
Hanya karena sifat tengil Sean, sang istri justru merasa diperlakukan bak anak kecil. Padahal, ya memang. Sean menganggap Zalina seputih Hudzaifah yang bisa dia kendalikan dengan cara ditakut-takuti. Terlebih lagi Zalina yang begitu mudah percaya padanya membuat Sean merasa akan selalu menjadi pemenangnya.
Tanpa dia duga, jika beberapa hari terakhir sang istri susah payah menahan amarah. Jika wanita lain mungkin sudah menuntut penjelasan dengan berurai air mata. Namun, Zalina enggan. Jika dia melakukan hal semacam itu maka Sean hanya akan meminta maaf dan tidak merasakan sakit kepala seperti dirinya.
Sementara saat ini, Sean yang melemah adalah kelemahan Zalina. Jelas pria itu tidak merasakan bentuk kemarahan Zalina andai Sean sadar dimana salahnya. Saat ini saja Zalina bahkan tidak memiliki keberanian untuk menatap tajam ke arahnya.
"Benar begitu, Mas?" tanya Zalina sekali lagi lantaran sang suami tidak segera menjawab pertanyaannya.
"Tidak, Zalina ... mas tidak menganggapmu seperti anak kecil."
"Tidak? Tapi kenapa mas bohong soal hutang mas Abrizam? Mas tahu aku sampai sakit kepala karena masalah itu, dan Ayunda marah-marah kemarin ... tega banget sih."
Kacau, Zalina benar-benar tahu soal itu. Sean menggigit bibir dan berpikir jalan keluar paling baik. Tidak mungkin lagi dia berkilah saat ini, Zalina sudah menegaskan kekesalannya perkara hutang Abrizam.
"Maaf, Sayang ... kamu boleh marah soal itu, anggap saja mas mencari kesempatan, Na. Hanya dengan cara itu mas mendapat kasih sayang lebih dari kamu," jelas Sean yang kini membuat Zalina mendongak.
"Selama ini kurang ya, Mas?"
"Cukup sebenarnya, mas tahu kamu menyayangi mas ... tapi mas hanya ingin kamu lebih romantis, salah?"
Sean sudah jujur sejujur-jujurnya, apa yang dia lakukan memang hanya sekadar untuk mencari perhatian Zalina. Padahal, sebenarnya Zalina sudah cukup manis, hanya saja memang Sean merasa kurang saja.
"Tidak salah, mungkin aku saja yang kurang peka."
Lihat betapa lemah dirinya, hanya karena kata maaf Zalina yang justru berbalik merasa bersalah. Jika sudah begini maka Sean sudah menjadi pemenangnya. Mungkin memang dia yang kurang, meski Zalina pikir sudah melayani sepenuh hati, tapi yang Sean inginkan lebih dari itu.
"Begitu saja? Marah-marahnya mana? Atau tersinggung?"
Sean membatin menatap sang istri yang saat ini kembali menunduk. Untuk sementara dia biarkan Zalina tenggelam dalam diamnya, entah sedang merenungkan kesalahan atau tengah menghitung uang bulanan yang kemarin Sean berikan padanya.
Tidak berselang lama, Zalina mengulurkan tangannya hingga Sean memutar bola matanya malas. Sudah dia katakan jangan terlalu berharap pada sang istri, biasanya dia kerap mengungkapkan hal tak terduga dan uluran tangannya itu besar kemungkinan tengah meminta tambahan jatah bulanan.
"Kemarin sudah, atau kalau tidak kamu saja yang pegang kartu mas."
"Mau salim, Mas," tutur Zalina pelan sekali, sontak pria itu melongo mendengar jawaban sang istri.
Apalagi dikala Zalina menatap lekat manik Sean sesaat. Pria itu masih tampak bingung, hingga Zalina sendiri yang meraih tangan sang suami sebelum kemudian dia kecup begitu lama.
"Maaf, Mas."
"Kenapa kamu yang minta maaf?"
"Aku sedikit keterlaluan akhir-akhir ini."
Sedikit? Sean ingin sekali menggigit bibir sang istri saat ini juga. Bisa-bisanya dia mengatakan sedikit, bagi Sean sangat-sangat keterlaluan. Meski memang Zalina tidak meminta pisah ranjang atau semacamnya, tapi dengan Zalina yang membatasi kebebasannya benar-benar menyiksa jiwa Sean sebenarnya.
"Maaf juga karena tidak peka ... aku lupa jika mas terbiasa menjalin hubungan dengan wanita romantis, bukan wanita lugu dan kaku sepertiku."
Hati Sean terhenyak, sama sekali Sean tidak membandingkannya dengan wanita lain. Sekalipun ucapan Zalina itu benar, tapi Sean menginginkan hal lebih karena memang dia menginginkan Zalina, itu saja.
"Zalina apa maksudmu?"
"Aku akan belajar, Mas ... seharusnya aku memang begitu sejak dulu agar kamu tidak sampai membohongiku demi perjanjian seperti kemarin."
Zalina tidak sedang bercanda, bukan pula bermaksud membuat Sean merasa bersalah. Tapi, penjelasan Sean barusan dapat disimpulkan jika dia yang salah.
"Mas tidak suka dengan kata-katamu, tolong tarik, Na," ujar Sean menghela napas kasar, padahal dia sendiri yang kerap membawa nama wanita dalam pembicaraan agar Zalina panas. Anehnya, ketika Zalina mengakui hal itu, Sean benar-benar tidak suka.
"Faktanya begitu, Mas ... aku tidak bercanda, setelah ini aku akan berusaha menjadi istri sempurna untukmu agar tidak merasa kekurangan. Tapi bisakah mas mengikuti permintaanku?" tanya Zalina dengan manik indah yang kini menunjukkan keseriusannya dalam bicara.
"Hm, minta apa?"
"Jangan bohong lagi ya," tutur Zalina yang membuat Sean mengulum senyum, permintaannya sederhana sekali.
"Agak sulit kalau yang ini ... tap_"
"Mas Sean? Janji tidak bohong lagi?" tanya Zalina lembut seraya mendongak dengan tangan yang kini melingkar di pinggang sang suami.
"Hem, janji," ucapnya kemudian mengecup keningnya, semudah itu mendinginkan hati Zalina.
.
.
- To Be Continued -