
Masih di pantai.
Rafka dan Keyla sudah selesai shalat zhuhur di masjid terdekat. Sekarang sudah menunjukkan jam 2 tapi kedua insan itu tak menunjukkan tanda-tanda ingin pulang.
Kini kedua insan itu tengah berada di tempat makan yang ada di pantai. Mereka sedang menikmati makan siang, Rafka dengan ikan bakarnya sedangkan Keyla dengan banyak menu lezat. Wanita itu tak ingin diet, ia ingin makan dan makan.
"Eum, enak nya." Keyla serasa ingin melahap semuanya bahkan dengan piring-piring nya.
"Santai saja, tidak ada yang merebutnya." Rafka tampak sudah selesai makan, laki-laki itu makan dengan pelan dan rapi tidak seperti Keyla yang sudah menyerupai orang tidak makan dua tahun.
"Setelah ini kita kemana?" tanya Rafka menatap istrinya.
"Kemana saja boleh, asalkan bersama mu." Rafka terkekeh kecil, lalu mengelus kepala Keyla. Sepertinya mengelus kepala Keyla akan menjadi kebiasaannya mulai sekarang.
"Ayo kita ke Mall, aku akan membeli tiga permintaan mu," ucap Rafka membuat Keyla menghentikan makannya sejenak.
"Benarkah? Hayuk." Keyla menyudahi makannya dengan cepat agar bisa pergi ke Mall.
Beberapa menit kemudian. Rafka dan Keyla sudah meninggalkan pantai dan kini pergi menuju Mall. Keyla tampak berpikir apa yang akan ia beli, ia mendapatkan tiga kesempatan.
"Apa tiga permintaan ini termaksud ponsel?" tanya Keyla penuh harap.
Tampak Rafka menatap sejenak Keyla lalu kembali fokus pada jalan.
"Tidak," jawab Rafka membuat Keyla langsung patah semangat.
Melihat Keyla yang tampak lesu, tampak Rafka menyunggingkan senyuman nya.
"Tidak jadi ke Mall nya?" tanya Rafka.
"Jadi," jawab Keyla mengangkat kepalanya.
"Aku pikir tidak jadi karena kau tak boleh membeli ponsel," ledek Rafka.
"Hah, walau tak bisa beli ponsel kan aku bisa beli yang lain." Keyla kembali menimbang apa saja yang ingin ia beli.
"Oh."
Selang beberapa menit, akhirnya Rafka dan Keyla sudah sampai di Mall. Keyla dengan cepat menggandeng tangan suaminya lalu berjalan masuk ke dalam.
"Apa yang ingin kau beli?" tanya Rafka mengikuti kemana pun Keyla membawanya.
"Yang pertama make up, aku ingin membeli make up dan skincare." Walau hanya berada di dalam apartemen, Keyla tentunya ingin memakai makeup dan juga merawat wajahnya.
"Okey," sahut Rafka mengangguk.
"Makeup dan skincare termaksud satu permintaan kan? Bukan dua," tanya kea memastikan bahwa makeup dan skincare berada dalam satu permintaan.
"Iya." Keyla tersenyum senang, mereka pun langsung pergi ke tempat penjualan make up lalu skincare.
Setelah mendapatkan banyak makeup dan skincare, kini mereka akan pergi ke toko baju. Tepatnya baju kurang bahan.
"Untuk apa kau membeli ini?" tanya Rafka melihat baju-baju kurang bahan yang terpampang di hadapannya.
"Untuk mu lah," jawab Keyla sembarangan membuat Rafka terkejut sekaligus malu. Laki-laki itu tak bisa berhadapan dengan hal yang seperti itu, ia akan sangat pemalu.
Tampak Keyla memilih-milih pakaian tidur yang benar-benar kurang bahan. Keyla sebenarnya sedikit malu karena membeli pakaian itu di hadapan suaminya, hanya saja ini adalah kesempatannya.
Pakaian tidur nya sekarang itu terlalu sopan, bahkan terlalu tertutup.
"Sudah?" tanya Rafka sembari membayar total belanja baju kurang bahan Keyla.
"Sudah," jawab Keyla senang.
"Sini biar ku pegang," ucap Rafka membawa tas belanjaan Keyla.
"Terimakasih."
"Sekarang beli apalagi?" tanya Rafka mengikuti langkah kaki Keyla yang membawa mereka pada sebuah toko jam.
Keyla tampak memilih-milih sembari melirik Rafka sesekali.
"Saya ambil yang ini yah," ucap Keyla mengambil jam tangan berwarna hitam yang elegan lalu memberikan nya pada pegawai toko.
"Itukan jam tangan laki-laki." Rafka membayar jam tangan yang bernilai fantastis itu.
"Iya," jawab Keyla.
"Untuk apa kau membeli jam laki-laki?" tanya Rafka kembali mengikuti kemana Keyla berjalan.
"Seseorang," jawab Keyla tersenyum manis.
"Jatah sudah habis, ayo pulang." Rafka memutar tubuhnya lalu berjalan meninggalkan Keyla yang tertawa kecil.
"Iya, terimakasih suamiku." Keyla menggandeng tangan Rafka dengan mesra. Ada rasa tak ingin kehilangan dan tak ingin ada yang merebut laki-laki di dekatnya ini.
*****
Sesampainya di apartemen. Rafka meletakkan semua tas belanjaan di atas sofa lalu merebahkan tubuhnya. Sekarang sudah jam setengah 4, ia harus cepat mandi dan pergi ke masjid.
Ketika Rafka berada di kamar mandi, Keyla membuka satu persatu belanjaannya. Ia sangat suka dengan makeup yang ia beli.
Setelah shalat ashar, ia akan memakai make-up agar terlihat semakin cantik.
"Bajunya cantik-cantik," gumam Keyla tak sabar mengunakan pakaian kurang bahan itu. Namun, tiba-tiba senyumannya langsung memudar, teringat masa lalu ketika ia menjadi wanita nakal dan sering memakai pakaian ketat.
Tiba-tiba saja tatapannya menjadi sendu, apa yang sudah ia lakukan selama ini.
"Apa aku pantas," lirih Keyla membayangkan sosok Rafka yang terlalu sempurna bagi nya.
*****
20.30
Rafka sudah berada di kamar, sebelumnya ia sedikit telat pulang dari masjid karena ada beberapa bapak-bapak yang mengajaknya mengobrol membuat ia harus berhenti dan mengobrol dengan bapak-bapak itu.
Di lihatnya seisi kamar, tak ada istrinya. Di dapur dan ruang tamu juga tak ada. Namun, terdengar suara percikan air di kamar mandi. Sepertinya istrinya tengah membasuh wajahnya.
"Untuk siapa jam itu yah?" gumam Rafka masih penasaran.
"Apa untuk kekasihnya."
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Keyla keluar dengan menggunakan pakaian tidur yang seksi membuat Rafka langsung menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
Melihat itu Keyla sontak tersenyum malu. Ia berjalan mendekati suaminya.
"Kenapa pulangnya telat?" tanya Keyla. Menyadari Keyla mendekat sontak Rafka memundurkan langkahnya dengan masih menutup matanya.
"Tadi ada bapak-bapak yang mengajak mengobrol," jawab Rafka pelan.
"Oh, kenapa di tutup matanya?" tanya Keyla tersenyum geli.
"Baju mu mengapa seperti itu?" tanya Rafka masih setia menutup matanya.
"Kan aku sudah bilang baju ini untuk mu, aku memakainya untuk mu." Keyla mendekat lalu memeluk Rafka membuat laki-laki itu langsung beristighfar dan membuka matanya.
"Aku harap kau suka," ucap Keyla mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya yang memerah.
"Suka tidak?" tanya Keyla sembari tertawa kecil.
"Suka," jawab Rafka mengangguk. sontak Keyla tertawa lepas mendengar jawaban suaminya. Ia tau suaminya tengah gugup sekarang sehingga akan menjawab dengan cepat apapun yang ia tanyakan.
Keyla memeluk Rafka dengan hangat, wanita itu dapat mendengar detak jantung Rafka yang berpacu dengan cepat. Suaminya sangat gugup.
"Tenang saja, aku tidak akan memperk*sa mu," ledek Keyla membuat Rafka terkekeh kecil.
"Oh ya, aku lupa sesuatu." Keyla melepas pelukannya lalu berjalan menuju lemari tempat ia menyimpan tas belanjaan nya tadi.
Tampak Keyla mengeluarkan jam tangan yang ia beli tadi di Mall lalu kembali mendekati Rafka yang masih grogi melihat pakaian Keyla.
"Untuk suamiku," ucap Keyla memberikan jam tangan yang ia beli dengan menggunakan uang suaminya.
"Untuk ku?" tanya Rafka menunjuk dirinya.
"Iya, untuk mu. Anggap saja aku membeli ini dengan uang ku sendiri karena aku memperoleh jam ini dari tiga kesempatan yang kau berikan," jawab Keyla.
"Terimakasih," ucap Rafka menerima jam yang dibelikan istrinya.
"Harus di pakai setiap hari yah," tuntut Keyla.
"Iya." Rafka mengangguk lalu meletakkan jam tangan pemberian Keyla di atas nakas.
"Kalau begitu, apa kita akan tidur sekarang?" goda Keyla.
"Sekarang?" tanya Rafka gugup.
"Iya, kan biasanya jam segini kita sudah tidur agar nanti tengah malam bisa bangun tepat waktu," jawab Keyla tersenyum centil.
"Oh, iya iya. Ayo tidur, aku ke.kamar mandi dulu." Rafka langsung pergi ke.kamar mandi meninggalkan Keyla yang masih senyum-senyum sendiri karena melihat ekspresi suaminya.
Di dalam kamar mandi, Rafka mengelus dadanya. Ia merasa sangat gugup, ini adalah pertama kalinya ia melihat hal seperti itu, hal itu membuat ia sangat gugup.
Selang beberapa menit, Rafka keluar dari kamar mandi. Di lihatnya istrinya sudah duduk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi bagian kaki.
"Ayo tidur, suamiku." Rafka mengangguk lalu naik ke atas ranjang. Perlahan ia membaringkan tubuhnya diikuti Keyla yang juga membaringkan tubuhnya.
Lampu kamar di matikan dan hanya menyisakan lampu tidur saja, tampak Keyla bergerak mendekati suaminya lalu memeluk Rafka membuat laki-laki itu tegang.
"Aku ingin kita tidur seperti ini setiap malam, bukankah kita suami istri. Masa tidurnya harus pakai jarak sih," ucap Keyla memeluk Rafka dan membenamkan wajahnya di dada Rafka.
Rafka tampak membalas pelukan sang istri lalu mengelus pelan kepala Keyla.
"Selamat malam," ucap Rafka mengecup pucuk kepala Keyla.
"Malam, suamiku."
_
_
_
_
_
_
Eum, bang Rafka malu-malu ðŸ¤ðŸ¤
Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah
tbc.