan sambil menepuk lengan Elan.
"Kau harus lupakan dia."
"Dan kau juga harus terima kenyataan,sekarang wanita itu istri sepupumu."
"Aku tau!" Jawab Elan ketus lalu meninggalkan sahabatnya sendirian.
Elan melangkahkan kakinya perlahan ke arah Sora yang berdiri sendirian setelah berbicara dengan Reyna ,namun langkahnya harus terhenti saat seseorang menggenggam pergelangan tangannya dengan kuat,Elan menoleh perlahan untuk melihat orang yang berani menghentikannya.
"Danish..,lepaskan!!"
"Berani sekali kau!" Ucap Elan pada Danish sahabatnya.
Danish menatap dengan cemas dan menggelengkan kepalanya,memintanya agar tak mendekati Sora.
"Lan jangan lakukan hal bodoh,Aaron bukan tandinganmu." Pinta Danish.
Terlihat kemarahan di wajah Elan.
Dengan sekuat tenaga Elan menarik tangan Danish agar terlepas dan mengabaikan peringatan Danish.
Melihat Sora yang sendirian di tengah pesta Elan mendekatinya.
Tanpa berkata kata secepat kilat meraih tangan Sora dan menariknya dengan paksa untuk mengikutinya keluar.
"Elan?!" Ucap Sora dengan suara sedikit keras,menyadari suaranya hampir mengundang perhatian tamu,Sora mengecilkan suaranya.
"Kamu!"
"Lepas nggak!!"
"Kamu gila ya?"
Sora tak dapat menghindar dari Elan. Sora tak menyangka jika Elan akan berbuat nekat seperti itu.
Setelah berada di luar Sora mencoba melepaskan genggaman Elan dengan kasar dan mencoba untuk kabur.
Melihat Sora yang akan meninggalkannya Elan meraih tangan Sora kembali dan menggenggam dengan kuat.
"Lan lepasin gak!" Ucap Sora dengan nada marah.
Elan semakin menggenggam erat pergelangan tangan Sora dan berjalan dengan cepat lalu menghentikan langkahnya saat tiba di teras.
Terbias di mata Elan memohon pada Sora agar mau berbicara dengannya.
"Lan,jika kamu gak mau lepasin,aku akan membencimu seumur hidupku!" Ancam Sora.
"Ra,janji setelah aku lepasin tanganmu,kamu gak akan kabur dari aku." Pinta Ellan dengan wajah sedih.
"Oke,tolong lepasin tangan kamu dulu,setelah itu kita bicara." Balas Sora.
Elan senang mendengarnya.
"Ra,aku kangen kamu."
"Apa kamu tau,aku telah~
"Stop!" Ucap Sora untuk menghentikan ucapan Elan.
"Lan bukankah sudah aku bilang,kau salah paham dengan apa yang terjadi dengan kita."
"Ra,apa kamu akan terus menyangkal apa yang terjadi dengan kita malam itu."
"Tunggu! Yang terjadi dengan kita malam itu?"
"Maksud kamu?"
Sora terkejut dengan perkataan Elan.
"Ra,malam itu,malam kelulusan kita."
"Kamu,aku,kita mabuk dan kita sudah..."
Mendengar keterangan Elan,Sora mengerti kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka.
"Maksud kamu.."
"Oh God."
Sora terkejut sembari menutup mulutnya.
"Lan,apa kamu mengira aku wanita yang telah kamu tiduri malam itu?"
"Bukankah sudah jelas bahwa itu kamu." Ucap Elan memastikan dan melangkah pelan mendekati Sora.
Sora melebarkan senyumannya.
"Maaf mengecewakanmu Lan,itu bukan aku." Terang Sora.
"Kamu bohong kan?"
"Aku tau kamu menyangkal semua itu karna ingin bersama dengan Aaron!"
Ucap Elan kesal sambil mencengkeram erat bahu Sora.
"Lan,tolong lepasin aku."
"Kamu udah nyakitin aku." Ucap Sora menahan rasa sakit di bahunya.
"Maaf."
Dengan wajah bersalah Elan perlahan mengendurkan jari jari nya yang telah mencengkeram bahu Sora.
Tiba tiba seseorang menarik bahu Elan dan memukul wajahnya hingga terpental ke lantai.
"Bhukk."
Lalu pria itu membungkuk dan menarik kerah jas Elan dan berlanjut memukulinya berulang kali hingga darah keluar dari pelipis dan mulut Elan.
Sora terkejut ternyata Aaron yang menarik bahu Elan dan melayangkan tinju pada Elan.
"Sayang." Teriak Sora.
Sora berusaha menghentikan kebrutalan Aaron.
"Sayang,pliss tolong hentikan."
Sora menarik dengan paksa lengan Aaron agar menghentikan tinjunya.
Aaron dengan dengan kasar mendorong Elan ke lantai.
"Kamu gak apa apakan sayang?" Tanya Aaron.
Sora menggeleng pelan.
Tanpa berkata kata Aaron merangkul Sora dan menuntunnya agar beristirahat di dalam kamar.