Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 132 - Menghalalkan Segala Cara


"Bagaimana Yudha?"


Mulut Sean memotong pembicaraan Yudha yang baru saja menjelaskan maksudnya. Sementara mata pria itu melirik Zalina sekilas dan mengerti jika sang istri tampak penasaran dengan pembicaraan mereka.


Zalina memang tidak mengganggu pembicaraan Sean, mulutnya tidak cerewet. Akan tetapi, tubuh wanita itu memang tidak bisa diam. Cukup lama Sean bicara, dan selama itu pula Zalina berusaha memanjangkan leher dan menajamkan pendengarannya.


Kendati sang istri membuat fokusnya terpecah, Sean tetap bisa mendengar penjelasan dari Yudha begitu seksama. Hingga, Zalina menatap tajam kala Sean membahas pertemuan dengan Ana secara empat mata.


"Harus berdua, Yud?"


Hati Zalina sudah bengkak sebenarnya, tapi dia susah payah menahan diri untuk tidak meluapkan amarah. Mata tajamnya masih memantau pergerakan Sean, wanita itu bahkan tidak berkedip hingga matanya seakan kering.


"Hm sebenarnya bisa," jawab Sean menatap Zalina sekilas, seolah sengaja mengucapkan hal itu dengan suara yang begitu jelasnya.


"Mas ...." Suaranya mulai merengek, Zalina kian mendekat dan kini menarik pergelangan tangannya.


Bukannya menjawab panggilan sang istri, Sean semakin fokus membahas pertemuan dengan Ana yang benar-benar membuat kepala Zalina berasap.


"Lusa? Kebetulan aku tidak ada rencana lusa, sampaikan padanya aku bisa, Yud."


"Ih Mas, kamu belum izin loh ya!! Bisa apanya bisa?"


Sejak tadi hanya berani mengeluarkan suara lemahnya. Kini, kekuatan Zalina seolah bangkit dan berusaha merebut ponsel Sean. Secepat mungkin Sean merubah posisinya, saat itu juga Zalina tidak mau kalah dan menggigit punggung sang suami.


"Apa? Kenapa main rahasia-rahasia begitu? Kenapa aku tidak boleh dengar? Hm?" tanya Zalina yang kini menarik rambut Sean hingga kepala pria itu menengadah ke atas.


Bukannya marah, Sean hanya tertawa sumbang mendapati sang istri semakin menggila begini. Zalina tidak bercanda dalam menyakiti Sean, bahkan ketika ponsel itu berhasil jatuh ke tangannya, wanita itu masih terus menjabaknya.


"Mati ... kenapa dimatiin?"


"Yudha yang matiin, mas mana tahu ... mungkin dia takut mendengar suaramu," ucap Sean yang membuat Zalina semakin kesal saja, setelah tadi sempat menggigit punggungnya kini Zalina meraih jemari Sean dan melakukan hal yang sama.


"Astaga ... kamu kenapa jadi ikut-ikutan Habil? Hm?"


Jika ditanya apa penyebab Zalina menggila, tentu saja karena Sean yang menyulut api. Salah sendiri kenapa bersikap seolah Zalina adalah pengganggu dan merahasiakan isi pembicaraan mereka. Lebih menyebalkan lagi, Zalina merasa panas seketika kala Sean begitu antusias membahas pertemuan dengan Ana.


"Kenapa memangnya? Bukankah kamu tidak suka berada di dekat mas? Mas bau dan wajah mas menyebalkan, kenapa tidak boleh ketemu Ana? Kan kalau mas jauh kamu bisa sedikit lebih tenang," tutur Sean menarik sudut bibir begitu tipis, nyaris tidak terlihat di mata Zalina.


"Kan waktu itu sudah aku bilang, jangan menghilang dari pandanganku!! Mas memang bau dan wajahmu memang menyebalkan, tapi bukan berarti aku mengizinkan mas pergi begitu saja!! Apalagi menemui wanita itu sendirian," pekik Zalina dengan mata yang kini berkaca-kaca.


Tidak butuh waktu lama, dadanya sudah naik turun dan seketika tangisnya pecah dalam pelukan Sean. Kali pertama setelah beberapa hari Zalina menengelamkan wajahnya di dada bidang Sean, sontak pria itu berseru yes dengan senyum yang mengembang tanpa sepengetahuan Zalina.


Tanpa Zalina ketahui, jika di sudut kota lain seorang pria tampan dengan piyama yang belum sempat dia kancingkan tengah mengerutkan dahinya. Entah telinganya salah dengar atau bagaimana, yang jelas dia mendengar bagaimana Sean yang mengada-ngada sebelum kemudian terdengar teriakan Zalina.


"Dasar sinting ... pasti dia sedang berusaha membuat istrinya cemburu," gumam Yudha pelan setelah dia menyimpulkan apa yang terjadi beberapa saat lalu.


Sama sekali Yudha tidak mengatakan jika Ana meminta bertemu, apalagi harus berdua dan sebagainya. Hasil DNA Satria saja baru keluar tadi siang, jelas yang Yudha hubungi pertama kali hanyalah Sean seorang.


Jika hanya untuk memberitahukan hasil DNA itu, maka Yudha saja cukup sebenarnya. Bahkan untuk memertemukan Satria bersama ayah kandungnya juga demikian. Sekalipun Sean dibutuhkan, jelas saja Yudha tidak akan pernah membiarkan dia sendiri karena tahu kondisi Zalina saat ini.


"Huft terserah dia saja, yang terpenting Satria sudah jelas asal-usulnya ... aku jadi ikut lega," ungkap Yudha menghela napas panjang sebelum kemudian menghempaskan tubuhnya.


Selama hasil DNA itu belum keluar, Lengkara terus saja berprasangka buruk padanya. Bukan tanpa alasan, Satria yang selalu menghubunginya lewat panggilan video dan memanggil Yudha dengan sebutan Daddy itu membuat Lengkara sedikit tak suka.


Terlebih lagi, di saat itu juga tampak Ana yang berada di belakang Satria. Sebagai wanita yang mencintai prianya, jelas hal itu wajar-wajar sana. Kini, Yudha menjadi sedikit lebih tenang setelah mengetahui fakta siapa ayah biologis Satria.


"Axel ... aku harap kau bertanggung jawab penuh pada anak itu," ucap Yudha sebelum kemudian memejamkan matanya.


Harapan Sean dan dirinya di hari itu benar-benar terbukti, setidaknya dia bisa lebih tenang jika Axel benar-benar ayah Satria, bukan lainnya. Namun, belum juga sempat terlelap ponsel Yudha kembali berdering hingga pria itu menendang angin karena sudah lelah luar biasa.


"Ya Tuhan!! Siapa lag_ hah? Kak Zalina?" Rasa kantuk Yudha mendadak pergi begitu melihat siapa yang menghubunginya, seketika tangan pria itu bergetar mengingat bagaimana amukannya pada Sean barusan.


"Wanita adalah makhluk paling berbahaya, apalagi jika hamil."


.


.


- To Be Continued -