Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Ceraikan saja dia!


Setelah shalat zhuhur.


Keyla terduduk diam di atas sajadah sembari memandangi jendela kamar. Entah apa yang di pikirkan wanita itu. Rasanya ketika ia selesai shalat, ada sesuatu yang ringan di jiwanya, tapi entah apa itu.


Ceklek.


Pintu terbuka.


"Assalamualaikum," ucap Rafka memberi salam lalu masuk ke dalam kamar.


Dengan cepat Keyla melepas mukenah nya lalu melipat dan menyimpannya di lemari.


"Kau sudah selesai shalat?" tanya Rafka berjalan menuju lemari.


"Yang kau lihat itu apa tadi? Bukan shalat yah," ketus Keyla.


"Bisa saja kau hanya pura-pura," jawab Rafka membuka kemeja nya menyisakan kaos lengan pendek saja.


"Ayo makan," lanjut Rafka berjalan keluar dari kamar. "Jangan lupa pakai jilbab, kaus kaki, pakai gamis kalau perlu. Ada Abi ku di sana,"sambung Rafka lalu keluar dari kamar meninggalkan Keyla yang ternganga.


"Ini mau makan atau mau hari raya pakai gamis segala," gerutu Keyla yang akhirnya mengeluarkan daster panjang, sweater, kaus kaki, jilbab tak pula pula anak jilbabnya.


Di meja makan.


Suasana tampak hening, hanya ada suara dentingan sendok saja. Tak ada yang bicara membuat Keyla merasa tak nyaman. Biasanya kalau ia sedang makan bersama Alan pastinya mereka akan sering berbincang.


Setelah selesai makan, Keyla kembali ke dalam kamar. Sungguh membosankan, ia ingin segera pergi dari sini dan bertemu Alan. Tapi, kalau ia nekat ia bisa di bunuh bapak mertuanya yang galak itu.


Ia harus menunggu keluarga Rafka pergi, barulah ia akan membuat kesepakatan untuk bercerai.


Semoga saja nantinya akan berjalan dengan mudah, semoga saja Rafka mau menceraikannya.


Lagi pula apa yang harus di pertahankan, ia bukanlah wanita yang masih suci hingga layak mendapatkan laki-laki baik.


Keyla berjalan menuju balkon kamar, di lihatnya pemandangan kota yang dulu sering ia nikmati bersama Alan. Sedang apa kekasihnya itu sekarang? Apa dia tak mencari Keyla.


******


22.00


Hari sudah berganti malam, tampak Keyla sudah tertidur sedangkan Rafka sedang sibuk dengan laptopnya. Ia menatap ke arah ranjang lalu menghela nafas panjang.


Suara ketukan pintu kamar terdengar, Rafka langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Umi." Ternyata Aria yang mengetuk pintu.


"Razka sudah datang," ucap Aria. Rafka pun tampak mengangguk lalu keluar dari kamar. Di lihatnya Razka yang duduk sembari menyandarkan kepalanya di bahu Abi mereka.


"Capek?" tanya Rafka duduk di samping Razka.


"Iya," jawab Razka.


"Mana dia?" tanya Razka pada abangnya.


"Dia siapa?"


"Wanita itu, mana dia?" tanya Rafka mengangkat kepalanya.


"Maksud mu, istri Abang? Dia sudah tidur," jawab Rafka.


"Istri? Secepat itu Abang mengakuinya sebagai istri? Cih, mengapa aku sedikit kesal yah!" ketus Razka tak suka.


"Kalau bukan istri lalu siapa? Abang sudah menikah dengannya, jadi dia istri Abang."


"Ceraikan saja dia, bang. Aku tak setuju Abang menikah dengan wanita seperti itu," saran Razka. Tampak sorot kebencian terlihat di matanya.


"Wanita seperti apa maksud mu, Azka?" tanya Rafka tersenyum dingin.


Razka memilih memalingkan wajahnya, ia tak ingin menatap wajah abangnya.


"Maksudku, Abang akan lebih pantas menikah dengan wanita baik-baik, bukan seperti dia. Dari cerita Abi saja terlihat wanita itu sepertinya wanita tidak baik," jelas Razka.


"Pernikahan bukanlah sebuah ajang kau harus mendapatkan yang terbaik karena merasa dirimu cukup baik. Aku hanya akan menikah satu kali saja, jika nanti kami bercerai pun aku tak akan pernah menikah lagi," jelas Rafka membuat keluarga nya terkejut.


"Apa maksud mu, Rafka?" tanya Gabriel tak mengerti dengan pemikiran putranya.


"Tidak ada maksud apa-apa, Abi. Rafka mengantuk, Rafka tidur dulu. Selamat beristirahat," jawab Rafka berdiri lalu meninggalkan keluarga kecilnya yang masih bingung.


Rafka memilih masuk ke dalam kamar dan berjalan menuju sofa. Ia membaringkan tubuhnya, ia tak punya niat tidur seranjang dengan istrinya. Bukan karena benci, ia hanya tidak nyaman saja.


Perlahan mata Rafka tertutup, ia akan bangun di tengah malam nanti.


03.00


Sudah jam tiga, Rafka sudah bangun dari jam setengah tiga, laki-laki itu baru saja selesai shalat Sunnah. Ia menatap ke arah ranjang lalu berjalan mendekat.


Tak lupa pula ia membawa sapu di tangannya.


"Bangunlah," ucap Rafka memukul pelan kaki Keyla. Tampak Keyla menggeliat lalu bangun dan berusaha mengumpulkan nyawanya kembali.


"Apa?" tanya Keyla dengan suara khas orang mengantuk.


"Shalat," jawab Rafka.


"Shalat apa jam segini? Kan belum subuh," gerutu Keyla.


"Pergi saja, jangan banyak tanya!" titah Rafka pelan.


"Aku mengantuk," jawab Keyla.


"Kalau di pukul pakai ini masih ngantuk gak?" tanya Rafka mengangkat gagang sapu yang ada di tangannya.


"Iya gak ngantuk lagi," jawab Keyla langsung pergi ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian. Keyla keluar dari kamar mandi lalu melirik ke atas ranjang. Sprei dan selimut sudah di ganti menjadi yang baru.


"Kau mengganti sprei? Tapi untuk apa?" tanya Keyla.


"Aku akan tidur di sini, kau tidurlah di sofa nanti."


"Tidur di sofa? Aku tidak mau," tolak Keyla. Enak saja ia harus tidur di sofa sedangkan laki-laki itu tidur di ranjang yang empuk.


"Kalau tidak mau tidurlah di ruang tamu," ucap Rafka membuka laptopnya di atas ranjang. "Cepat shalat sana," lanjutnya melirik sekilas ke arah Keyla.


Keyla tampak menghentak kakinya karena kesal.


"Lagian untuk apa sih sering-sering shalat? Toh tidak bisa membuat kita kaya," gerutu Keyla.


"Jangan banyak bicara, shalat saja."


******


Adzan subuh berkumandang, Keyla terbangun dari tidurnya. Ia sudah tertidur di atas sajadah setelah shalat tahajud, di liriknya ke arah ranjang, di sana tidak ada siapa-siapa.


"Yes, berarti aku tak perlu shalat deh." Keyla bersorak ria, namun senyuman nya langsung memudar ketika melihat sebuah kertas dengan tulisan besar terpampang di kepala ranjang.


"Ingat! Ada CCTV di kamar ini!"


Begitulah tulisan yang ada di kertas putih itu. Di tambah satu gagang sapu ada di dekat kertas itu. Hah, ternyata ia harus shalat lagi. Dengan cepat Keyla pergi ke kamar mandi untuk berwudhu lagi.


Setelah itu Keyla pun dengan segera melaksanakan shalat subuh dengan cepat, wanita itu masih mengantuk dan berniat ingin tidur lagi setelah shalat subuh.


_


_


_


_


_


_


_


Eps selanjutnya author up sekitar jam 8 atau 9 yah.😉


Kalau gak suka jangan di baca Bun, jangan katanya ceritanya jelek tapi tetap baca sampai bab akhir. Itu munafik namanya 🙂


Cobalah untuk tidak membuat mental seseorang down. Saya nulis ini dengan pikiran yang banyak, apalagi Minggu depan saya udah mulai UAS. Tugas numpuk🙂


Jadi kalau memang tidak berkenan dalam hati ceritanya, boleh di skip kok. Saya gak marah, saya hanya butuh orang yang tulus saja😊


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.