
Masih dengan malam yang menyedihkan bagi Rafka. Laki-laki itu masih setia menatap sang putri yang sedang minum susu, sedangkan Keyla terlihat sudah tidur.
"Belum mengantuk, sayang." Rafka membelai pipi putrinya dengan jari telunjuk. Pipi gembul dan mulus.
Kalau berjerawat itu pipi kamu wkwkwkwk.
Rafka menghela nafas panjang, ia pun memilih berbaring di dekat putrinya sembari menepuk pelan kaki Zura agar putrinya itu tertidur.
Walaupun Zura tertidur, Rafka tetap akan berpuasa lagi malam ini. Melihat istrinya yang tertidur pulas membuat ia tak tega.
Rafka pun memilih tidur saja, apalagi matanya juga sudah berat. Nanti saja buat anak nya.
****
Keesokan harinya.
Setelah selesai sarapan, Rafka harus pergi ke rumah sakit untuk bekerja. Ia tak mungkin menunda lagi pekerjaan nya, itu sama saja melalaikan tugas nya.
"Abi pergi kerja dulu yah, sayang. Jaga umi yah, jangan nakal-nakal," ucap Rafka mencium pipi kedua anaknya bergantian.
"Iya, Abi. Jangan nakal di sana juga yah, kalau nakal nanti umi marah," jawab Keyla menirukan suara anak kecil. Rafka terkekeh lalu mengecup pipi Keyla tak lupa pula kening istri tercinta nya.
"Tata, assalamualaikum." Rafka melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil.
"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, tata juga Abi." Keyla membalas lambaian Rafka.
Mobil pun melaju meninggalkan kawasan rumah. Keyla meminta pelayan untuk kembali mendorong kursi rodanya menuju kamar. Di kamar ia bisa bebas bermain dengan anaknya tanpa takut bahaya.
Sesampainya di kamar, Keyla meminta pelayan untuk memindahkan anaknya yang ada di pangkuan ke atas karpet. Dengan sigap pelayan itu membantu.
Keyla pun mencoba berdiri dari kursi rodanya, meski masih sedikit kaku ia sudah bisa berdiri dengan baik. Perlahan Keyla berjalan mendekati kedua anaknya lalu ikut duduk di karpet.
"Eum, eum," gumam si kembar sembari menepuk-nepuk tangan mereka.
Keyla tertawa senang melihat kedua anaknya mencoba menyemangatinya.
"Senang yah?" Keyla mengeluarkan semua mainan dari dalam tas mainan lalu bermain bersama kedua anaknya. Untungnya si kembar tidak nakal dan sangat penurut jika bersama Keyla.
******
Di rumah sakit.
Rafka baru saja tiba di rumah sakit, sudah banyak pasien yang mengantri di depan ruangan nya untuk melakukan pemeriksaan pada mata mereka.
Karena sebelumnya Rafka tak bekerja jadi banyak pasien yang mengeluh dan lebih baik menunggu sampai dokter Rafka bekerja.
"Selamat pagi, dok." Mereka menyapa Rafka.
"Pagi" balas Rafka tersenyum ramah.
Rafka pun masuk ke dalam ruang pemeriksaan lalu duduk di kursi nya.
Perawat pendamping pun mulai memanggil satu-persatu nomor antrian.
Pasien pun bermacam-macam, ada balita hingga lansia.
Rafka pun mulai mendengarkan keluhan dari pasien nya hingga melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
****
Sore harinya.
Rafka baru saja selesai bekerja, banyak sekali pasiennya. Sebenarnya masih ada lagi pasien yang belum mendapatkan pemeriksaan, hanya saja tugas Rafka memang sampai sore. Kalau malam sudah ada dokter lain yang melayani.
Rafka mengemudikan mobilnya pulang ke rumah. Ia sudah tak sabar menemui keluarganya. Ia sangat bahagia karena Allah memberikan ia keluarga yang harmonis dan juga hangat.
Di perjalanan, Rafka memilih berhenti di toko baju. Ada sesuatu yang ingin ia beli dan itu rahasia.
Beberapa menit kemudian, Rafka sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Segera ia masuk ke mobil dan melajukan mobilnya untuk pulang.
*****
Malam harinya.
Setelah selesai makan malam, Rafka menimang kedua anaknya agar cepat tidur. Tapi, kedua anaknya itu masih membuka mata dengan lebar.
"Umi," panggil Rafka.
Aria pun menoleh lalu menggerakkan alis nya tanda ia bertanya.
"Eum, boleh minta tolong?" tanya Rafka malu-malu.
"Minta tolong apa?" tanya Aria mengelus pipi Zura yang tampak ingin menangis.
"Jaga kan si Abang sama si Adek boleh?"
"Boleh," jawab Aria mengangguk.
"Yang benar, umi?"
"Eum, kami tidak kemana-mana, hanya di kamar saja." Pipi Rafka sudah memerah.
Aria tertawa lepas lalu menggendong Azzam, "bawa si Adek ke kamar umi yah. Biar umi dan Abi yang menjaga mereka," ucap Aria dan diangguki oleh Rafka. Untungnya Aria pengertian.
Di kamar Gabriel.
Gabriel tampak baru saja selesai menghubungi Razka. Ia melihat Rafka masuk bersama Aria. Keningnya berkerut mengisyaratkan tanda tanya.
"Malam ini kita akan mengasuh si kembar," ucap Aria menjelaskan. Ia paham apa yang ada di pikiran suaminya.
"Memangnya Rafka dan Keyla mau kemana?" tanya Gabriel mengambil Zura dari gendongan Rafka.
"Mau buat anak lagi," jawab Aria.
"Umi." Rafka sangat malu. Kalau saja kedua anaknya ini cepat tidur kan ia tak perlu menitipkan mereka pada orangtuanya.
"Oh, tapi kita juga kan.....
"Shuutttt, malam ini cuti." Aria langsung memotong ucapan Gabriel.
"Hm, yasudah lah. Yang semangat yah," ucap Gabriel memberikan semangat pada putranya.
"Semangat apa?" tanya Rafka.
"Olahraga nya yang semangat," jawab Gabriel tertawa.
"Sudah sana, nanti kalian kehabisan waktu." Aria mengusir putranya lalu mengunci kamar. Mereka akan bermain dengan cucu mereka malam ini.
*******
Di dalam kamar.
Rafka baru saja masuk ke dalam kamar. Terlihat Keyla tengah menyisir rambut panjang nya.
"Sayang," panggil Rafka langsung bergelayut manja.
"Lah, mana si kembar?" tanya Keyla tak melihat dua malaikat kecilnya di dalam gendongan Rafka.
"Mereka aku titipkan pada Abi dan Umi agar kita bisa bebas malam ini," jawab Rafka tersenyum senang.
"Lah, kan bisa tunggu mereka tidur. Kenapa harus merepotkan Abi dan Umi?"
"Sayang," rengek Rafka.
"Apa?" tanya Keyla tersenyum melihat tingkah laku suaminya yang kebelet itu.
"Aku ada hadiah untuk mu," ucap Rafka mengambil belanjaan yang ia beli tadi sore.
"Ini sayang." Rafka memberikan tas belanjaan itu pada Keyla.
"Apa ini?" tanya Keyla penasaran. Keyla pun membuka tas belanjaan itu, matanya seketika membulat.
"Apa ini?" Keyla langsung tertawa melihat isi tas itu.
Rafka hanya bisa tertawa kecil saja menampilkan gigi rapi nya.
"Lingerie," gumam Keyla tak habis pikir.
"Pakai sayang," pinta Rafka senang.
"Bagaimana kalau tidak pakai baju saja?" tawar Keyla menggerakkan kedua alis nya bersamaan.
"Pakai dulu sayang, nanti kalau sudah di bawah selimut baru tak pakai baju," pinta Rafka tetap ingin Keyla memakai pemberiannya.
"Iya, iya."
Keyla pun memilih memakai pemberian Rafka. Sebuah lingerie seksi berwarna merah, hal itu menambah kesan seksi pada Keyla yang sudah memang seksi walau memakai baju yang besar.
Beberapa menit kemudian.
Rafka masih menunggu di atas ranjang. Hingga akhirnya Keyla keluar dari ruang ganti, Rafka langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Ia tertawa kecil bagaikan anak-anak yang baru saja di belikan mainan.
"Ayo sayang," ajak Keyla naik ke atas ranjang dan menggoda suaminya.
Sudah lama sekali ia tak menggoda suaminya.
Rafka membuka matanya dan menurunkan tangannya. Dengan cepat memeluk istrinya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Malam ini adalah malam yang hangat setelah malam-malam yang penuh kesunyian dan air mata.
Berharap ini tak pernah berakhir hingga maut memisahkan.
End. :)
Terimakasih.