Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 124 - Di atas Materai


Sementara Sean pergi, Zalina kembali melirik surat perjanjian yang baru saja Sean selesaikan. Jika Zalina teliti lagi, sama sekali tidak ada hubungannya soal keharusan membayar cicilan atau menyinggung masalah hutang. Namun, yang tertera di sana lebih ke arah perjanjian antara suami istri dan tentu saja menguntungkan Sean sebagai suami.


"Tidur harus pelukan, wajib memberikan morning kiss, tidak boleh pakai selimut yang berbeda, tidak boleh menolak suami, apalagi sampai menelantarkannya di atas ranjang."


Baru melihat empat butir perjanjian saja, Zalina sudah mengelus dada. Saat ini dia tengah berpikir sebenarnya Sean tengah bercanda atau tidak, jika memang bercanda kenapa rasanya seserius ini.


"Lucu banget sih dia."


Mungkin di antara wanita yang terjebak dalam tipu daya lelaki, hanya Zalina yang memuji. Bagaimana tidak dia katakan lucu, semua yang Sean tulis hanya sebuah permintaan yang kerap dia utarakan pada Zalina setiap harinya.


Hingga, Zalina terbatuk seketika kala melihat butir terakhir, tadinya belum dia baca dengan benar. Hingga detik ini juga Zalina benar-benar merasa jika Sean tengah mencari kesempatan di tengah kesempitan.


"Sayang!! Ini mas dapat materainya ...."


"Mas!! Bisa jelaskan maksud butir terakhir ini apa?"


"Apa memangnya?"


"Bulan madu setiap anniversary dan aku harus bersedia melayanimu 24 jam non-stop dengan berbagai ... Ga-gaya? Mas gila ya?!!"


"Keberatan?" tanya Sean santai seraya mengangkat alisnya, jangan lupakan senyum tengil khas yang kerap dia perlihatkan disaat menekan seseorang.


"Kalau keberatan perjanjiannya batal ... beserta hutang-hut_"


"Tidak, Mas!! Tidak keberatan sama sekali."


"Bagus."


Sean mengusap puncak kepala Zalina, sudah dia duga mana mungkin Zalina mampu terlepas dari jeratnya. Meski dia tahu senyum istrinya sangat-sangat terpaksa, tapi Sean sama sekali tidak peduli.


Terpksa, Zalina hanya bisa menurut kala Sean menarik pergelangan tangannya. Dapat dilihat dengan jelas siapa yang diuntungkan dalam hal ini, wajah Sean begitu sumringah sementara Zalina hanya berusaha mengatur napasnya.


"Buka mulutmu," titah Sean meraih dagu sang istri, belum juga sempat bertanya Sean menempelkan jemarinya ke atas permukaan lidah Zalina.


"Jorok banget sih, pakai air atau lem bisa"


"Ribet, nanti jari mas lengket," tutur Sean santai dan lagi-lagi membuat Zalina menggeleng pelan.


Terserah Sean saja, dia sudah telanjur mengikuti arus sang suami. Tugas Zalina saat ini hanya tanda tangan di atas materai, seumur hidup pertama kali Zalina tahu jika ada suami yang memberi istrinya uang dengan cara serumit ini.


"Silahkan, nyonya Zalina."


"Nyonya-nyonya," gerutu Zalina yang kini cemberut, jika saja bukan karena 2,8 M itu mungkin Zalina akan menarik rambutnya kuat-kuat.


Sama sekali Sean tidak tersinggung, sekalipun mata tajam sang istri seolah tengah mengajaknya berperang. Sean tetap memberikan senyum paling manis kala menerima pulpen yang Zalina serahkan.


"Sebentar, foto dulu."


"Kok gitu? Mas becandain aku ya?"


"Tidak, Sayang memang begitu sebuah perjanjian harus diperlihatkan dengan jelas supaya jadi bukti kalau nanti kamu mangkir_"


"Astagfirullah, Sean ternyata begini watak aslimu."


Sean terkekeh, puas sekali dia hari ini melihat Zalina yang mendadak frustrasi hanya dalam hitungan menit. Lucunya sang istri tetap patuh dan bersedia mengikuti perintah Sean, keduanya berjabat tangan layaknya dua perusahaan yang tengah melakukan kerja sama.


"Lama!! Timernya juga kenapa sampai 10 detik begitu." Zalina sebal sendiri lantaran merasa giginya sudah kering dipaksa tersenyum di depan kamera.


"Okay selesai ... senang bekerja sama denganmu," ucap Sean di akhir sesi foto sebelum kemudian mengecup kening sang istri.


Surat perjanjian konyol, tapi Sean begitu bangga. Surat itu bahkan dia pandangi cukup lama sebelum kemudian benar-benar menyimpanya. Sementara Zalina hanya bisa menggigit bibir dan menahan gejolak dalam batinnya, berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengumpat sang suami.


"Mas harus pergi sekarang, Na."


Baru saja menyelesaikan perjanjian itu, Sean tiba-tiba pamit tanpa persiapan sama sekali. Jelas saja Zalina bingung, tapi Sean mengatakan jika dia hanya akan pergi sebentar, tidak lama.


"Mau kemana?"


"Mas mau ke bengkel, kemarin sudah sempat janji sama Abas."


Zalina hanya mengangguk dan memang percaya-percaya saja dengan ucapan Sean. Sang suami terlihat melangkah tanpa beban, Zalina hanya mengantarnya ke pintu utama.


"Tetap di rumah, mas tidak akan lama ... paham?"


Hanya anggukan pelan yang dia berikan, setiap keluar hanya itu yang Sean utarakan. Biasanya, Sean akan segera berlalu ketika usai pamit dan mengecup kening Zalina. Namun, kali ini dia berbeda dan masih berdiri di hadapan Zalina seolah ada yang Sean tunggu.


"Apa lagi, Mas?"


"Kamu lupa butir kelima apa? Baru juga selesai tanda tangan, Na," ucap Sean seketika membuat Zalina mencubit lengannya.


"Masa sudah berlaku sekarang? Kita masih di rumah abi, Mas!!"


"Sekarang hanya ada kita, Mardi juga jauh di depan sana jadi tidak masalah," tutur Sean menatap lekat wajah sang istri yang selalu memerah ketika Sean menggodanya.


"Ayo cepat, mas bisa telat, Say_"


Cup


Terpaksa, Zalina mengikis jarak demi memenuhi keinginan sang suami. Gejolak dalam diri Sean jelas membara, dia berseru yes kala berhasil mendapatkan kecupan tepat di bibir sebelum dia pergi.


"Mas pergi ya, Humairah-ku."


Manis sekali dia, Zalina hanya mengangguk pelan dan melambaikan tangan kala sang suami pergi. Sean pergi benar-benar sendiri karena memang Bastian sudah pulang pagi-pagi sekali ke Jakarta. Hanya doa yang bisa Zalina lambungkan ke langit demi mengiringi kepergian Sean.


"Terima kasih engkau telah menghadirkan dia dalam hidup hamba ya Allah."


Zalina benar-benar bersyukur dengan kehadiran Sean dalam hidupnya. 2,8 M bukan jumlah yang kecil dan Sean semudah itu memberikannya meski sedikit menyebalkan. Tanpa Zalina ketahui jika kini Sean juga merasakan hal yang sama, sama sekali dia tidak sakit kepala perkara hutang Abrizam sebenarnya.


"Om Gio ... I'm coming, sudah lama aku tidak bertemu dengannya, masih jaya ternyata sampai sekarang," ucap Sean usai membaca pesan singkat dari pria yang dia hubungi beberapa saat lalu.


.


.


- To Be Continued -


Mikhail : Papa bangga padamu, Sean!!