
Sora berlari meninggalkan kantor Aaron,dia teringat akan Jean dan berusaha mencari ruangannya.
"Jean pasti menempati ruanganku yang dulu." Batin Sora saat mencari keberadaan Jean.
"Braakk."
"Sora?"
"Kamu..."
"Ssst."
Dengan jari telunjuknya berada di mulut Sora memberi kode pada Jean untuk diam.
Jean yang sedang fokus bekerja merasa kaget dengan kedatangan Sora yang tiba tiba.
Di luar ruangan terdengar Aaron yang memanggil manggil nama Sora.
Setelah suara Aaron menjauh,Sora mendekat ke meja Jean dengan ekspresi marah.
"Jean ceritakan padaku,siapa wanita yang ada di ruangan Aaron?"
"Wanita?"
"Apa yang kamu maksud manager Reyna?"
Ucap Jean.
"Manajer?"
"Jadi wanita itu bekerja di sini." Guman Sora.
Sora bertambah marah,terlihat dadanya yang kembang kempis menahan kemarahannya.
"Apa dia dekat dengan Aaron? Dan sejak kapan dia bekerja di sini?"
"Ra... kamu tenang dulu ya..." Ucap Jean sambil mengelus elus punggung Sora.
"Nih minum dulu." Pinta Jean.
Sora menghabiskan segelas air sekali teguk,dan meletakan gelas itu di meja dengan suara yang keras.
"Kamu jangan marah Ra...,kamu kan sedang hamil,gak baik buat anak kamu."
"Inget kata dokter Ra,kamu gak boleh tertekan,dan terlalu banyak berpikir."
"Oke,baik."
Sora mengatur nafasnya dan mengambil nafas dalam dalam.
"Jean sekarang kamu ceritakan ke aku,siapa wanita itu,ada hubungan apa dengan Aaron,dan kenapa Aaron bisa sedekat itu dengan wanita lain."
"Ra... aku ceritain ke kamu,tapi kamu tenang ya,gak usah pake marah marah segala."
"Janji!"
Sora hanya diam,melirik jari kelingking Jean yang menunggu dia untuk di tautkan pada jarinya.
"Oke aku janji."
"Tapi kamu juga janji,ceritakan semua yang kamu tau." Pinta Sora.
Jean terdiam,memikirkan kembali apa yang harus dia sampaikan pada Sora.
Jean tak menginginkan ada masalah yang terjadi dalam rumah tangga Sora.
"Ra,yang aku tau Reyna adalah pemegang saham di perusahaan ini,juga... dia adalah teman dari Aaron. "
"Aku juga pernah melihat mereka-"
Jean tersadar dan menghentikan bicaranya yang akan bercerita tentang kejadian kemarin di ruangan Aaron.
"Bisa kau perjelas bicaramu Jean."
"Enggak Ra,aku tak melihat hal yang mencurigakan pada Aaron."
"Jean!"
"Kamu gak bisa bohong ama aku? Aku tau kamu menutupi sesuatu."
"Enggak Ra,beneran." Ucap Jean.
"Oke."
"Kalau kamu gak certain ke aku apa yang kamu lihat,mulai sekarang kita gak usah temenan lagi!" Ancam Sora.
"Ra...,jangan seperti itu."
Sora bertambah kesal,saat Sora akan melangkah pergi,Jean menarik bahu Sora.
"Oke,oke aku akan certain ke kamu."
Jean menarik nafasnya dan bersiap siap mengatur ucapannya.
"Aku... melihat mereka dekat sekali." Ucap Jean pelan.
"Sora tapi aku percaya dengan Aaron, kau tau kan dia adalah gunung es."
"Baik,aku mengerti apa yang kau bicarakan Jean."
Tanpa bertanya lagi Sora melangkahkan kakinya dan pergi dari ruangan Jean.
"Sora tunggu."
"Trililit trililit."
Telpon kabel di meja Jean berbunyi,mau tidak mau Jean harus mengangkatnya karna berhubungan dengan proyek yang sedang dia kerjakan dan membiarkan Sora pulang dengan perasaan marah.
"Aargh kenapa sih.. harus saat seperti ini telponnya bunyi."
***
Dengan mengemudikan mobil begitu kencang Aaron di hinggapi rasa khawatir,menduga duga apa yang akan di lakukan Sora setelah melihat kesalah pahaman yang terjadi.
"Bu Sora masih di dalam perusahaan pak."
"Apa?"
"Dia masih di perusahaan."
Aaron menghentikan laju mobilnya dan memutar arah.
Terdengar suara di seberang telpon.
"Pak Chow pulang ke rumah." Ucap Sora.
"Baik bu." Jawab pak Chow yang masih menempelkan ponselnya di telinga.
Saat pak Chow akan menyampaikan pada Aaron,terdengar Aaron berbicara dari seberang telpon.
"Aku tau pak Chow,kau tak usah bicara,jangan katakan pada istriku jika aku meneleponmu." Pinta Aaron lalu dia mematikan telponnya dan kembali memutar mobilnya untuk pulang ke kediaman Rassam.
***
Selama perjalanan di dalam mobil Sora tenggelam dalam pemikirannya,berusaha mencerna apa yang baru saja dia lihat di kantor Aaron.
Setelah itu Sora tersenyum,terpikir olehnya untuk mengambil kesempatan yang baru saja terjadi.
"Sayang... kali ini kau tak akan menolaknya." Batin Sora.
***
Di negara M...
"Brakk."
"Apaan sih kak." Ucap Calista yang tersontak karna Eric yang tiba tiba melempar beberapa dokumen.
"Shit."
"Semua yang kakak rencanakan gagal."
"Kakak udah ngeluarin uang banyak buat ini semua."
"Kakak harus menjualnya lagi agar Alveshine tak terseret."
"Kamu tahu,papa udah peringatin kita agar kita tak terlalu menonjol untuk menjatuhkan Aaron."
"Shit!"
Dengan suara keras Eric memaki dan melampiaskan kemarahannya dengan menendang kursi untuk beberapa kali.
Calista memutar bola matanya menunjukkan bahwa dia tidak suka dengan perilaku Eric.
"Kak,apa sih yang kau kesalkan?"
"Kaukan pemilik sebagian dari saham M grup."
"Harusnya kau senangkan?""
"Apa kau pikir aku bisa semudah itu bisa senang."
"Perusahaan yang membeli saham M grup semua adalah fiktif,jika Aaron berhasil menyelidikinya kemungkinan dia akan mengambil semua sahamnya atas dasar penipuan,dan aku akan kehilangan banyak uang."
"Sebagian uang itu berasal dari perusahaan Alveshine,aku meminjamnya,jika papa tau... dia pasti akan marah." Ucap Eric pelan.
"What?!"
"You stupid." Teriak Calista sambil melempar bantal kursi yang berada di pangkuannya.
"Hei!"
"Ini semua juga karna kamu kan."
"Sekarang kamu harus bantuin kakak untuk menjual saham M grup yang sudah kakak beli."
Calista memijit dahinya,memejamkan matanya untuk mencari jalan keluar bagi mereka.
"Kak ada berapa persen saham yang ada padamu?" Tanya Calista.
"Dua puluh delapan persen,kenapa?"
"Aku akan meminta bantuan Roy untuk membeli separuhnya,dan separuhnya lagi aku yang akan membelinya."
"Aku tak akan menyia nyiakan kesempatan ini,jika aku menjadi salah satu pemilik saham M grup,tak akan ada alasan untukku bertemu dengan Aaron kan."
Jelas Calista pada Eric.
Evil smirk Eric terlihat setelah mendengar penjelasan dari Calista.
"Baik,tak sia sia aku punya adik yang licik sepertimu."
Calista tersenyum dengan liciknya.
***
Di dalam ruangannya,Reyna duduk sambil memainkan jarinya di atas meja.
Setelah kejadian tadi Reyna berusaha untuk menghubungi Aaron.
"Tut tut tut tut."
Nada panggilan yang menandakan masih terhubung pada panggilan lain.
Reyna meletakkan ponselnya dengan kasar.
"Aku tak percaya jika Aaron akan tergila gila dengan wanita sampai seperti itu."
"Aaron yang ku kenal adalah Aaron yang dingin,dan hanya aku satu satunya wanita yang dekat dengannya."
Batin Reyna.
Reyna bertanya dalam hatinya dan tenggelam dalam pemikirannya untuk mencari tau tentang istri Aaron,dan Reyna pun membuka laptopnya untuk berselancar mencari tau tentang keluarga Rassam.
"Ternyata aku salah telah meremehkanmu." Batin Reyna setelah membaca beberapa artikel tentang keluarga Rassam.