
"Jean aku udah di depan perusahaan nih,kamu keluar sekarang ya."
"Aduuh maafin aku Sora,aku gak bisa nganter kamu."
"Saat ini aku sedang rapat dengan perusahaan asing."
"Rapat?"
"Hu'um,mendadak aku di suruh gantiin pak Davin."
"Maaf ya Sora."
"Kamu kan tau aku ingin banget ngantar kamu,ihik ihik."
"Huft." Sora kecewa.
"Ya udah deh,aku akan ke rumah sakit sendiri."
Sora menutup telponnya,dia sedih baik Aaron maupun Jean tidak bisa menemaninya memeriksa kandungannya.
"Mama juga gak bisa,hari ini pergi ke luar kota ama papa."
"Pak Chow kita ke rumah sakit sekarang."
...
"Pak kok gak di nyalain mobilnya?"
"Maaf nyonya."
"Pak Chow kan udah aku bilang gak usah manggil nyonya."
"Eh iya bu." Pak Chow menengok ke arah pintu masuk perusahaan yang ada di seberang.
"Pak kita nunggu siapa sih?"
"Klik." Suara pintu mobil yang sedang di buka.
Sora terkejut ternyata Aaron yang sedang membuka pintu mobil.
"Sayang,ngapain ke sini?"
"Bukannya kamu kemaren ngajak aku ke rumah sakit buat periksain arsa."
"Kamu kan bilang gak bisa."
"Itu kan kemaren bilangnya,sekarang aku ada waktu buat nganterin kamu."
"Sebel deh." Gerutu Sora.
"Tapi kamu seneng kan aku bisa nganterin kamu." Goda Aaron.
"Udah ah."
"Pak Chow cepetan nyalain mobilnya!"
"Iya bu."
***
Di ruangan dokter kandungan...
Saat ini seorang dokter wanita sedang memeriksa perut Sora melalui Usg.
"Dokter bagaimana keadaan istri dan anak saya."
"Mereka baik baik saja pak."
"Saya ucapkan selamat istri anda mengandung tiga anak sekaligus."
"Maksud dokter anak saya kembar tiga?"
"Iya,mereka kembar identik."
Aaron memandang sora dengan bahagia.
"Dok kemaren saat saya periksa dokter gak bilang kalau anak saya kembar." Ucap Sora.
"Maafkan saya,karna kemaren janin anda masih kecil dan kantong hanya ada satu, jadi belum terlihat."
"Hahaha terima kasih dok."
Aaron benar benar bahagia.
***
Di perjalanan...
Di dalam mobil...
"Sayang kau bahagia banget ya?"
"Iya dong sayang,kita berdua kan anak tunggal,aku gak bayangin kalau Tuhan kasih kita seorang anak langsung tiga."
"Pantes aja makanmu banyak banget."
Sora tak menanggapi apa yang sedang di bicarakan oleh Aaron,dan Aaron menyadari akan hal itu.
"Apa kamu gak suka dengan si kembar?"
"Enggak.. aku cuma takut saat lahiran nanti."
Aaron memeluk Sora agar merasa tenang.
"Sayang kamu gak usah takut,ntar aku akan cari dokter paling hebat agar saat persalinanmu gak akan kesakitan."
Sora hanya menganggukkan kepalanya.
"Setelah sampai di rumahmu aku akan sampaikan pada kakek ayah dan ibu,mereka pasti senang dengan berita ini."
"Hari ini kan mereka gak di rumah." Ucap Sora.
"Mmm,jadi kita hanya berdua di rumah?"
"Enggak dong sayang,kan ada bi kana,paman Jhon,dan lainnya."
Aaron hanya manggut manggut dengan penjelasan Sora.
"Apa kau gak balik lagi ke kantor?"
"Enggak,aku ingin sama kamu setelah ini."
"Nanti malam aku ingin mengajakmu makan malam di luar."
"Oke deh."
Perkataan Aaron mengalihkan ketakutan Sora,saat ini Sora perlahan melupakan pemikirannya tentang persalinan.
***
Di negara M..
"Bukk."
"Bukk."
Seorang pria terkapar setelah berulang kali di pukuli.
"Kau pikir dengan melarikan diri kami tak akan menemukanmu."
"Kau mengecewakan."
"Bhuk." Tendangan itu mendarat lagi di tubuh pria yang terkapar itu.
"Adikmu sudah mati,kau pun juga harus mati." Ucap Eric Alves.
"Apa,Smith sudah mati?"
"Ba****an..."
"Aku gak akan mati,semudah itu." Guman Zander.
"Dorr."
Tembakan itu mengenai bahu Eric,dan kesempatan itu di gunakannya untuk melarikan diri.
"Kak kau tak apa apa?"
"S****n,kejar dia jangan biarkan dia lolos,jika ketemu bunuh saja."
"Tapi kak lukamu."
"Aku bisa urus sendiri kalian kejar dia."
"Iya kak."
"Aarrgh!! s****n!!
Eric mengambil ponsel dari kantongnya dan menelpon Dickson Alves.
"Pa Zander melarikan diri."
"Dia pasti akan membalas kematian adiknya."
"Biarkan dia."
"Kita atur rencana yang lain."
"Kau sudah mencari tau siapa yang meledakkan mobil yang meledakkan Smith?" Tanya Dickson Alves dari seberang telepon.
"Belum pa,karna kejadian itu di kota Oregon, aku tak bisa terang terangan menyelidikinya."
"Kota itu di kuasai oleh keluarga Rassam."
"Kau kirim adikmu ke Oregon untuk memegang perusahaan yang ada di sana,suruh dia untuk jalin koneksi dengan orang penting di sana."
"Baik pa."
Eric menutup telponnya.
***
Di hutan,Zander berusaha untuk melarikan diri dari kejaran anak buah Eric.
Dengan tubuh penuh luka dia berlari dengan tertatih tatih.
Zander keluar dari hutan dan sekarang berada di jalan raya,berusaha menghentikan kendaraan yang sedang melintas.
Beruntung baginya ada mobil bak terbuka berisi sayuran yang menghentikan lajunya dan menolong Zander.
"S**l." Umpat anak buah Eric.
Merekapun menelepon Eric.
"Kak kita kehilangan orang itu."
"Kalian kembali ke villa."
"Baik kak."
***
Di kota Oregon...
Di restoran...
"Sayang aku gak nyangka ternyata kamu orangnya romatis ya."
"Emang apaan yang kamu pikir sih."
"Aku kan seperti ini orangnya."
"Hisszz gak deh,liat aja tuh para pegawaimu,takut jika ketemu kamu."
"Dulu saat aku kerja juga takut ama kamu,senyum aja gak."
"Hahaha."
"Aku gak mau jika aku terlalu ramah mereka akan salah paham."
"Kau tau kan senyumku ini bisa melelehkan mereka."
"Hihihi."
"Kau ini."
"Ternyata dia punya sisi yang seperti ini ya." Batin Sora.
Mereka menikmati makan malam dengan bahagia.
"Sayang dua hari lagi nenek akan datang ke Oregon,mungkin aku akan tidur di rumahku menemani nenek selama beberapa hari."
"Apa kau udah ngomong ke nenek soal diriku."
Aaron hanya mengangguk,sambil mengunyah makanan di mulutnya.
"Nenek gak marah kan?"
Aaron hanya mengagukkan kepalanya,tidak berucap apapun.
"Apaan sih dari tadi cuman gitu doang jawabnya."
"Percuma deh jika aku tanya lagi,dia akan jawab seperti itu lagi." Batin Sora.
"Kau kenapa sayang,apa badanmu gak enak?"
"Enggak papa."
"Aku cuma kepikiran saat nenek nanti berkunjung ke rumahku."
"Tenang aja pasti nanti lancar kok." Ucap Aaron menenangkan Sora.
Sora terdiam,larut dalam pikirannya sendiri,berharap akan terjadi apa yang di katakan oleh Aaron barusan.
"Sayang percaya sama aku deh,oke."
"Gak akan ada masalah."
"Aku juga sudah bicara dengan nenek."
"Nenek setuju apapun pilihanku."
Aaron menggenggam tangan Sora,untuk meyakinkannya sekali lagi.
Sora tersenyum,dan ada rasa tenang yang di rasakannya.
"Trililit trililit."
Ponsel Aaron berbunyi.
"Kak Aaron,aku sudah mendapatkan informasi,namanya Sherly dia bagian pengembangan,aku sudah menyampaikan hal ini pada kak Fredy." terang Jacky.
"Dia keponakan dari pengasuh keluarga Alves yang sekarang sudah meninggal."
"Aku mengerti." Jawab Aaron lalu mematikan telponnya.
"siapa sayang?"
"Temanku."
"Temen deket?"
"Bisa di bilang gitu sih."
"Kau akan tau nanti." Jawab Aaron sambil tersenyum.
"Bikin penasaran aja deh." Batin Sora.
Sudah satu jam mereka bersama,berbicara dan menyantap makanan mereka,setelah itu mereka pulang ke kediaman Rassam.