
Pulang dengan membawa kabar bahagia, Axel menemui Sean segera. Bahkan, Ricko yang sengaja menunggunya lantaran sudah sore belum pulang juga hanya Axel lewati layaknya gapura tak bernyawa.
"Dari mana saj_ eeugh Axel taaiik!!"
Menyebalkan sekali, padahal Ricko khawatir lantaran mendengar kabar buruk terkait kecelakaan lalu lintas beberapa menit lalu dari pak Wan. Khawatir saja pria yang dimaksud adalah Axel, tapi setelah pria itu pulang Ricko tidak dianggap penting sama sekali, miris.
Meski dia mengumpat sekotor itu, Ricko tetap membuntuti kemana Axel melangkah. Jelas saja dia penasaran dengan perkembangan asmara antara Ana dan sahabatnya, jika dilihat-lihat mereka semakin dekat dan tentu dia iri.
"Kau serius?"
Ricko tidak mendengar pembicaraan awal mereka, tapi yang pasti saat ini Sean mengerjap pelan dan melongo seakan tak percaya. Habil yang berada dalam gendongannya mulai merengek begitu menyadari kehadiran Ricko yang persis tamu tak diundang.
"Abiiiiii tattuuut."
Putranya merengek, tapi pembicaraan ini terlampau penting hingga Sean justru terfokus pada Axel yang sedang berkaca-kaca. Ya, pria itu menangis dan tidak sedang membuat drama, di Benar-benar memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan Sean.
"Sungguh, tidak mungkin aku salah dengar Sean, Ana menerima lamaranku ... kami akan menikah, demi Satria, demi anak kami."
"Apa?!! Menikah?!!"
Habil yang tadi sudah terlihat tidak nyaman semakin tidak betah begitu mendengar teriakan dramatis Ricko. Tidak hanya Habil yang sebal, Sean dan Axel juga sama. Suara menggelegar Ricko membuat gendang telinga kedua pria itu sakit, benar-benar tidak beradab kalau kata Hito sewaktu mereka masih di penjara.
"Iya, kau tuli?"
"T-tapi bagaimana bisa? Axel kau jangan bercanda!!"
"Kenapa responmu begitu? Biasa saja, Bro," ungkap Axel lantaran bingung sendiri, saudara bukan, kekasih juga bukan, tapi reaksi Ricko seolah penentang restu paling mengerikan.
"Sungguh sulit dipercaya ... secepat itu Ana menerimamu? Kau pakai pelet apa? Hah?!"
"Tidak pakai pelet, pakainya kejantanan ... benihku berkualitas," ucap Axel santai yang semakin membuat Ricko ingin membelah diri.
Bukan main kesalnya, dia sudah rela berusaha lebih baik dan melupakan istri-istri fiksinya kala Sean mengenalkan Ana dengan harapan bisa bersama wanita itu. Terlebih lagi, sejak awal Axel sudah mengatakan hanya akan fokus pada putranya saja, tidak untuk Ana.
"Ck mana bisa begitu_"
"Astaga, Ricko!! Kau siapanya sampai melarang Axel ini dan itu?" Sejak tadi Sean diam, tapi bibir Ricko tak berhenti protes seolah wali dari Ana, jelas Sean ingin menguburnya hidup-hidup.
"Tapi masa secepat itu, baru juga dua kali pertemuan." Ricko agaknya adalah seseorang yang paling keberatan dengan pernikahan Axel yang belum jelas kapan hilalnya.
"Dimana-mana orang pendekatan itu minimal dua bulan ... lagi pula kau menikahi Ana mau makan apa? Apalagi kau punya anak, apa tidak kasih_"
"Ricko!!"
"Huuuuuaaaa miiiiiiih ...."
Tidak ingin ketinggalan, Habil yang mengira tiga pria perusak suasana itu tengah bertengkar menjerit seketika. Tangisannya tidak bisa lagi Sean tenangkan, tiga-tiganya panik dan saling menyalahkan.
Beruntung saja Zalina menyadari tangisan putranya, sontak wanita itu menjadi penengah dan menarik Habil dalam pelukannya. Sejak kehadiran Sean, jeritan tangis Habil memang lebih mendominasi dibandingkan Iqlima, kini dihadirkan dua lagi pria sejenis jelas saja putranya mungkin sakit kepala.
"Jangan teriak-teriak, Mas ... sudah tahu anaknya kagetan, bicara baik-baik, 'kan bisa," tutur Zalina tetap lembut walau keinginan untuk mendaratkan sendal ke mulut tiga pria itu sudah menggebu.
"Ricko nih susah dibilangin, mas sampai sakit kepala, Na," ujar Sean membela diri, sudah tentu hal itu dibantah oleh Ricko dan justru menyalahkan Axel.
Zalina tidak ingin mempermasalahkan banyak hal, jika ketiga pria ini dia hadapi dengan cara keras maka hasilnya akan semakin kacau. Terlebih lagi menginjak trimester kedua ini, Zalina mudah terbawa emosi jika terlalu lama berdebat.
"Oh iya ... aku dengar-dengar Axel melamar Ana, gimana hasilnya? Diterima?" tanya Zalina kembali membuat Ricko runyam, dia gusar sendiri pada akhirnya.
"Hadeuh, Zalina malah dibahas lagi," ucap Ricko dengan wajah melas, dia pikir kehadiran Zalina akan membuat jiwanya sedikit lebih tenang, nyatanya justru berbanding terbalik.
"Dari mana kamu tahu, Na?"
"Tadi siang Ana yang cerita, Mas," jawab Zalina sembari menenangkan Habil, tadi siang Ana sempat menghubungi Zalina, bahkan meminta pendapat terkait lamaran Axel juga.
Zalina hanya menyampaikan pendapatnya, terlebih lagi dia dapat melihat bagaimana Axel di sini. Andai Ana benar-benar sudah memutuskan yang menurutnya terbaik, sungguh Zalina bahagia sekali.
"Gimana, Axel? Diterima?"
"Iya, Zalina ... diterima," jawab Axel yang membuat Zalina bernapas lega.
Dia tahu mungkin Ana sangat berat memutuskan itu, terlebih lagi tadi siang Ana berkali-kali bertanya dan mengandaikan apa yang dia lakukan jika Zalina berada di posisinya. Bukan keluarga, tapi tangisan haru Axel membuat mereka turut bahagia.
"Alhamdulillah, niat baik Insya Allah dipermudah, Axel ... luruskan niatmu untuk senantiasa menjaga Ana dan putramu, jangan pikirkan hal lain aku yang tanggung jawab, paham?" Sean tidak perlu menjelaskan ulang, sejak awal dia sudah katakan bahwa kehidupan Axel tidak akan mengenaskan selagi dirinya masih ada.
"Enak sekali nasibmu, Axel, keluar penjara dapat istri ... lalu aku dapat apa?" Ricko masih saja bersuara, padahal bagiannya sudah paling menyedihkan di sini.
"Dapat hikmahnya," jawab Sean dengan gelak tawa menggelar dan membuat Ricko seketika naik darah.
"Siallan, bahagia sekali kalian ... aku patah hati ini. Ana, belum memulai dan kita telah usai, sakit seka_"
"Jangan banyak drama, mandi sana tubuhmu bau oli semua," titah Sean usai memasukkan bolu kiriman mamanya ke mulut Ricko agar berhenti bicara.
.
.
- To Be Continued -