
Di kediaman keluarga Rassam.
"Sora,Kakek mempercayaimu,tapi kenapa kau mempermalukan keluarga kita."
"Kakek dengerin penjelasan Sora kek."
"Kring kring kring."
Suara telepon rumah berdering.
"Steve antar Sora ke kamarnya." Perintah kakek.
"Sora baiknya kau ke kamar dulu,biarkan kemarahan kakek reda." Ucap steve
"Pa tolong dengerin Sora."
"Kau ke kamar dulu,setelah ini papa ke kamarmu."
Sora keluar ruangan dan menuju ke kamarnya.
Beberapa menit Sora keluar,olivia masuk ke ruang kerja.
Melihat Ramush Rassam sedang berbicara di telpon olivia bertanya pada steve.
"Suamiku gimana dengan Sora?"
"Enggak apa apa kok sayang,Sora sekarang di kamar."
"Baik aku akan ke kamar Sora."
"Tunggu sebentar aku akan ikut denganmu,aku harus berbicara dengan ayah dulu."
Setelah Ramush Rassam meletakkan gagang telpon ke tempatnya,dia berbicara dengan steve dan olivia.
"Steve ayah akan tetap merencanakan makan malam dengan keluarga Torres."
"Ayah lebih baik dengerkan dulu penjelasan dari Sora."
"Benar ayah bukankah pria tadi adalah ayah dari anak yang sedang di kandung Sora." Sela olivia.
"Ayah tau,ayah hanya ingin lihat seberapa besar kesungguhan dan ketulusan pria itu pada Sora."
"Ayah juga ingin lihat apa dia pantas untuk Sora."
"Jika mengenai keluarga Torres ayah yang akan mengurusnya,tenang saja ayah tidak akan gegabah."
"Baik ayah."
"Ayah sudah berpengalaman dalam hidup ini,steve sama olivia percaya dengan keputusan ayah." Ucap steve.
"Ayah janji ya jangan bikin Sora pergi lagi."
"Sekarang Sora kan sedang hamil,ayah harusnya mengerti ada keturunan keluarga Rassam dalam perut Sora." Ucap olivia.
"Iya iya tak perlu kau jelaskan ayah tau, sana kalian temui Sora,sekarang ayah sudah tidak marah lagi."
Steve dan olivia meninggalkan Ramush Rassam dan melangkah menuju kamar Sora.
Olivia mendekati Sora,duduk di pinggiran tempat tidur sambil membelai rambut Sora.
"Sayang gak usah nangis lagi,kamu sedang hamil gak baik buat perkembangan janin kamu."
"Mama tadi sedikit shock baca tentang kehamilan kamu,kalo aja mama gak pingsan pasti gak akan sampai ada kejadian tadi."
"Enggak ma,ini emang salah Sora."
"Sayang sekarang kamu cerita sama papa mama,siapa pria itu?" Tanya steve
"Pa ma,kalau Sora cerita jangan marah ya."
"Papa tau hubungan kamu dengan Aaron bukan sekedar atasan dan bawahan."
"Kamu inget papa pernah tanya tentang Aaron."
"Saat itu papa bertemu dengan Aaron,papa tau Aaron pria yang baik."
"Papa mendengar dari mulutnya sendiri bahwa dia sangat mencintai istrinya."
"Papa juga lihat kamu pake cincin yang sama dengannya."
"Sekarang kamu cerita semua pada kami."
"Iya pa,sebenarnya... Sora sama Aaron sudah menikah pa ma."
Steve dan olivia hanya menghela nafas.
"Kenapa dari awal kamu gak terus terang sama papa mama." Tanya steve.
"Maafin Sora pa."
"Kamu harus tau keluarga kita akan bertemu dengan keluarga Torres dua hari kedepan."
"Jika kakek sudah ambil keputusan papa mama tidak bisa berbuat apa apa."
"Sampaikan ke Aaron dia harus berusaha mendapatkanmu kembali." Terang steve.
"Sayang mama akan berusaha membantumu membujuk kakek."
"Papa mama,terima kasih."
Air mata Sora tak henti hentinya mengalir membasahi pipinya.
Olivia memeluk putrinya,membelai rambutnya agar merasa tenang.
"Sekarang kamu istirahatlah." Ucap olivia.
***
Aaron duduk di ruang tamu,menatap laptop nya.
"Ah si***n, hari ini kenapa ada kejadian kayak gini sih."
"Aku jadi gak bisa konsentrasi." Aaron mengomel dan mengacak acak rambutnya sendiri.
"Dia gak apa apa kan." Batin Aaron yang sedang menatap ponselnya,berharap Sora menelponnya.
"Trililit trililit."
Saking kagetnya dengan suara telpon yang masuk,ponsel yang ada di tangannya terlepas dan melompat lompat dari tangan kanannya ke tangan kirinya,dan akhirnya terjatuh ke dalam teko yang berisi air yang ada di meja.
"Aaargh s**l."
Aaron merasakan kemarahan yang hampir meledak,tangannya mengambil ponselnya di dalam teko,berusaha untuk menyalakan ponselnya tapi tetap saja tidak bisa menyala.
ia lalu berdiri dan bergegas ke ruang kerjanya,mengambil telepon rumah dan menekan nomer fredy.
"Fredy kemari,belikan aku ponsel baru yang tahan air." Perintah Aaron.
"Baik tuan muda."
Aaron menunggu kedatangan fredy,hingga membuat Aaron galau tidak bisa tenang.
"Kenapa lama sekali sih."
"Sudah dua puluh menit fredy gak datang datang."
"Aaargh..awas ya kalau Sora kenapa napa kamu ntar yang aku habisi."
Omel Aaron yang mondar mandir menanti kedatangan fredy.
Mendengar ada mobil masuk Aaron langsung berlari keluar rumah.
Baru turun dari mobil Aaron sudah meminta ponselnya.
"Mana ponselnya?"
"Ini...."
Aaron langsung mengambil dan berbalik kembali ke dalam rumah tanpa mendengarkan perkataan fredy.
Fredy masih dalam kebingungan dengan perilaku Aaron barusan.
Setelah memasang kartu ponsel,Aaron buru buru menelepon sora.
"Hallo sayang,maafkan aku tadi saat kau telpon aku,ponselku terjatuh ke dalam air."
"Kau gak apa apa kan?" Tanya Aaron.
"Aku gak apa apa." Jawab Sora di seberang telpon.
"Syukurlah."
"Apa besok aku boleh menemuimu?"
"Sayang kamu masih inget kan kamu akan datang bersamaan dengan kedatangan keluarga Torres,Kakek ingin melihat usaha kamu untuk mendapatkan aku."
"Kau kan istriku, dan sekarang sedang mengandung anakku,kenapa kakekmu kejam banget sih ama aku."
"Sayang kau harus tau,aku kan cucu satu satunya keluarga Rassam."
"Kakek gak akan biarin ada pria yang gak di kenalnya bawa cucunya."
"Oke, aku akan ikuti aturan yang di buat kakekmu,kau tenang saja aku masih punya kartu lainnya agar kakekmu mau merestui pernikahan kita."
"Sayang besok kamu jangan berdebat dengan kakekku ya." Ucap Sora.
"Iya iya,Kau gak usah khawatir,kau tidur aja sekarang."
"Eh aku lupa,gimana dengan lukamu?"
"Udah gak apa apa."
"Sekarang aku tutup telponnya ya." Ucap Aaron.
"Emm gak mau."
"Aku masih pengen denger suara kamu.
"Aku juga pengen meluk kamu.
"Ihik ihik..."
"Udah udah."
"Aku akan berusaha buat kakekmu terima aku."
"Kamu gak usah sedih,ntar kasian arsa ikutan sedih."
"Arsa?"
"Siapa Arsa?"
"Itu nama anak kita istriku yang cantik..."
"Singkatan dari Aaron Sora."
"Kamu.." Sora tak kuasa menahan air matanya.
"Kok kamu diem?"
"Kamu nangis?"
"Kalo kamu gak jawab,aku akan ke rumahmu,aku gak peduli jika harus di pukuli kakekmu lagi." Ucap Aaron.
"Enggak sayang,gak usah ke sini, aku cuma terharu."
"Ya udah aku tutup telponnya dulu."
"Iya,kamu makan yang banyak ya,jangan sampai kamu sama Arsa kelaparan."
"Iya."
"Daa muach." Sora menutup telponnya dengan sebuah kecupan.
Fredy yang mendengarnya ikut tersenyum senyum sendiri.