
"Ayolah, kita berdua sudah lama tidak bersenang-senang seperti ini, Zean," ucap Sean sembari menarik paksa Zean dari belakang, teriakan pria itu semakin membuat Sean berambisi agar Zean menangis darah.
"Aaw perutku sakit, aku tidak mau!! Jangan memaksaku."
"Sekali saja, belum tentu besok-besok kita masih bisa bersama, Zean."
Sejak tadi selalu cari perkara, dendam Sean benar-benar tak terbendung sepertinya. Sebelum mereka pergi setidaknya Sean ingin memberinya pelajaran sekali saja. Alhasil terjadilah aksi tarik-tarikan dua pria yang agaknya sedang lupa usia, maklum saja mereka sempat terpisah cukup lama.
Zean serius, dia memang takut dan teriakannya membuktikan jika pria itu khawatir nyawanya melayang malam ini juga. Namun, tidak ada yang peduli dengan teriakannya dan justru menganggap hal itu lucu.
"Hudzai!! Tolong Papa."
"Go, Papa!! Fighting!! Om Teyan jagain Papa Hudzai ya!!"
Bukannya simpati, putranya justru mendukung Sean. Tingkah mereka tengah disaksikan banyak orang tentu saja. Zean yang memang selalu kalah dalam aktivitas fisik hanya bisa pasrah kala Sean membawanya persis karung beras.
"Se-sean ... aku bisa mati!! Sungguh."
Zean sudah pucat pasi, tangannya dingin dengan keringat yang mulai membasah di sekujur tubuhnya. Jika dahulu Zean sempat menangis karena Sean paksa masuk rumah hantu, kali ini mungkin jantungnya akan pindah posisi setelah replika kapal raksasa ini berayun.
"Nikmati hidup, aku benar-benar ingin melakukan ini bersamamu."
Sudah telanjur duduk, kursi yang lain juga sudah penuh dan Zean tidak memiliki tenaga untuk pergi karena Sean menahan tubuhnya agar tidak bisa bergerak.
"Biasa saja, bukankah kapal ini tidak seberapa? Anggap saja main ayunan."
Sean menikmati sekali hidup ini, sementara Zean susah payah mengatur napas. Dari kejauhan terlihat Syila dan Hudzaifah melambaikan tangan, tidakkah mereka tahu bahwa saat ini Zean tengah merasa dihadapkan dengan malaikat maut.
Belum juga bergerak, tapi ketakutan Zean sudah menguasai otaknya. Selain dia memang takut akan ketinggian, suara dari benda yang dia yakini sudah tua ini membuat Zean khawatir patah atau tubuhnya terpental ke semak-semak sana.
Dia menatap ke arah Sean yang terlihat santai bak menikmati senja di bibir pantai. Sama sekali tidak terlihat raut ketakutan di sana, yang ada hanya bahagia di atas penderitaan Zean.
"Kau siap, Zean?" tanya Sean tersenyum tipis, seolah tengah menjelaskan hukuman Zean akan dimulai sebentar lagi.
"Kau sedang balas dendam padaku, Sean?"
Tanpa jawaban, Sean hanya mengangkat bahunya seakan tidak begitu peduli dengan prasangka Zean. Hingga, tatapan yang tadi fokus ke arahnya beralih seketika kala kapal raksasa itu mulai bergerak.
"Okay ... let's go!!" Sean sudah menunggunya saat ini sejak tadi, sementara Zean benar-benar merasa malaikat maut tengah duduk di pangkuannya.
"Pak!! Pelan-pel_ weoy pelan!! Aku belum mau mati!!"
Baru juga ayunan pertama, tapi telinga Sean sudah sakit sebelah akibat teriakan orang di sampingnya. Zean beralih memeluk erat lengan Sean, sudah tentu dengan suara yang semakin meninggi dan menyatu dengan teriakan remaja putri lainnya.
"Hentikan!! Turunkan aku sekarang juga!!"
Permainan semacam ini sebenarnya tidak lagi cocok untuk pria dewasa semacam mereka. Kalau kata sahabat Sean sewaktu remaja, kora-kora adalah salah-satu wahana yang dapat membuat gadis impian tidak bisa lepas dari kita.
Fakta, memang benar-benar menempel dan tidak bisa lepas. Terbukti dengan Zean yang memeluk erat lengannya sembari terus berteriak seiring dengan gerakan ayunan raksasa ini.
"Monyed!! Sean kau benar-benar gila!!"
"Aku tidak dengar, anginnya kencang sekali, Zean."
"Besok kubakar bengkelmu!!" teriak Zean tepat di telinganya.
Tidak peduli seberapa banyak sumpah serapah yang keluar dari bibir Zean, gelak tawa Sean kian menjadi. Sejak tadi cari perkara dan Sean hanya bermaksud membuatnya diam sebentar saja.
"Hahahahahaha seru sekali!! Ini baru menyenangkan!!"
Samar terdengar, Zean menyebut asma Allah berkali-kali sebagai pengaduan terakhirnya. Mungkin sudah lelah berteriak hingga dia taubat detik itu juga, Sean hanya terkekeh kemudian. Padahal hanya beberapa menit, tapi Zean hampir pingsan dan terduduk lemas setelah Sean bimbing untuk turun dari wahana itu.
Tidak hanya uji nyali, tapi uji ketahanan jantung dan organ tubuh lainnya. Kesadaran Zean seakan terpecah, dia merasakan dunia berputar dan segerombolan kunang-kunang berkumpul di hadapannya.
"Are you okay?" Sean tertawa sumbang dan berlutut di hadapannya, wajah memerah Zean sungguh memprihatinkan.
"Setan kau, Sean!!" umpatnya dengan sisa tenaga sebelum semua menghampiri mereka.
Butuh waktu agar pria itu bisa berdiri sempurna. Zean tidak pernah mabuk berat, jika dia penasaran rasanya mungkin tidak jauh berbeda dengan saat ini.
"Papa benar-benar bahagia malam ini, kalian berdua akurnya Masya Allah." Bukan hanya di mata Zalina mereka terlihat hangat, tapi ternyata orang tuanya juga.
Zean hanya mendengkus kesal bahkan meminta bantuan Yudha menuntunnya ke mobil. Bisa dipastikan malam ini dia akan menjadi tanggung jawab Syila, tidak hanya masuk angin, melainkan juga lemah seluruh ototnya.
"Apa perlu kugendong saja, Kak?"
"Boleh ... aku sepertinya akan mati sebentar lagi, Yudha."
"Mulai, kenapa bakat Nathalia justru melekat padanya?"
"Yudh!! Berhenti," titah Zean panik seraya memukul pundaknya Yudha berkali-kali.
"Kenapa?"
"Mual, aku mau muntah cepat!!"
"Ays tahan sebentar di sini banyak orang, sedikit lagi sampai. Kalau sampai muntah di sini malu!!" teriak Yudha sembari mempercepat langkah dengan Zean yang lemas di punggungnya.
"Aku tidak kuat lagi, kalau aku mati, teruskan perusahaan ... tolo_"
"Halah lebay!! Jangan banyak drama, Zean tubuhmu berat!!"
"Heh yang sopan!! Kupotong gajimu, Yudha!!"
.
.
- To Be Continued -
Yang belum kenalan sama Zean dan Yudha ada di novel ini, silahkan disamperin jika berkenan.
Blurb :
Dijodohkan sejak bayi, Zean Andreatama terpaksa menjalani pernikahan bersama aktris seni peran yang tengah berada di puncak karirnya, Nathalia Velova. Memiliki istri yang terlalu sibuk dengan dunianya, Zean lama-lama merasa jengah.
Hingga, semua berubah usai pertemuan Zean bersama sekretaris pribadinya di sebuah club malam yang kala itu terjebak keadaan, Ayana Nasyila. Dia yang biasanya tidak suka ikut campur urusan orang lain, mendadak murka kala wanita itu hendak menjadi pelampiasan hasrat teman dekatnya
--------- ** ---------
"Gajimu kurang sampai harus jual diri?"
"Di luar jam kerja, Bapak tidak punya hak atas diri saya!!"
"Kalau begitu saya akan membuat kamu jadi hak saya seutuhnya."