
Kendati sudah diberikan kehidupan yang sempurna, Sean tidak pernah lupa apa yang menjadi tanggung jawab dan janjinya. Janji kepada teman-temannya dan juga Ana terutama. Setelah cukup lama mendekam di penjara, ketiganya mampu menikmati udara segar.
Tidak hanya itu, Sean juga bersedia menyediakan tempat untuk Ricko dan juga Axel yang memang tidak memiliki keluarga. Berbeda dengan Johnatan yang segera kembali pada anak dan istrinya di luar kota.
"Tampan, Satria pasti bangga memiliki Daddy sepertimu," puji Sean menatap penampilan Axel yang baru saja selesai potong rambut.
Demi menemui Satria, dia rela diatur Sean sepanjang hari. Rambut yang biasanya tak terurus kini tampak lebih rapi, tidak lupa kemeja hitam dan celana jeans yang melekat di tubuhnya membuat pria itu lebih terlihat tampan.
"Daddy apaan ... sudah seperti orang luar saja, Bapak saja lah, Axel," sahut Ricko yang sibuk sendiri, tidak mau kalah dan ikut merapikan penampilannya.
"Iri!! Kau lupa ayahku siapa?"
"Siapa memangnya?" tanya Ricko mengerutkan dahi, wajah Axel memang menjelaskan dia bukan pribumi, tapi tidak dapat dipastikan juga dia keturunan siapa.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu siapa ayahku."
Sebuah candaan gelap, terdengar lucu padahal menyedihkan. Axel telah berdamai dengan dirinya, dia adalah anak yang tidak diketahui asal-usulnya. Untuk itu, ketika dia mengetahui kehadiran Satria, tanpa pikir panjang Axel bersedia bertanggung jawab.
Tidak peduli meski Ana menolak kehadirannya, tapi yang Axel pedulikan adalah putranya. Ya, Satria adalah darah dagingnya. Jauh sebelum tes DNA dilakukan, Axel sudah yakin jika benih yang tumbuh di rahim korban kebejattan mereka adalah miliknya.
Axel tahu dia salah, untuk itu dia tidak ingin kesalahan itu semakin membekas. Baik untuk Ana, maupun untuk Satria. Hari ini dia akan menemui ibu dari anaknya, pertemuan itu sudah disetujui kedua belah pihak.
Bersama Sean dan juga Ricko, dia akan berbicara dari hati ke hati bersama wanita itu. Mungkin akan sedikit kaku, atau bisa jadi Ana lari ketika bertemu dengannya. Semua dugaan itu tertanam di benak Axel, bahkan dia mendadak ragu ketika tiba di restaurant yang dituju.
"Bang ... aku takut, kalian berdua ikut, 'kan?"
"Kau sendiri saja, Axel kenapa harus ditemani?"
Lain halnya dengan Axel, Ricko justru sibuk sendiri menatap sekeliling. Penasaran, sejak pertama kali mendengar nama Ana dia memang penasaran bagaimana gadis itu saat ini. Jelas saja semakin cantik, mata Ricko memerhatikan satu persatu pengunjung demi mencari sosok Ana.
"Aku gugup, Bang ... kalau dia justru berniat kembali memasukkanku ke penjara bagaimana?"
"Bodoh!! Sudah kukatakan tidak mungkin, Ana yang memintaku membebaskanmu lebih cepat. Paham?!"
Sean mendelik lantaran Axel yang mendadak kehilangan percaya diri. Padahal, sebelumnya dia begitu yakin untuk menemui Ana dan mengatakan akan bertanggung jawab. Anehnya, ketika sudah begini dan tepat di hari pertemuan mereka, Axel gugup seketika.
"Arah jam dua ... pakai gaun biru muda, rambut digerai dan duduk di samping anak kecil di sampingnya. Sana," bisik Sean dari jarak beberapa meter, sejak tadi Ricko mencari dan mata batinnya seakan tertutup karena memang tidak menemukan Ana.
"Ays itu? Cantik sekali ... kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi."
"Bukan kau!! Tapi Axel," desis Sean menarik Ricko ke belakang, percaya diri sekali dia hendak melangkah menemui Ana.
"Oh, tapi kalau kenalan sedikit tidak masalah, Bang?"
"Masalah!! Yang berkepentingan hanya Axel, bukan kau!" tegas Sean kemudian mengetuk keningnya, sejak tadi memang sudah sibuk sendiri seakan dia yang berurusan secara pribadi.
"An_ permisi, Nona."
Nona, Axel tidak memiliki keberanian untuk menyebutkan namanya. Dia malu, Axel seakan tidak pantas disebut manusia di hadapan Ana.
"Duduklah."
Tidak jauh berbeda dari Axel, Ana juga merasakan hal yang sama. Wanita itu tidak kuasa untuk menatap mata Axel, mata yang dahulu menatapnya lapar dan penuh damba sebelum kemudian membuat luka menganga di hatinya.
"Mom? Om ini siapa?"
Satria yang terbiasa memanggil Daddy pada siapapun, seolah terhenti ketika dia menemukan sosok Yudha. Hingga, ketika dipertemukan dengan pria yang benar-benar ayahnya, Satria bersikap berbeda.
"Daddy, bukankah Satria selalu bertanya tentangnya? Dia Daddymu, Nak ... sapalah, kalian begitu mirip sampai Mommy bingung Satria yang mana."
Di hadapan putranya dia bisa setegar itu, tanpa Satria ketahui jika pria yang dikenalkan Ana saat ini adalah seseorang yang telah menghancurkan hidupnya. Seketika, Axel tertampar dan hatinya seakan teriris begitu saja.
Demi anak, semata-mata demi Satria dia rela menepis ego dan ketakutan saat berada di samping Axel. Sementara pria itu turut melakukan hal yang sama karena mengerti perjuangan Ana melakukan itu semua tidaklah muda.
"Satria ayolah, dia adalah Daddy yang sesungguhnya," jelas Ana sekali lagi kala putranya nampak ragu.
"Lalu kenapa baru pulang?"
"Daddy kerja, Sayang, jadi baru bisa menemui kita ... benar, 'kan?" Pertama kali Ana menatap manik Axel yang sejak tadi masih memandangi mereka, pria itu tampak bingung harus bereaksi seperti apa.
"Ehm, Mommy benar, Satria ... Daddy kerja," jawab Axel gelagapan, dia tengah menyiapkan jawaban andai nanti ditanya kerja apa oleh anak itu.
"Woah ... Daddy kaya dong, Satria bisa beli mainan setelah ini, Dad?
Kaya dari mana, kalau kata Ricko kaya monyet iya. Axel bergetar seketika kala Satria membahas soal itu dan minta dibelikan mainan. Dari mana dia bisa memberikannya pada Satria, saat ini saja dia tidur di rumah Sean karena baru saja beberapa hari menghirup udara bebas.
"Dad, are you okay?"
"Hm, fine ... kau tenang saja, Daddy bisa memberikan semua yang kau mau saat ini," jawab Axel asal dan seketika gusar mencari keberadaan Sean di sana.
"Yeay!! Thanks, Daddy."
"Axel siallan!! Kenapa jadi ikut-ikutan bodoh seperti Ricko!!"
.
.
- Edisi Ana - Satria - Axel -