Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Bangunlah.


Gabriel membuka pintu mobil lalu berusaha mengeluarkan menantunya yang sudah tak sadarkan diri. Dengan susah payah, Gabriel mengangkat Keyla dengan darah yang terus mengalir.


"Urus mereka, Vano!" titah Gabriel memasukkan Keyla ke dalam mobil yang ada Rafka di sana.


Gabriel pun melajukan mobil dengan kecepatan penuh, sedangkan Vano membawa Alan dan komplotannya yang pingsan karena ditembak dengan peluru bius oleh Gabriel.


Tak akan semudah itu Gabriel melepas musuhnya.


Di perjalanan.


Gabriel sesekali melirik ke kursi penumpang, tampak darah masih terus mengalir dan wajah Keyla terlihat sudah sangat pucat. Gabriel menginjak pedal gas dan menambah kecepatan.


Tak perlu ke rumah sakit besar, yang penting Keyla terselamatkan dulu. Itulah yang ada di pikiran Gabriel.


Sesampainya di rumah sakit terdekat, Gabriel langsung mengeluarkan Keyla dan menggendong menantunya itu. Dengan cepat ia berlari meminta tolong hingga para perawat pun langsung bertindak.


Tak lama dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Keyla.


"Dia pendarahan," ucap dokter itu.


Dengan terpaksa Keyla pun harus segera di operasi untuk mengeluarkan bayi yang belum saatnya lahir ke dunia.


Operasi masih berlanjut, Gabriel masih setia duduk di depan ruang operasi.


"Tuan," panggil Vano mendekati Gabriel lalu memberikan jaket baru untuk tuan nya.


Di belakang Vano terlihat Rafka sudah sadar dan berjalan dengan langkah goyah karena efek bius yang masih tersisa.


"Abi, dimana Keyla?" tanya Rafka pelan memegangi kepalanya yang masih pusing.


"Dia ada di dalam, dokter sedang menolong istri dan anak mu," jawab Gabriel merangkul putranya itu.


"Bagaimana keadaan Keyla, Abi? Apa dia terluka? Bagaimana keadaan nya? Mengapa Abi tak membiarkan Rafka menolong Keyla?" lirih Rafka.


"Yang harus kita lakukan sekarang adalah berdoa, nak. Tak ada gunanya kau menanyakan itu semua. Semua itu tak akan mengubah keadaan." Gabriel menepuk pundak Rafka mencoba memberi semangat untuk putranya.


Selang beberapa menit, dokter pun keluar dari ruang operasi. Tampak wajah dokter itu tegang membuat Rafka langsung mendesak dokter itu untuk mengatakan bagaimana keadaan istrinya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Rafka tak sabaran.


"Operasi berjalan dengan lancar, anak anda sudah lahir tuan. Anak anda kembar dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan," ucap dokter itu tak menjawab pertanyaan dari Rafka.


"Alhamdulillah, lalu bagaimana keadaan Keyla?" tanya Rafka sekali lagi.


"Untuk sekarang istri anda sudah melewati masa kritis nya, hanya saja istri anda masih koma, tuan." Bagaikan di hantam batu, tiba-tiba saja dada Rafka terasa sakit mendengar perkataan dokter.


"Kami akan memindahkan istri anda ke ruang perawatan," lanjut dokter itu. Gabriel menarik tangan Rafka lalu memeluk putranya yang masih diam mematung dengan tatapan kosong.


"Berdoalah semoga istrimu lekas sadar, yakinlah bahwa rencana Allah adalah yang terbaik." Gabriel mencoba merangkul anaknya berharap Rafka akan tabah terhadap keadaan.


"Rafka gagal, Abi. Rafka gagal menjadi suami yang baik seperti Abi, Rafka, Rafka adalah laki-laki lemah," lirih Rafka memukul dadanya dengan kuat karena merasa nyeri.


"Hentikan, Rafka! Kau bukan laki-laki lemah, kau adalah laki-laki yang kuat. Kau adalah suami yang baik bahkan mengalahkan Abi, yakinlah bahwa ini merupakan salah satu cara Allah menguji kesabaran dan keikhlasan mu."


"Rafka tidak ikhlas kalau Keyla kenapa-kenapa, Abi. Rafka tidak ikhlas," lirih Rafka. Ia bukanlah manusia yang sempurna berhati malaikat dan luput dari dosa. Ia hanyalah manusia biasa yang memiliki amarah dan juga kekurangan. Rasa tidak ikhlas terkadang muncul di hatinya jika keadaan terlalu menyiksanya.


"Percayalah pada Yang Maha Kuasa bahwa rencana-Nya lebih baik dari perkiraan kita," ucap Gabriel menatap mata anaknya yang memerah dan berair.


Selang beberapa menit, Keyla pun sudah di pindahkan ke ruangan perawatan. Sedangkan bayi Keyla masih di bersihkan dan tentunya di jaga ketat oleh orang suruhan Gabriel.


"Abi," panggil Aria yang baru saja datang bersama Razka. Mereka sangat terkejut mendengar bahwa Keyla mengalami kecelakaan dan harus melahirkan sebelum waktunya. Apalagi setelah tau bahwa Keyla koma.


"Bagaimana keadaan Keyla, Abi?" tanya Aria khawatir. Apalagi ia tak melihat keberadaan Rafka.


Di dalam ruangan.


Rafka duduk di kursi sembari memandangi wajah Keyla yang pucat.


"Tidak cukup kah kau menyiksaku dengan tindakan mu kemarin? Mengapa sekarang kau melakukan hal yang sama bahkan lebih parah," lirih Rafka menggenggam tangan Keyla. Air matanya tak dapat ia bendung lagi. Semua mengalir begitu saja dengan deras.


"Aku mencintaimu, aku bahkan belum mengatakan itu. Apa kau tidak mau bangun dan mendengarkan ungkapan cintaku?"


"Anak kita sudah lahir, sayang. Seperti keinginan mu, kau ingin laki-laki dan aku ingin perempuan. Anak kita kembar sayang, apa kau tak ingin melihat anak kita?"


"Keyla, bangunlah." Rafka menangis sejadi-jadinya sembari memeluk istri tercintanya.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu. Kau dengarkan? Aku mencintaimu, bangunlah sayang." Rafka menumpahkan segala duka yang ia rasakan dan ia pendam sendiri.


"Jangan tinggalkan aku, sayang. Jika kau pergi bawa aku bersama mu juga," tangis Rafka memeluk Keyla.


"Kau tidak boleh meninggalkan aku, kau harus sadar. Aku mencintaimu, aku mencintaimu." Rafka masih terus menangis meratapi takdir yang sekali lagi membuat ia harus merasakan sakit di dalam jiwanya.


********


Rafka sudah keluar dari ruangan Keyla karena harus melihat keadaan anak nya. Walau ia merasa sedih dan egonya mengatakan semua ini salah anaknya, tapi hati nuraninya langsung menyangkal kenyataan itu. Ini semua adalah takdir, kita tak perlu menyalahkan siapapun atas apa yang telah terjadi.


Rafka ke ruang anak tempat buah hatinya berada. Di sana sudah ada Aria, Razka serta Gabriel yang menjaga anaknya.


"Kuatkan dirimu," ucap Aria memeluk putranya yang terlihat sangat lemah.


"Iya, Umi."


Rafka pun mendekati ranjang bayi dimana kedua buah cintanya bersama Keyla berada. Ia tersenyum haru melihat anak-anaknya yang lahir dengan sehat.


Rafka pun menggendong anaknya lalu mengadzani kedua anaknya itu dengan suara yang bergetar menahan tangis.


Di saat itu, Gabriel memilih keluar dari ruang anak lalu pergi ke ruang perawatan Keyla.


Gabriel masuk ke dalam lalu menatap menantunya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan alat medis sebagai penunjang kehidupan.


"Anak ku sangat membutuhkan mu, begitu juga dengan anak mu. Kau harus cepat bangun dan kembali seperti semula, tersenyum dengan keluarga kecil kalian."


Gabriel mengelus pelan kepala Keyla. "Kau sudah aku anggap seperti putriku sendiri, bangunlah! Kami membutuhkan mu."


_


_


_


_


_


_


_


Cepat bangun yah neng Keyla😥


kalau kamu gak bangun nanti aku bakalan nikung kamu😥😥🤧


typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.


tbc.