Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part - Kabar Baik/Buruk?


"Maafkan teman saya, Pak."


Lain yang berbuat, lain yang bertanggung jawab. Ya, begitulah kata-kata yang pantas menggambarkan situasi saat ini. Pasca membuat keonaran, Ricko kembali menjadi tanggung jawab Sean.


Tidak hanya ganti rugi tahu yang rusak, melainkan juga gerobaknya. Entah mimpi apa dia semalam hingga harus dihadapkan dengan masalah semacam ini. Ingin marah, tapi Ricko sudah begitu dewasa. Jika masih seumuran Satria mungkin saja bisa dimaklumi, tapi yang terjadi kini justru berbeda.


"Bulan depan potong saja gajiku, hehe."


Mudah sekali dia bicara, potong gaji katanya. Sean bukan tipe orang seperti itu, dia tidak seperti Zean yang kerap memotong gaji karena sebuah kesalahan. Ya, sebenarnya andai dia potong gaji Ricko, mungkin habis hanya untuk ganti rugi. Beruntung saja Ricko bekerja pada Sean, bukan keluarganya yang lain.


"Lupakan, lain kali jangan asal, Ricko."


Usia mereka tidak jauh berbeda, tapi saat ini posisi Axel masih benar-benar harus dijaga layaknya anak kecil. Sean berlalu melewati Ricko yang hanya tertunduk setelah melalukan kesalahan besar itu.


Baru saja sedikit lebih tenang, telepon Sean berdering yang memperlihatkan pak Wan menghubunginya berkali-kali. Perasaan Sean mendadak tidak nyaman, khawatir dan cemas menjadi satu.


"Apa? Sa-saya kesana sekarang."


Axel yang tidak mengetahui apa permasalahannya jelas saja terkejut kala Sean panik dan tiba-tiba berlalu tanpa kata. Sudah pasti sangat buruk hingga dia sampai melupakan jika Axel berada di sana.


"Sean tunggu!! Ada apa?"


"Istriku jatuh dari tangga, aku harus ke rumah sakit, Axel."


Seketika mata Axel dan Ricko turut membola. Pantas saja Sean sepanik itu, tidak ingin Sean justru celaka, Axel meminta izin agar dirinya saja yang mengemudi.


Sepanjang perjalanan, Sean tak hentinya berdoa agar istrinya baik-baik saja. Ini yang menjadi alasan Sean tidak pernah bersedia meninggalkan Zalina, selama berada di bawah pengawasan Sean sang istri sangat baik-baik saja.


Namun, belum satu hari dia tinggalkan sudah celaka. Kemana mata Zalina, apa yang dia pikirkan dan kenapa bisa jatuh. Segunung pertanyaan muncul dalam benak Sean, seketika Sean mengingat wajah teduh Zalina yang mengatakan rindu melihatnya seperti awal menikah.


"Jangan tinggalkan mas, Na."


"Sean tenang, jangan berpikir buruk dulu."


Beruntung saja Axel datang di saat yang tepat. Lihat saja kini, Sean kacau dan mulai berpikir macam-macam. Dia menangis, mata pria itu membasah dan berusaha tenang hingga dadanya terasa sakit.


Axel menambah kecepatannya, tidak peduli mungkin sudah menjadi umpatan banyak pengendara yang lain, yang jelas Axel ingin cepat, itu saja.


Tiba di rumah sakit, Sean tidak lagi menunggu kedua sahabatnya. Yang ada di pikirannya hanya Zalina dan calon buah hatinya. Seperti Zalina yang trauma dengan rumah sakit, Sean juga demikian.


Tiba di sana umi Rosita dan abi Husain sudah menunggu mereka. Dada Sean yang berdegup tak karuan semakin kacau kala mendengar pertanyaan menyakitkan dari dokter itu.


"Ibu atau anaknya?"


"Dua-duanya," jawab Sean mantap, dia tidak bisa hidup tanpa Zalina, begitu juga dengan buah hatinya.


"Pak ini so_"


"Dua-duanya, Dokter!! Anda belum mencoba, jadi tolong usahakan yang terbaik untuk anak dan istri saya!!"


Sean begitu menjaga calon buah hatinya, sejak mengetahui Zalina hamil setiap detik dia gunakan untuk bersamanya. Namun, kenapa di akhir justru beginu, sungguh Sean benar-benar tidak mengerti.


"Berdoa saja, Zalina jatuh tidak terlalu tinggi ... jangan berhenti, terus berprasangka baik, Sean," tutur umi Rosita menenangkan menantunya, walau jujur saja dia juga cemas.


Ricko yang tadinya banyak bicara mendadak bungkam melihat Sean yang terpuruk dengan keadaan Zalina. Baru saja semalam Zalina mengancam Ricko dengan raket nyamuk lantaran membuat Habil menangis, kini wanita berhati bidadari itu harus berjuang antara hidup dan matinya.


"Axel, kau pulang saja, aku yang akan menemani Sean."


"Nanti saja, Ana sudah kukabari jadi dia tidak akan terkejut."


.


.


- To Be Continued -