Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 137 - Bukan Anak Kecil


Sean melangkah pelan dan memantau bagaimana sikap istrinya. Agaknya nasib sial memang sedang berbondong-bondong menyerbu Sean dalam satu waktu. Setelah menghadapi sang istri yang begitu menyebalkan, saat ini Sean harus dihadapkan dengan seseorang yang kemungkinan besar akan membuat sikap Zalina semakin menjadi.


"Kalian sudah lama?" tanya Zalina usai mengulurkan tangan pada wanita dengan rambut yang tergerai cantik itu.


"Belum, Na ... tapi Ana malu sama umi, jadi minta di sini saja," balas Irham, pria yang kini menemani Ana di sisinya.


Sean belum berani mengucapkan apapun, meski jujur saja senyum Irham membuat hatinya panas luar biasa. Semalam dia sengaja membuat Zalina panas dengan membawa-bawa nama Ana, tanpa terduga siang ini semua dibayar tuntas tanpa perlu Zalina menyusun rencana.


"Malu kenapa? Umi baik kok."


"Ah tidak apa-apa ... lagi pula kami tidak lama, aku hanya mengantarkan Ana untuk bertemu dengan suamimu," tutur Irham yang kemudian Zalina angguki pelan, dia menatap Sean yang juga memerlihatkan tatapan tak terbaca.


Bersalah, menyesal dan malu agaknya bersatu di sana. Kebohongannya melesat dan sama sekali tidak tepat. Perjanjian bersama Ana yang seharusnya besok pagi terbukti jelas hanya bualan. Lagi, Zalina mendapatkan bukti tanpa harus mengulik informasi.


Jangan ditanya bagaimana perasaan Zalina, kebohongan Sean perkara hutang Ayunda saja belum selesai. Kini ditambah lagi, jelas saja jiwanya seakan mendidih seketika. Rasa bersalah akibat memerlakukan Sean sedikit kejam mendadak hilang seketika.


"Silahkan, aku masuk dulu."


Zalina hendak berlalu, tapi secepat mungkin Sean menarik pergelangan tangan sang istri. Gelagat Zalina terlalu kentara, dia benar-benar kecewa dan Sean dapat menerkanya. Tidak peduli andai Zalina akan menghempas tangannya di hadapan Irham, Sean tetap meminta Zalina menemaninya.


"Kita bicara di dalam saja," ucap Sean kemudian melangkah masuk, menarik pergelangan tangan sang istri begitu lembut lantaran khawatir berontak di hadapan pria lain.


Ana tampak ragu untuk memasuki rumah itu. Setelah sempat mengetahui hasil tes DNA Satria dari Yudha, mereka segera berkunjung ke kediaman Sean. Hanya untuk mengucapkan terima kasih sebenarnya, tidak lebih.


Ana mengutarakan maksud dan tujuannya dengan suara yang sedikit bergetar. Jujur saja perasaan wanita itu sebagai seorang ibu sedikit kacau balau. Sean mendengarkan begitu seksama kata demi kata yang Ana utarakan, hingga tenangnya Sean kini tiba-tiba berubah dan mengumpat Yudha lantaran menemui Ana tanpa konfirmasi lebih dulu.


"Keterlaluan!!"


"Hah? Apanya, Sean? Ana bicara baik-baik dan dia berterima kasih atas kebaikanmu," tutur Irham mengerutkan dahi dan sedikit terkejut dengan respon pria itu.


"Ah ... maksudku semut ini di punggungku, keterlaluan padahal aku sedang fokus," elak Sean mencari alasan dan menggosok punggungnya yang tak gatal itu.


Zalina yang paham watak suaminya hanya memutar bola mata malas dan enggan memberikan bantuan. Biarlah dia berlabuh dalam akal bulusnya, Zalina tidak akan berada di pihaknya kali ini.


"Lanjut, sampai mana tadi?" tanya Sean setelah menyadari tidak ada yang peduli, terlebih sang istri.


"Ayahnya ... maksudku pria itu masih menjalani masa tahanan. Setahuku hukumannya cukup berat, dan kini om Bram yang merupakan pelaku utama sudah ditangkap. Apa tidak bisa kau membantunya juga?"


"Soal itu jangan khawatir ... semua sudah aku pikirkan, cukup tunggu kebebasan Axel dan aku pastikan kalian bisa bertemu dan bicara baik-baik soal Satria ke depannya."


Tugas Sean hampir selesai, dia bertanggung jawab atas kejelasan asal Satria dan kelangsungan hidup Ana sebagai anak korban kejahatannya. Terlebih lagi, Ana adalah seseorang yang berjasa bahkan rela hidupnya terancam demi bisa membuat Bramanto mendekam juga di penjara.


"Oh iya aku punya hadiah untuk putrimu, Zalina," ucap Ana merogoh sesuatu dari dalam tasnya.


Setelah bicara panjang lebar bersama Sean, wanita itu mulai beralih pada Zalina. Dia menyerahkan kotak perhiasan yang begitu kecil dengan tangan bergetarnya, dia gugup menghadapi Zalina saat ini. Padahal, dibalik cadar itu senyum Zalina begitu teduh untuknya.


"Kalung?"


Zalina melirik ke arah sang suami, meski hatinya panas luar biasa, tapi masih meminta izin lebih dulu. Sean mengangguk, toh hanya sebatas kalung. Jika dikumpulkan, perhiasan milik Iqlima yang merupakan hadiah sudah begitu banyak, pikir Sean.


"Tapi bukankah Satria anak pertama? Kamu masih bisa punya anak lagi suatu saat, Ana."


"Tidak akan, rahimku sudah diangkat, Zalina."


Zalina bungkam, dia menggigit bibir dan meminta maaf berkali-kali lantaran merasa benar-benar salah bicara. Beruntungnya, Ana tidak menjadikan hal itu sebagai masalah.


Tidak berselang lama, Ana dan Irham pamit kemudian. Ini adalah pertama kalinya Sean ingin menahan Irham agar tidak pergi, tapi mana mungkin dia mengemis minta ditemani pria itu.


"Kenapa tidak ada yang bisa diajak kompromi!!"


Dada Sean makin bergemuruh kala Irham dan Ana benar-benar pergi. Dia menatap Zalina yang kini hanya menatap nanar tanpa arah, hingga Zalina menghela napas panjang.


"Zalina ...."


"Apa aku sebodoh itu di mata kamu, Mas? Sampai kapan kamu menganggapku anak kecil yang bisa kamu tipu hanya dengan sebuah permen?"


"Dia sadar aku bohongi? Dari mana tahunya? Apa mungkin Habil yang mengadu? Jahat sekali kamu, Nak!!"


.


.


- To Be Continuned -


Sebentar!! Aku mau bicara sedikit. Jadi semalam aku baca beberapa komen di dua eps terakhir mungkin ya. Ternyata banyak yang tidak paham konsep dua bab terakhir itu apa. Tiba-tiba muncul komen negatif yang buat mata dan hatiku rada sakit, terutama yang membandingkan novel ini dengan kehidupan nyata (Pengalaman pribadi). Contoh : (Aku dulu hamil nggak gitu-gitu banget), lah yang jadiin hamil mbaknya sebagai inspirasi teh saha? Dan juga bab kedua terakhir itu adalah bentuk kekesalan bininya karena si suami memang doyan cari perkara (Terbiasa ngibulin). Semoga bisa dipahami ya, puasa ngomel-ngomel sabar sedikit, Sis.


Jangan terlalu berlebihan, bijak sedikit dalam berkomentar karena yang nulis juga manusia lemah lembut seperti Zalina. Terutama buat yang cuma nongol pas nggak suka doang dan bahkan sampai bawa-bawa neraka. Ngasih dukungan sebelumnya enggak tau-tau ngomel di bab ini.


Aku nulis buat yang suka, aku menghibur yang merasa terhibur. Sekiranya eneg ya gak perlu dibaca, aku gak maksa, Beb beneran deh.


Sekian, maaf jika memang karya saya tidak selalu menyenangkan hati kalian, sekian dan terima kasih.


...****************...


Juminten : Kok lu lebih peduli sama hate coment ya? Yang ketawa di bab kemaren ada loh, pertanda yang paham maksud lu ada, Neng.


Author : Lah iya dong, orang muncul cuma pas nggak sukanya doang ... pas bahagia diem aja, kan aku kaget jadi sekalian kubalas komennya karena jarang ketemu.


-Bumi


02:06 WIB


Muach, saranghae semangat puasanya hari ini sehat-sehat semua. ~ Selir Sean