
Setelah Aaron menembak,dia menyerahkan pistol itu pada Jacky.
"Darah!"
"Ya Tuhan.."
Suara Jean yang bergetar melihat darah yang keluar dari antara paha Sora.
"Aaron!"
"Cepetan ke sini." Teriak Jean.
Aaron yang mendengar panggilan Jean segera berlari ke arah Sora.
Melihat keadaan Sora yang sudah berlumuran darah karna pendarahan dia segera mengangkat dan menggendong Sora.
Fredy yang melihat hal itu tanpa di perintah segera menyuruh salah satu pengawal untuk menyalakan mobil dan menghampiri Aaron.
Aaron,Fredy dan Jean masuk ke dalam mobil,dan melajukannya dengan sangat cepat.
Mobil melewati jalan tol,mencari rute yang terdekat dengan rumah sakit.
Di tengah perjalanan..
"Pak di depan jalan macet apa yang harus kita lakukan." Tanya pengawal yang mengemudikan mobil.
"Sepertinya di depan ada kecelakaan." Imbuhnya.
Aaron yang mendengarnya segera berpikir cepat.
"Fredy suruh mereka ke sini dengan helikopter!"Teriak Aaron.
Jean tak henti hentinya menangis melihat keadaan Sora yang semakin parah,karna pendarahan yang tak kunjung berhenti.
Di tengah jalanan yang macet,ada suara deru baling baling yang berhenti tak jauh dari mobil mereka,mendarat di luar pembatas jalan tol.
Mereka semua keluar dari mobil kecuali pengawal yang mengemudikan mobil.
Mereka dengan tergesa gesa menaiki helikopter.
Tak butuh lama perjalanan mereka. Helikopter mendarat tepat di atap gedung rumah sakit,di atap gedung rumah sakit sudah berdiri para dokter dan perawat yang sudah menunggu dari tadi.
Aaron segera turun dan meletakkan Sora di atas bed pasien.
Para dokter dan perawat mendorong bed pasien setengah berlari ke arah lift menuju ruang operasi.
Aaron,Jean dan Fredy terlihat cemas menunggu di depan pintu ruang operasi.
"Dokter bagaimana kondisi anak dan istri saya." Tanya Aaron melihat dokter yang keluar dari ruang operasi.
"Anda tidak perlu khawatir,kami memberikan suntikan untuk menghentikan pendarahan,dan memberikan obat penguat untuk janin yang masih hidup." Terang dokter.
"Maksud dokter anak saya ada yang meninggal?"
"Apakah tidak perlu operasi untuk mengeluarkan bayi yang sudah meninggal dok?"
"Apakah kematian salah satu bayi akan berpengaruh pada ibunya?"
Aaron mencerca pertanyaan pada dokter yang menangani Sora.
"Iya,salah satu dari mereka meninggal."
"Tapi anda tenang saja,karna usia janin belum ada 14 minggu maka tidak dibutuhkan penanganan khusus, tidak ada resiko pada ibu dan janin yang hidup, serta janin yang meninggal akan diserap oleh tubuh."
"Tapi jika janin meninggal ketika usia lebih dari 14 minggu, ada kemungkinan terjadi komplikasi pada janin yang hidup dan juga ibu. Hal ini bisa meningkatkan resiko gangguan pada otak janin dan gangguan pembekuan darah pada ibu meskipun kasusnya jarang terjadi,maka penanganannya harus segera di cesar."
"Untuk kasus istri anda,dua bayi masih bisa di selamatkan,kami juga berusaha memulihkan keadaan istri anda."
Terang dokter.
"Baik dok saya mengerti terimakasih."
Ucap Aaron.
"Syukurlah." Batin Jean merasa lega mendengar keterangan dari dokter.
"Tuan muda apakah kita perlu memberitahu keluarga nyonya?"
"Jangan beritahukan kejadian ini pada mereka."
"Terutama pada kakek,jika kakek sampai mengetahui hal ini, kakek pasti tak akan membiarkan Sora berada di sisiku." Terang Aaron.
"Rahasiakan keberadaan Sora di sini."
"Jean kau mau melakukan permintaanku kan."
Jean butuh waktu untuk menjawab pertanyaan Aaron,dia bingung mengambil pilihan,karna jika dia menyampaikan pada kakek,susah pasti kakek akan mempermasalahkan kejadian ini dan akan mempersulit Aaron juga.
Jean tak ingin membuat Sora menjadi sedih.
"Baik aku akan menutup rapat mulutku."
"Tapi kau akan beralasan apa jika malam ini kalian tak pulang ke kediaman Rassam?"
Tanya Jean.
"Biar aku yang mengurusnya." Ucap Aaron.
"Kau pulang lah,aku akan mengabarimu."
"Tapi aku masih ingin di sini sampai Sora sadar." Ucap Jean.
"Lihat penampilanmu sekarang."
"Lebih baik kau bersihkan dirimu,dan beristirahat di rumah." Pinta Aaron.
Jean melihat dirinya sendiri,benar kata Aaron gaunnya terkena darah,riasan yang luntur karena tangisannya dan rambut yang sudah berantakan.
"Baiklah,besok aku akan ke sini."
"Fredy antar Jean pulang,setelah itu bawakan pakaian untukku."
"Baik tuan muda."
...
Penuh kesedihan dan kemarahan karna dia tak bisa melindungi Sora. Dia bahkan sudah memperketat keamanan di hotel masih saja bisa kecolongan.
Aaron tak mengira jika rencana mereka lakukan di akhir acara.
Fredy telah kembali ke rumah sakit dan membawa beberapa helai pakaian untuk Aaron dan Sora.
"Tuan muda anda harus mengganti baju dulu."
"Saya yang akan menunggu nyonya."
Aaron mengangguk pelan,dan mengambil baju yang di sodorkan Fredy padanya.
...
"Tuan muda saya telah menempatkan dua pengawal menjaga di depan pintu."
"Dan sudah menutup semua hal yang terjadi tadi malam agar keluarga nyonya tak mengetahuinya."
"Dan ini pesan singkat dari nyonya Olivia,beliau bertanya tentang keberadaan nyonya Sora."
Sambil menyodorkan ponsel kepada Aaron.
"Berikan padaku biar aku yang membalas." Jawab Aaron.
Aaron mengetik beberapa kata.
*Ma,aku sedikit lelah jadi aku dan Aaron menginap di hotel.
Besok dari hotel kami akan langsung terbang ke Bali.
Tolong sampaikan kepada kakek,dan papa,agar gak khawatir pada kami.
Love u ma*..
Setelah Aaron mengirimkan pesan itu,dia mengembalikan ponselnya pada Fredy.
"Tuan muda,Jacky sudah menyelidiki pria yang sudah mati,menurut data yang ada pria itu sudah mati dua tahun yang lalu."
"Dan dua pria lainnya,kami sudah menangkapnya."
"Mereka sudah mengaku,dan mengatakan jika nona Sarah yang telah membayar mereka."
"Suruh dua orang itu untuk bilang pada Sarah,jika rencana mereka telah berhasil dan ingin bertemu dengan Sarah."
"Juga bayar mereka agar melakukan sesuatu pada Sarah"
"Baik tuan muda."
"Cari sampai ketemu,dalang satunya." Perintah Aaron.
Fredy menganggukkan kepalanya dan keluar dari kamar,segera mengabari Jacky perintah dari Aaron.
***
Di lorong basement apartemen,dua orang pria berdiri,mereka menunggu seseorang, salah satu dari mereka menghisap rokok.
Tak lama sorot lampu mobil mendekat,salah satu pria itu mematikan rokoknya dengan menginjaknya,lalu mereka menghampiri mobil itu.
Jendela mobil terbuka,seorang wanita cantik berada di baliknya,di depan kemudi.
"Nona kami sudah berhasil menjalankan tugas dari anda."
"Kami meminta setengah bayaran yang belum anda berikan."
"Kalian pikir bisa membodohiku,wanita itu belum mati." Teriak Sarah.
"Tapi nona,walau wanita itu belum mati,tapi dia sedang kritis di rumah sakit."
"Kami akan tetap membunuhnya besok."
"Masih juga membohongiku?"
"Aku sudah mengecek seluruh rumah sakit,tak ada nama dari wanita itu."
"Buat apa aku membayar kalian." Teriaknya.
"Baik,kau sendiri yang membuat kami melakukan ini."
Pria itu membuka pintu mobil dengan paksa dan menarik Sarah keluar dari mobil dan memindahkannya di belakang kursi belakang.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Tidak,kalian akan melakukan apa padaku."
"Tidak...,jangan..."
Satu pria mengunci tangan Sarah di atas kepalanya dan satu pria melucuti pakaiannya.
"Ku mohon,jangan lakukan itu padaku."
"Baik aku akan membayar kalian."
"Akan aku bayar kalian dua kali lipat jika melepaskanku."
Ucap Sarah mencoba mengubah pikiran mereka dengan uang.
Namun dua pria itu tak memperdulikan perkataan Sarah,mereka mencicipi tubuh Sarah secara bergantian.
"Tidak..,aaah Tidak."
"Ku mohon lepaskan aku.."
Sarah tak mampu melawan mereka,dia hanya bisa berteriak dan menangis.
Evil smirk Jacky yang melihat tak jauh dari mobil Sarah.
Di dalam mobil,Jacky dengan dua anak buahnya,mengawasi keadaan sekitar agar tak ada yang menolong Sarah.
"Kak aku sudah menjalankan perintahmu,Sarah sudah mendapatkan pembalasan." Ucap Jacky di seberang telepon kepada Aaron.