Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
40. Menemukan sora


Di hotel yang bersebelahan dengan trident hotel.


Sora saat ini berada di atas tempat tidur,masih mengenakan gaun pesta, dia tersadar dari pingsannya sedikit pusing dan dia berusaha bangkit untuk duduk.


"Kau udah sadar?"


Sora mencari asal suara itu,dia fokus menatap karna pandangannya yang sedikit kabur,pria itu berdiri membelakangi sora menatap pemandangan di luar jendela.


"Kau siapa?"


Pria itu membalikkan badannya dan mendekati Sora.


"Kamu..."


"Bukannya kamu tuh sepupunya Aaron."


"Benar,kau jangan salah sangka dulu."


"Aku yang udah nyelamatkan kamu."


"Aku ngikuti kamu karna aku khawatir dengan adikku,takutnya dia akan lakukan sesuatu yang bodoh."


"Kau taukan adikku menyukai Aaron."


Sora memejamkan matanya,menyaring kata kata yang di ucapkan pria itu.


"Jika kau yang menyelamatkan aku,apa kau tau siapa yang mencoba menculikku."


"Aku tak tau."


"Kau bisa mencari tau lewat ponsel ini,saat aku memukul pria itu dia sedang menerima telepon."


"Aku hanya bisa melacak nomer itu berasal dari negara M."


"Tapi saat mencari pemilik nomer itu aku kehilangan jejak, nomer itu menghilang,bahkan datanya pun ikut hilang."


"Kenapa kau tak katakan sendiri ke Aaron." Ucap Sora


"Untuk saat ini Aaron gak akan percaya dengan apa yang akan aku ucapkan."


"Dia gak akan mendengarkan kata kataku."


"Apa kau tau Aaron orang yang seperti apa?"


Sora hanya menggeleng dengan jawabannya.


"Orang yang menakutkan jika dia sudah melakukan sesuatu."


"Apa hubungan kalian seburuk itu?" Tanya Sora.


"Entahlah,dulu hubungan kami sangat dekat."


"Hanya karna aku yang terlalu memanjakan adikku."


"Membuat hubungan kami jadi jauh seperti ini."


"Siapa namamu dan adikmu?" Tanya sarah.


"Hah kau bahkan tak tau namaku."


"Puff puff..."


Vian menertawakan ketidak tahuan Sora.


"Awal pertemuan kita saat itu memang sedikit kurang menyenangkan sih."


"Baik kita ulangi."


"Perkenalkan namaku Vian."


"Dan adikku namanya Sarah."


"Sora,namaku Sora."


"Nama yang cantik" ucap vian.


Vian memberikan ponsel milik penculik pada Sora.


"Berikan ponsel itu pada Aaron,dia pasti bisa cari petunjuk lewat ponsel ini."


"Sekarang telponlah Aaron dia pasti sangat khawatir."


"Pakailah ponsel ini, ini nomer baru."


Vian memberikan ponsel yang lain pada Sora.


Sora memegang ponsel itu dan hanya menatapnya.


"Kau kenapa?"


"Aku...tidak hapal nomer telpon Aaron."


"Puff... puff..."


"Ha..ha..ha.."


"Kau ini aneh, kamu kan istrinya kenapa sampai gak hafal nomer suamimu sendiri."


Vian membungkuk dan berbisik di telinga sora.


"Apa jangan jangan pernikahan kalian ini palsu?"


Sora kaget dengan kata kata vian barusan.


"Apaan sih,aku dan Aaron bener bener udah nikah."


"Oh jadi beneran kalian nikah, aku pikir pernikahan kalian hanya pura pura buat nyenengin nenek."


Sora hanya terdiam dengan perkataan vian.


Vian sedikit kecewa karna kebenaran pernikahan mereka.


Vian mengambil ponsel yang di pegang sora lalu menekan nomor ponsel Aaron,setelah itu memberikan pada Sora lagi.


***


Aaron saat ini


"Tuan muda saya sudah menemukan petunjuk." lapor fredy.


"Kemungkinan saat ini nyonya sedang bersama..."


"Trililit..trililit"


"Nomor tak di kenal??" Batin Aaron.


Aaron menyuruh fredy untuk diam.


"Hallo."


"Sayang ini aku." Ucap Sora di seberang telepon.


"Sora,Kau tak apa apa."


Aaron langsung berdiri begitu mendengar suara di telepon.


"Iya aku tak apa apa, aku akan kirim lokasiku padamu."


Sora mematikan telponnya dan mengirimkan lokasinya.


Aaron merasa lega tidak terjadi apapun dengan Sora.


Fredy yang mendengarnya ikutan lega.


"Dret dret ." Suara pesan masuk.


"Lokasi inikan di hotel sebelah."


Di dalam lift Aaron memberikan ponselnya pada fredy.


"Tuan muda ini..."


"Itu lokasi Sora saat ini."


"Kau tadi ingin memberitahu sesuatu,lanjutkan bicaramu." Perintah Aaron.


"Tuan muda kemungkinan nyonya bersama dengan tuan muda vian."


Aaron mengernyit.


"Orang yang memukul penculik itu adalah tuan muda vian,lalu tuan muda vian membawa nyonya."


"Yang menyelamatkan nyonya adalah tuan muda vian." Jelas fredy.


"Kenapa vian tidak menghubungiku?" Batin Aaron.


"Ting." Pintu lift terbuka.


Aaron berjalan terburu buru dalam perjalanannya menuju ke hotel sebelah bersama para pengawalnya.


***


"Aku akan ninggalin kamu sendiri di sini, tunggulah Aaron sampai dia datang."


Vian berjalan keluar kamar.


"Vian."


"Makasih."


Vian menoleh dan hanya mengangguk, berlalu meninggalkan Sora sendiri.


Sora merebahkan tubuhnya, dan memejamkan matanya,dia masih terasa lemas dan pusing.


Ada suara membuka pintu dan beberapa orang yang masuk.


"Sora."


"Sayang kau gak apa apa?"


Sora segera membuka kembali matanya dan tersenyum melihat Aaron yang mengkhawatirkannya.


"Aku gak apa apa." Suara Sora terdengar serak.


Aaron memeluknya dengan erat,tidak ingin kehilangan Sora lagi.


Aaron menggendong tubuh Sora,membawanya keluar dari hotel itu.


Aaron memasukkan Sora ke dalam mobil dan di kemudikan oleh fredy.


"Sayang kita mau ke mana?"


"Rumah sakit."


"Aku udah gak apa apa,gak perlu sampai ke rumah sakit,ini juga udah larut malam banget."


"Udah balik ke hotel aja, aku mau istirahat."


"Aku gak mau kamu sama anakku kenapa napa."


"Kamu...udah tau aku hamil?" Tanya Sora dengan gugup.


Aaron menyentil dahi Sora.


"Aduh,sakit..."


"Sampai kapan kamu nutupin kehamilanmu?"


"Sampai sesuatu terjadi sama kamu."


Sora menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Saat kembali ke oregon nanti aku akan menemui keluargamu."


"Iya." Jawab Sora dengan malu malu.


***


Di ruang dokter.


"Gimana dok keadaan istriku?"


"Istri anda dan kandungannya tidak apa apa."


"Dia harus istirahat beberapa hari."


"Dan jangan lakukan perjalanan jauh dulu."


"Trimakasih dokter."


Dokter menulis beberapa resep obat untuk Sora.


Mereka keluar dan meninggalkan rumah sakit.


Sesampai di kamar hotel.


"Kau istirahatlah." Ucap Aaron


Aaron berdiri untuk beranjak dari tempat tidur,tetapi Sora memegang pergelangan tangan Aaron.


Sora menggeleng geleng kepalanya dengan manja.


"Aku lapar..."


"Hiiissszzz tentu aja kamu lapar,kamu juga belum makan malam kan."


"Aku akan pesankan makanan di hotel."


Aaron kembali akan berdiri,tapi pergelangan tangannya ditarik lagi oleh sora,dia menggeleng gelengkan kepalanya lagi dengan manja.


Aaron hanya menunjukkan raut wajah yang tidak tahu harus bagaimana.


"Aku mau kau masakin aku buat makan malam."


"Apa,Kamu nyuruh aku masak?"


"Kita kan di hotel,di sini gak ada dapur."


"He'em."


Sambil mengelus elus perutnya.


"Sayang ayahmu gak mau masakin buat kita."


"Apaan sih kamu ini."


"Huft.. "


Aaron tidak bisa menolak kemauan Sora,hanya bisa menghela nafas.


"Ya udah,kamu maunya makan apa?"


"Omelet daging wagyu. " ucap Sora yang terlihat senang.


"Oke,kamu istirahat dulu."


"Ada beberapa pengawal di luar pintu untuk menjagamu." Ucap Aaron sambil mencium dahi Sora.


Aaron beranjak pergi di ikuti fredy ke dapur restoran yang ada di hotel trident.


Fredy tersenyum melihat perubahan Aaron,yang membuka hatinya untuk seorang wanita.