Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Extra Part 21 - Edisi Ana - Axel


"Ehm itu ... apa kamu tidak menginginkannya?"


Jelas saja ingin, bukankah sebuah pernikahan akan selalu menantikan hal itu. Tanpa perlu dijelaskan, Axel paham arah pembicaraan Ana. Namun, jelas dia tidak berani lancang, istrinya adalah seorang korban pemerkossaan, trauma itu mungkin saja belum hilang.


Walau Irham sudah mengatakan begitu banyak yang Ana lakukan, psikiater seolah jadi teman dan obat-obatan juga menjadi penunjang mental Ana. Ya, sedalam itu Axel menghancurkan batin Ana dan kini tugasnya adalah membuat Ana benar-benar lupa.


"Kau tidak takut padaku?"


"Kau suamiku, istri mana yang takut pada suaminya sendiri?" tanya Ana masih setia menatapnya, wajah wanita itu tampak bersemu sebelum kemudian tersenyum hangat.


Yang terluka adalah Ana, tapi yang butuh ditenangkan adalah Axel. Ana beranjak, dia duduk dan menyingkap selimutnya, diikuti Axel yang kini melakukan hal sama.


"Aku takut, An."


"Lambat laun kita akan begini, aku sudah menerimamu, Axel ... sungguh."


Memang benar alasan Ana semata-mata demi anak. Akan tetapi, dia yang melihat bagaimana Axel meminta maaf berkali-kali pada Satria tentang kesalahannya di masa lalu membuat wanita itu tersentuh.


Seperti kata Zalina, tidak selamanya luka akan terus menganga. Jika Ana tidak mengakhiri kebencian itu, maka seumur hidup akan terus berlanjut. Ana bukan lagi gadis belia yang memaksakan kehendak pada dunia, dia kini wanita dewasa yang mencoba berdamai dengan keadaan dan meredam egonya.


"Kau suamiku, aku istrimu ... seperti kata kiyai Husain tadi."


Axel benar-benar cengeng belakangan ini. Mendengar ketulusan Ana, tiba-tiba dia menangis dan seolah lupa siapa dirinya. Pembunuh bayaran dan pencopet ulung itu sudah berubah, mungkin jika Ricko mengetahui bagaimana dirinya bisa dipastikan akan menjadi bahan ejekkan seumur hidup.


"An, aku tidak sedang bermimpi, 'kan?"


"Tidak, semua sudah nyata."


"Kesalahanku beg_"


"Shuut, berhenti melihat ke belakang, bukankah kau sudah berjanji untuk menemaniku di masa depan? Soal papaku, aku yakin dia lebih tenang dengan langkah yang kuambil, jadi berhenti merasah bersalah," tutur Ana lembut sekali, dirinya yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu jelas saja luluh seketika.


Axel lemas, dia butuh kekuatan hingga merengkuh tubuh istrinya begitu erat. Sama sekali tidak dia duga keluar dari penjara tidak hanya kembali dimanusiakan oleh manusia, tapi bidadari setulus Ana.


"Terima kasih, Ana ... aku tidak akan menyakitimu setelah ini."


Janji itu sudah sekian lagi Axel ucapkan. Ana mengangguk pelan, selang beberapa lama Ana mendongak menanti Axel yang kini mengikis jarak. Apapun, dia benar-benar rela dan sudah meyakinkan diri untuk menjadi milik Axel seutuhnya.


Kecupan singkat mendarat di bibir ranum Ana, Axel pernah melakukan hal ini dahulu. Hanya saja yang kali ini sangat-sangat lembut, sama sekali tidak memaksa dan dia pasrah andai Ana menolaknya.


Namun, kecupan yang tadinya hanya sekilas berubah menjadi ciuman yang perlahan kian panas. Selama itu juga, Ana tidak menolak dan berusaha membalas walau tidak selihai itu. Jelas tidak lihai karena tidak pernah berhubungan dengan lawan jenis selama menjadi ibu tunggal Satria.


Tanpa Ana sadari, saat ini tubuhnya sudah terbaring dengan Axel yang berada di atasnya. Begitu lembut cara Axel membuainya hingga dessahan tak tertahan lolos dan membuatnya sadar jika Axel sudah membuat tubuhnya benar-benar polos bak bayi baru lahir.


"An ... sampai di sini, apa kau yakin, Sayang?" tanya Axel dengan pandangan berkabut, dia tidak sekuat itu menahan gejolak yang seakan meledak-ledak.


Merasa mendapat lampu hijau, Axel terus melancarkan aksinya. Mencumbu Ana begitu mesra dan meluapkan kasih sayangnya, fakta dia benar-benar menyayangi wanita yang telah berjuang membesarkan putranya ini.


Ana sudah memiliki seorang putra, tapi jujur Axel benar-benar sulit menerobos pertahannya. Axel dibuat menggila kala merasakan miliknya melewati lorong sempit itu.


Sempit, dia pastikan Ana merasakan sakit. Bisa dilihat dengan tangan Ana yang meremmas sprei seraya memalingkan wajahnya. Kendati demikian, secepat mungkin Axel merengkuhnya dengan penuh perasaan dan mengecup bibir Ana begitu lembut.


Bagi seorang Axel, Ana adalah orang pertama yang dia rasakan. Tidak peduli bagaimana dahulu, yang jelas saat ini Ana adalah miliknya. Meski bukan pemain wanita, Axel cukup pandai memanjakan wanitanya. Hentakan yang dia berikan mampu merubah rasa sakit Ana menuju puncak kenikmatan dunia.


Dia berhasil meraihnya, Axel tersenyum tipis melihat sang istri yang terengah-engah di bawahnya. Pria itu perlahan menyeka keringat Ana sebelum kemudian menuntaskan dirinya.


"An ...." Axel mengerang kala merasakan pusat tubuhnya seakan hendak meledak, pria itu memejamkan mata dengan dada yang kini menengadah ke atas bersamaan dengan Ana yang merasakan hangat di bagian intinya.


Selang beberapa lama, Axel ambruk di sisi Ana dan kini menarik istrinya dalam pelukan. Kecupan manis mendarat di kening Ana, sementara wanita itu pasrah begitu saja kala Axel mengeratkan pelukannya.


"Aku mencintaimu, sungguh."


"Aku juga begitu, Axel."


Mereka saling mengutarakan cinta, tapi di sisi lain Ricko kini berlari terbirit-birit hingga membuat Sean yang baru saja turun ke dapur panik seketika. Dia yang bermaksud mengambilkan air hangat untuk Zalina, kini justru mendapati pria ini berteriak sesukanya.


"Ada apa? Sudah kukatakan jangan berteriak!!"


"Aku mimpi buruk, Sean!! Tattttuut," ucap Ricko tanpa aba-aba merebut air hangat di gelas yang Sean pegang.


"Mimpi apa memangnya?"


"Aawwwh panas!!"


"Ck, cepat katakan mimpi apa?" desak Sean kemudian, kebiasan sekali berteriak seolah rumah ini adalah ruang terbuka.


"Gunung meletus!! Aku sampai terbakar sementara kau sendiri jadi abu," jawabnya heboh sekali, sementara Sean hanya memutar bola matanya malas.


"Terus si Axel yang jadi juru kunci gunung itu!! Astaga apa makna mimpi ini, Sean?!!"


"Teriak sekali lagi kau kublender, Ricko."


.


.


- To Be Continued -