Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
BAB 142 - Tidak Bisa Diatur


Biasanya firasat orangtua tidak pernah salah. Sean baru saja pulang usai menunaikan shalat subuh, tiba-tiba disambut dengan Zalina yang menyerahkan ponsel padanya. Wajah datar Mikhail terlihat jelas di sana setelah Sean menyapa.


"Kenapa, Pa?"


"Kau terlambat bangun pagi ini?" tanya Mikhail langsung pada intinya.


"Hm sedikit, tapi masih sempat."


Sean bukan anak kecil lagi, dia sudah sangat dewasa, tapi Mikhail memerlakukannya seolah anak SMA yang merantau di luar kota. Meski demikian sama sekali tidak ada perasaan sebal dalam dirinya, karena Zalina pernah berkata bahwa apa yang Sean terima adalah sesuatu yang diimpikan anak-anak di luar sana.


"Kenapa bisa terlam_ wuih wajar, kau ini seperti pengantin baru saja," ucap Mikhail menggeleng pelan kala menyadari rambut Sean masih terlihat basah.


Agaknya rambut Sean yang basah ini memang benar-benar menjadi bencana. Setelah sebelumnya Agam dan Abrizam mengatakan hal yang sama akibat rambut basahnya, kini sang papa. Apa mungkin orang-orang tengah menganggapnya balas dendam pasca terpenjara selama dua tahun terakhir? Mungkin saja.


"Papa bicara apa sebenarnya," gumam Sean kemudian tertawa sumbang dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Rambutmu, Sean."


"Oh ini mandi biasa, Pa gerah soalnya," elak Sean dengan berbagai caranya, mana mungkin dia akan mengakui hal itu di hadapan papanya.


"Gerah dengkulmu, di sini saja kau malas mandi pagi."


Mendapati respon sang papa, Sean sudah tidak mampu lagi berkata-kata. Dia lupa jika papanya bahkan lebih gila, sudah tentu dia paham sekalipun tak lagi muda.


Panggilannya untuk Sean tidak bisa begitu lama, karena dia juga harus memastikan putranya yang lain, khawatir jika makhluk bernama Zean itu langsung tidur usai sahur. Namun, secepat mungkin Sean menahan sang papa agar tidak mengakhiri panggilannya.


Dia penasaran akan mimpi buruk Mikhail, dia baru mengingat hal itu ketika dalam perjalanan pulang ke rumah mertuanya. Terlebih lagi, Sean juga mimpi buruk sekali, sangat buruk sebenarnya.


"Itu mimpi buruknya?" tanya Sean menepuk keningnya, sungguh di luar dugaan sekali mimpinya.


"Iya, Sean!! Papa takut sekali arwana yang Zean belikan waktu itu benar-benar digoreng mama ... tapi setelah papa lihat masih ada, tiga ekor sehat semua."


Baiklah, mimpi Mikhail memang sangatlah buruk menurutnya. Sean hanya menghela napas panjang mendengar penjelasan Mikhail yang membahas soal arwana pemberian Zean. Jika benar begitu, maka artinya tidak berkaitan dengan mimpinya semalam.


"Ck, kukira apa."


"Heh? Apa maksudmu? Kalau sampai jadi kenyataan papa bisa pingsan tahu?!" sentak Mikhail yang tampak kesal karena Sean meremehkan peliharannya.


Sean hanya tertawa sumbang, suasana hati papanya mungkin sangat buruk akibat Sean meremehkan perkara teman barunya. Bahkan, pria itu mengakhiri panggilan seolah tengah mengajak perang.


Selesai dengan sang papa, Sean mendekati sang istri yang masih duduk di atas hamparan sajadah. Lantunan ayat suci yang lolos dari bibir Zalina selalu berhasil membuat hatinya menghangat.


Jika ditanya kapan Sean tidak mengusik Zalina, mungkin hanya dikala beribadah atau berinteraksi dengan sang pencipta, saat seperti ini contohnya. Sean bertopang dagu menatap penuh kagum pada sosok wanita setia yang rela menunggu dan menerima semua kekurangannya.


Wanita yang dahulu sempat membuatnya merasa begitu kecil, tapi wanita itu pula yang menuntunnya untuk mampu kembali mengejar cinta sang khalik. Dia begitu berharga, senyumnya mengembang seketika.


"Titip anak-anak, aku pergi, Mas."


"Mas ... ada apa?" tanya Zalina setelah mengakhiri rutinitasnya.


Tidak biasanya Sean tiba-tiba bereaksi begini. Sempat mengira jika dia salah baca, tapi sepertinya tidak karena setahu Zalina yang sang suami pandangi adalah wajahnya, bukan apa yang dia baca.


Bukannya menjawab, Sean tiba-tiba merengkuh tubuh sang istri tanpa peduli Zalina mual atau tidaknya. Yang jelas, saat ini dia ingin menenangkan dirinya sendiri. Karena memang, sejak terbangun Sean tidak segera memeluk atau mendekatinya karena terburu waktu.


"Mas kenapa?"


Zalina yang merasa semua baik-baik saja jelas bingung kenapa sang suami mendadak begini. Terlebih lagi di saat Sean mengecup keningnya berkali-kali, usapan lembut di punggung juga menegaskan Sean setakut itu kehilangan dirinya.


"Berjanjilah, jangan pernah pergi dariku apapun keadaannya," ucap Sean dengan suara bergetar, sama sekali tidak dia tutupi jika dirinya kembali berada di titik putus asa.


"Kamu ada masalah lagi ya, Mas?" tanya Zalina justru mengira jika kejadian dua tahun lalu kembali terulang.


"Kita sudah sepakat untuk saling terbuka sejak awal. Katakan saja, Mas aku tidak masalah," lanjut Zalina menatap lekat manik sendu sang istri.


"Bukan ... mas takut saja, semalam mas mimpi buruk."


"Mimpi gimana?"


Sean tidak begitu mengingat secara runtun, tapi yang jelas rentetan kejadian sebelum akhirnya dia menjerit memanggil Zalina sebisa mungkin dia utarakan semua. Tanpa ditutupi sama sekali dengan harapan istrinya tidak akan marah.


"Oh cinta pertama? Kok bisa sampai kebawa mimpi?"


Faktanya wanita memang sama saja, panjang lebar Sean bicara yang diingat justru bagian cinta pertamanya saja. Agaknya Sean yang terlalu jujur kali ini juga salah, padahal inti pembicaraannya bukan itu.


"Zalina ... intinya bukan itu, Sayang."


"Di antara semua tempat, kenapa mas justru memilih Danau itu? Kenapa bukan Danau yang lain? Kalau tidak di kebun teh atau penjara juga bisa."


"Astaghfirullah, Zalina ... ays mana mas tahu!! Tiba-tibanya sudah di sana dan mas tidak bisa mengatur latar tempatnya," jelas Sean yang juga sama sebalnya, dia juga bingung kenapa harus tempatnya di sana.


"Wanitanya bukan aku, 'kan? Mas pas_"


"Zalina!! Nak ... buka pintunya."


Sean menghela napas lega, umi Rosita datang di saat yang sangat tepat. Entah tujuannya untuk apa, tapi yang jelas dia selamat dari terkaman Zalina.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun ... umi jangan bercanda."


.


.


- To Be Continued -