Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
104. Mimpi buruk Sora


Sora membuka matanya dan tersenyum ketika melihat wajah suaminya yang terlihat seperti anak kecil tampan yang imut ketika rambutnya terurai menutupi dahinya.


Sepelan mungkin Sora mendudukkan badannya sambil memegang perutnya yang terasa berat.


Perut Sora terlihat lebih besar dari usia kandungannya karena mengandung bayi kembar,memasuki usia dua puluh lima minggu namun terlihat berusia tiga puluh minggu.


Dengan hati hati dia turun dari ranjang,karna tak ingin membangunkan Aaron.


Namun usahanya gagal,Sora terhentak saat tiba tiba Aaron memegang pergelangan tangannya.


"Hah,sayang kamu nih ngagetin aku." Pekik Sora.


"Kamu mau kemana sayang?"


"Kamu gak boleh kemana mana,kamu harus tidur di samping aku sampai siang." Ucap Aaron manja.


"Apaan sih sayang,kalau kamu masih ngantuk udah tidur lagi sampe kamu puas." Ucap Sora sedikit kesal.


"Ini udah siang sayang,udah lewat jam sarapan."Terang Sora.


Namun wajah cemberut diiringi manja terdengar di jawaban Aaron.


Hingga Sorapun harus berakting.


"Ehem."


"Dedek kalian laper kan?"


"Mami juga laper." Ucap Sora sambil mengelus pelan perutnya.


Aaron segera membuka matanya lebar duduk di sebelah Sora,dan menggenggam tangan Sora.


"Ehem,Kamu laper sayang?"


"Kamu mau makan apa,biar di masakin koki dan di antar ke kamar." Aaron berbicara dengan lembut di telinga Sora dan iringi telapak tangannya yang mengelus perut Sora.


"Istri dan anakku gak boleh kelaparan."


Ucap Aaron dengan tegas.


Sora memutar bola matanya,merasa tak setuju dengan keinginan Aaron.


"Sayang.. kita makan bareng ama nenek ya,mama kan hari ini akan pulang sendiri tanpa kita."


"Lagian udah lama juga kan kamu gak makan bareng ama nenek."


"Lagian besok kita udah balik ke negara A." Bujuk Sora.


"Ah iya,nenek." Ucap Aaron pelan dan menggeser tubuhnya agar bisa memeluk Sora dari belakang.


"Aku mau mandi sayang,udahan deh manjanya." Pinta Sora.


"Aku juga ingin mandi sayang tapi bareng ma kamu." Bisik Aaron.


"Astaga.." Jerit batin Sora sambil memutar bola matanya.


Aaronpun mengekor Sora menuju kamar mandi.


....


Sora turun dengan perlahan di anak tangga,dia terkejut melihat Elan duduk di meja makan bersama nenek dan mamanya.


Aaron mengerti reaksi Sora ketika melihat Elan,segera Aaron memeluk pinggang Sora dan tersenyum pada semua yang sudah menunggu mereka.


"Wah nek kenapa semua hidangan kesukaan Sora?"


Sora mencium aroma masakan dan dengan antusias untuk segera mencicipinya,kegembiraan Sora perlihatkan untuk menutupi keterkejutannya.


"Cobalah,semua di masak oleh nenek." Ucap olivia mama Sora.


Dengan tak sabar Sora mengambil satu persatu makanan di atas meja dan memasukan ke dalam mulutnya hingga penuh.


"Haiss kamu ini seperti anak kecil saja,tuh liat belepotan mulut kamu." Ucap Aaron sambil menyeka makanan yang menempel di luar ujung bibir Sora.


"Sayang makan nya pelan pelan dong,ok."


Aaron menyuapi Sora dan memperlihatkan kemesraan mereka,membuat perasaan Sora menjadi canggung ketika menatap Elan yang duduk di depannya.


Nenek dan Olivia tersenyum melihat kemesraan Aaron dan Sora.


"Ma jam berapa mama ke bandara?"


"Sora pengen nganter mama."


"Dua jam lagi dan tak perlu antar mama,kamu kan harus datang ke konferensi pers saat itu." Terang Olivia.


Sora terlihat bingung dan tak mengerti apapun.


"Konferensi pers?"


Sora menatap Aaron menunggu jawaban atas pertanyaannya.


Aaron tersenyum lebar.


"Seluruh dunia harus tau bahwa kamu adalah istriku."


Ucap Aaron bangga sambil menggenggam tangan Sora.


Dengan wajah datar dan cuek Elan mendengar obrolan mereka.


Tanpa berkata apa apa dan hanya mengaduk makanan yang ada d mangkuknya,hanya sedikit makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


...


Setelah konferensi pers.


"Ah capek,sayang kalian baik-baik ya di dalam perut mama."


Sora di kamar sendirian tanpa di temani Aaron,perlahan lahan kelopak matanya terasa berat dan membuatnya tertidur hingga Sora masuk ke alam mimpi.


"Sayang...,"


"Sayang,tolong aku."


Sora berjalan tertatih tatih di lorong sambil memegang perutnya seraya memanggil manggil Aaron,tempat yang terasa asing bagi Sora.


Sora merasakan kesakitan seperti akan melahirkan namun tak ada siapapun di sana.


"Tolong...,tolong Aku..."


Suara Sora yang serak meminta pertolongan di iringi air mata yang menetes membuat Aaron langsung berlari saat masuk ke kamar.


"Sayang,sayang bangun."


Aaron mengusap lembut pipi Sora yang di basahi oleh air mata.


Lalu Sora membuka matanya dan langsung memeluk Aaron dengan terisak.


"Sayang aku mimpi buruk,hiks."


"Aku takut."


"Cup cup,tenang ya sayang aku di sini,jangan nangis." Aaron mencoba menenangkan Sora yang masih terisak.


"Enggak sayang,aku beneran takut."


"Beberapa waktu yang lalu aku juga mimpi buruk."


Untuk sesaat Sora terhenti dari tangisnya dan menatap Aaron.


"Sayang kamu janji ya jangan pergi jauh jauh dari aku."


"Aku gak mau mimpi burukku jadi kenyataan. "


Aaron tak kuasa melihat kesedihan yang terlihat di mata Sora lalu memeluk menenangkan Sora,mencium dahi dan membelai lembut kepala Sora.


Sora tenggelam dalam pelukan Aaron.


...


Esoknya...


"Akhirnya selesai dan aku akan pulang." Batin Sora sambil memandang awan kebiruan yang terlihat di jendela pesawat.


"Sayang tubuh kamu baik baik saja kan?"


"Kalau ada yang gak enak,kamu harus bilang ya!" Aaron terlihat khawatir karna teringat mimpi Sora yang membuatnya bersedih.


"Aku gak papa sayang." Jawab Sora lembut.


"Semoga saja semua mimpi buruk itu hanyalah mimpi." Batin Sora meyakinkan dirinya sendiri.


Aaron duduk di samping Sora,terlihat serius memandang layar notebook nya.


Sampai di bandara Aaron dan Sora di kawal beberapa pria tangguh berpakaian jas hitam menuju mobil Roll Royce warna hitam.


Di dalam mobil Sora terdiam memandang jalanan,kesedihan terlihat di wajahnya karna harus berpisah dengan Aaron,karna Aaron harus menghadiri rapat yang sangat penting.


"Sayang...,apa rapatnya tidak bisa kamu undur sehari?" Tanya Sora yang terlihat sedih.


"Maafin aku ya sayang,rapat ini sangat penting,gak bisa ku abaikan."


Aaron terdiam beberapa detik dan melanjutkan bicaranya.


"Kamu bener bener gak bisa pisah ma aku?"


Sora mengangguk lemas,dan mendekap lengan Aaron,karna tak ingin jauh dari Aaron.


"Oke,kalau gitu kamu ikut aku ke kantor." Ucap Aaron.


Wajah Sora berubah sumringah,seketika memperlihatkan rasa senang dan bahagia.


"Setelah sampai kamu harus langsung ke ruanganku oke."


"Ada kamar untuk istirahat di sana."


Sora mengangguk dan tersenyum bahagia sambil memeluk lengan Aaron lebih erat.


....


Di kediaman keluarga Markle.


"Hei singa tua apa kau yakin akan menyerahkan semua ini pada anak itu,apa kau tak memikirkan anakmu sendiri?" Ucap kakek Justo.


Kakek Rassam duduk mematung sambil memejamkan matanya dengan tangan menggenggam erat giok bola yang ada di ujung tongkatnya.


"Devan terlalu lemah,dia tak akan bisa menangani semua hal dengan tangan dingin."


"Dia anakmu,bukankah kau bisa mengajarinya." Ujar kakek Justo.


Kakek Rassam menggeleng pelan.


"Aku akan menyerahkan semua pada anak itu,aku lebih percaya dengannya."


"Dan aku percaya anak itu bisa melindungi semua,dia licik dan kejam,aku sudah melihatnya dengan kedua mataku."


"Ah,baiklah kau lebih tau kelebihan mereka masing masing,aku tak akan memperdebatkan hal ini lagi padamu."


"Semua pasti akan setuju dengan keputusanmu."


"Bagaimanapun anak itu juga keturunan dari pendiri Harimau giok putih."


Ucap kakek Justo sambil menepuk bahu kakek Rassam dan berlalu pergi.