Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
45. Sepucuk surat


Pagi hari pukul delapan di bandara kota Oregon.


Aaron berjalan keluar dari bandara menuju mobil yang sudah menunggunya,pak chow membuka pintu mobil lalu Aaron masuk ke dalam.


"Trililit trililit."


"Hallo."


"Tuan muda hari ini jam sembilan ada rapat via video call dengan tuan joseph."


"Anda bisa lakukan di rumah,saya sudah menyiapkan beberapa dokumen yang perlu anda lihat dan beberapa yang harus anda tanda tangani." Ucap fredy.


"Oke aku ngerti."


Aaron mematikan ponselnya.


Saat ponsel akan di masukkan ke kantong jasnya ponselnya berbunyi lagi.


"Ada apa Sean?"


"Ron apa yang terjadi?"


"Maksudmu?"


"Keluargaku mendapat undangan dari keluarga Rassam."


"Kau tau kabar yang beredar,mereka akan mengumumkan pernikahan putri mereka."


"Dan apa kau juga tau sebelum itu keluarga Rassam dan keluarga Torres bertemu untuk makan malam."


"Semua mengira jika putri dari keluarga Rassam dan putra dari keluarga Torres akan menikah."


"Kau sudah selesai berbicara?"


"Huft,iya." Jawab Sean.


"Aku tau itu semua." Jawab Aaron.


"Hanya itu jawabanmu."


"Tapi Sora Rassam adalah istrimu,bagaimana bisa mereka menikahkan Sora dengan orang lain."


"Kau tak perlu khawatir dia takkan menikahi orang lain."


"Kau datang saja ke pesta itu.".


"Apa kau perlu bantuanku Ron?"


"Aku akan menghubungimu jika memerlukannya nanti."


"Baiklah."


Mereka menutup telponnya.


Sesampai di rumah pak chow turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Aaron.


Aaronpun keluar lalu menuju ruang kerjanya,dia meletakkan sebuah kotak ke meja lalu membukanya.


Aaron mengambil sepucuk surat yang ada di dalam lalu membacanya.


"Ron jika kau membutuhkan bantuan atau menginginkan sesuatu bawalah giok ini kepada Ramush Rassam.


Itu adalah sepucuk surat peninggalan kakeknya untuk ayahnya.


Yang Aaron ingat saat kecil dulu keluarga Rassam dan Markle berhubungan baik.


Tapi entah sejak kapan hubungan mereka putus Aaron tidak mengingatnya.


Aaron menggenggam erat giok itu.


Tersenyum dengan sudut bibirnya yang tertarik ke atas.


Pikirannya kembali lagi ke kenyataan dia melihat jam yang ternyata sudah mendekati pukul sembilan lalu Aaron membuka laptop nya dan melakukan rapat melalui video call bersama dua orang direktur dari perusahaan asing.


"Guten Morgen Herr Joseph,Herr Anton and Herr Daniel." Sapa Aaron dengan bahasa Jerman.


"Guten Morgen Herr Aaron."


.....


Satu jam lebih rapat itu selesai.


Aaronpun menutup laptop nya.


Aaron tenggelam dalam pikirannya.


Dia mengeluarkan ponselnya lalu menelpon fredy.


"Fredy buatkan aku janji temu dengan tuan steve Rassam hari ini."


"Baik tuan."


Beberapa menit kemudian.


"Trililit trililit."


Aaron mengangkat telponnya.


"Tuan muda,tuan steve mengajak anda untuk makan siang.


"Baik kau yang atur."


"Baik tuan muda."


Aaron menutup telponnya,melangkah mendekati jendela yang berukuran besar,dan melayangkan pandangannya ke atas awan.


"Sayang jangan khawatir kau pasti bersamaku lagi." Guman Aaron.


***


Siang hari di restoran yang menjadi tempat pertemuan Steve dan Aaron.


Aaron terlebih dahulu datang di restoran tersebut.


Tak terlalu lama Aaron menunggu,steve Rassam akhirnya datang.


"Selamat siang tuan steve,silakan duduk."


"Trimakasih tuan Aaron."


"Anda ingin memesan apa?" Tanya Aaron.


"Tidak perlu tuan Aaron,aku hanya punya beberapa menit untuk berbicara denganmu."


"Ehem,tuan steve panggil saja saya Aaron." Pinta Aaron.


"Aaron..."


"Baik tidak masalah bagiku." Jawab Steve.


"Apa... saya boleh memanggil anda ayah?"


"Baik itu juga tak masalah bagiku,bagaimanapun juga kau ayah dari cucuku."


Aaron senang mendengar jawaban steve.


"Berarti anda merestui pernikahan kami."


Steve yang mendengar perkataan Aaron hanya tersenyum.


Melihat Steve tidak berbicara,Aaron merasa kecewa.


Steve melihat jamnya dan menyudahi pertemuannya dengan Aaron,lalu dia berdiri untuk berpamitan kembali ke kantornya.


"Maaf anak muda,aku harus kembali ke kantor." Ucap steve sambil menepuk bahu Aaron.


"Nanti datanglah tepat waktu."


Steve meninggalkan Aaron sendirian.


Aaron tersenyum senang mendengar ucapan steve barusan.


***


Dua jam sebelum pesta berlangsung,di kediaman Rassam.


Sora berada di dalam kamarnya untuk di rias.


Saat itu juga Jean datang ke rumahnya.


"Cekleeek"


"Sora.....!"


Setelah masuk jean memanggil Sora dengan hebohnya.


"Jean,kamu datang."


Mereka berpelukan seperti adegan di film anak anak teletabies.


"Jean aku seneng banget kamu datang."


"Bisa pinjami aku ponselmu?"


"Hah apaan sih,lama gak ketemu,yang keluar dari mulut mu mau pinjem ponselku?"


"Udah pinjemin dulu,ponselku di sita kakekku,aku gak tau kabar Aaron sekarang."


Dengan bersungut sungut Jean memberikan ponselnya pada Sora.


Sora terlihat senang,tapi saat membuka layar ponsel ia terlihat cemberut lalu mengembalikan ponsel itu pada Jean lagi.


"Apaan lagi?" Tanya jean.


Sora hanya memainkan matanya memandang Jean lalu memandang ponsel.


Jean baru tersadar.


"Hehehe."


Jean mengambil ponselnya dari tangan Sora lalu membuka kunci layar ponselnya.


Lalu memberikannya lagi pada Sora.


"Sejak kapan ponselmu kau kunci?"


"Hehehe ada sih,ntar aja kapan kapan aku ceritain, udah sana telpon pak Aaron dulu."


Sora menekan nomor Aaron dan yang keluar dari ponsel adalah 'wajah dingin'.


"Hah nama apaan ini." Tanya Sora


"Hii." Jean nyengir.


"Udah udah, kamu kan juga ngasih nama si mesum buat pak Aaron."


Panggilan pertama dan kedua Aaron tak menjawab.


"Kok gak di angkat angkat sih."


Sora mondar mandir ada rasa kekhawatiran di wajahnya.


***


Aaron di rumahnya sedang mandi saat Sora menelponnya ,maka dari itu dia tidak mengangkat ponselnya.


Setelah selesai mandi dia keluar dari kamar mandi masih mengenakan piyama handuk,dia berjalan ke arah meja untuk mengambil ponselnya.


"Jean,kenapa dia menelponku apa ada sesuatu dengan Sora?"


Aaron menelpon balik Jean.


***


"Trililit trililit."


Ponsel Jean berbunyi,terlihat kekhawatiran Sora seketika itu menghilang.


"Suamiku."


"Sora?"


"Iya ini aku."


"Kamu gak apa apakan?" Tanya Aaron.


"Hu'um." Ucap Sora dengan manja.


"Aku gak apa apa."


"Sayang aku akan kabur sebelum acara di mulai."


"Tunggu tunggu,sayang kamu jangan lakuin hal konyol kayak gitu."


"Kok kamu jawabnya gitu,kamu pengen liat aku nikah ama orang lain?" Ucap Sora dengan sedih.


"Enggak lah kamu kan istriku,mana bisa nikah lagi ama orang lain."


"Kamu tenang aja."


"Aku tadi siang udah bicara ama ayahmu."


"Sepertinya ayahmu memberikan lampu hijau buat kita."


"Inget ya sayang kamu jangan berbuat yang aneh aneh."


"Kamu tunggu saja di sana sampai aku datang,oke."


"Aku akan ngomong ama kakekmu baik baik."


"Kamu dengar kan,aku ngomong."


"Iya deh,janji ya kamu bakalan datang,kalau gak nanti aku akan kabur."


"Iya sayang."


"Sudah ya,aku mau siap siap dulu.


"Iya." Jawab Sora setelah itu mematikan ponselnya.


"Gimana apa pak Aaron ke sini buat nyelamatin kamu?" Tanya Jean.


"Apaan sih gak segitunya banget deh." Ucap Sora sambil memukul bahu Jean.


"Jean."


"Apa?"


"Dari kemarin aku curiga deh ama kakekku."


"Kenapa kakek tiba tiba ngadain pesta buat aku?"


"Kakek tuh orangnya gak akan melakukan suatu hal yang bisa bikin keluarga Rassam malu."


"Kakek juga tau kalau aku tuh udah nikah ama Aaron trus aku juga sekarang lagi hamil."


Sora dan Jean saling berpikir.


"Apa jangan jangan...."


Mereka berdua saling menunjuk dan mengatakan hal yang bersamaan.