Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Mari bercerai.


Setelah shalat subuh, Rafka dan yang lainnya langsung kembali ke apartemen. Tampak di dapur Aria sedang memasak untuk sarapan.


"Rafka bantu, Umi?" tanya Rafka.


"Tidak perlu, sayang. Pergi ganti pakaian mu lalu ajak istrimu sarapan," tolak Aria lembut.


"Yakin Umi tidak mau Rafka bantu?" tanya Rafka.


"Iya sayang."


"Abang, bagaimana dengan pilihannya?" tanya Aria membuat Rafka terdiam sejenak.


"Hati Rafka mengisyaratkan untuk mempertahankan pernikahan ini, umi."


"Jika memang begitu, Umi akan tetap mendukung abang. Bimbinglah istri Abang, jadikan ia wanita yang beruntung karena memiliki suami seperti Abang," ucap Aria.


"Terimakasih, Umi."


Beberapa menit kemudian. Semuanya sudah berada di meja makan untuk sarapan. Tampak wajah Keyla tersirat lelah dan mengantuk.


"Kau mengantuk? Tak biasa bangun malam kah?" sindir Razka benar-benar tak suka dengan wanita yang kini menjadi kakak iparnya.


"Sopan lah dengan kakak ipar mu, Azka!" tegas Gabriel. Walaupun ia sama seperti Razka sama-sama tak menyukai Keyla, tapi sikap Razka itu sudah berlebihan.


Razka hanya terdiam lalu memilih melanjutkan sarapannya.


"Rafka, Abi dan Umi serta Razka akan pulang pagi ini. Kami tak bisa berlama-lama di sini karena masalah perusahaan masih belum selesai. Mungkin Abi dan Umi akan berkunjung dua Minggu atau kadang tak akan berkunjung kalau sibuk," jelas Gabriel.


Mendengar itu tiba-tiba senyuman Keyla terukir kecil di bibirnya.


"Tidak apa-apa, Abi. Rafka mengerti," ucap Rafka.


Semuanya pun kembali menikmati sarapan dengan hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


*****


Bandara.


Rafka memeluk sang Abi pahlawan yang selalu menasehatinya. Lalu beralih pada Razka, sang adik yang selalu menempel padanya waktu kecil kemudian Umi-nya, seseorang yang selalu menghibur hatinya.


"Hati-hati yah, jaga kesehatan. Jangan lupa kabari Rafka kalau sudah sampai di sana," ucap Rafka tersenyum manis pada tiga orang berharganya.


"Kau juga jaga kesehatan, jangan banyak pikiran. Kalau ada masalah katakan saja langsung pada Abi," sahut Gabriel menepuk pundak sang putra.


"Dan untuk mu, jadilah istri yang berbakti. Lupakan masa lalu mu dan berjalan menuju masa depan. Aku tak ingin mendengar sebuah kabar bahwa kau berbuat macam-macam pada putraku, aku memiliki orang-orang suruhan di negara ini yang akan memantau mu dari jauh," lanjut Gabriel membuat Keyla sulit menelan ludahnya.


"Baik, pak."


"Yasudah Abi masuk dulu, assalamualaikum."


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh."


Gabriel dan Razka pun berjalan menuju pesawat pribadi milik Gabriel, sedangkan Aria masih berdiri di dekat Rafka dan Keyla.


"Kalian sudah menikah, maka kalian harus saling terbuka dan menjaga aib masing-masing. Untuk mu, Rafka. Jadilah suami yang baik yang bisa membimbing istrimu ke jalan yang benar. Untukmu, Keyla. Jadilah istri yang baik, kau sudah menikah dengan putra kami walau karena kesalahpahaman. Putra ku menerima mu dengan segala masa lalu mu, jadi jangan kecewakan dia. Jagalah kehormatan suamimu, jangan sesekali berpikir untuk kembali pada masa lalu."


Deg.


Entah mengapa nasehat Aria begitu menghantam tubuh Keyla. Jangan kembali ke masa lalu? Apa Keyla bisa? Ia saja masih mencintai Alan.


"Baik, Bu." Keyla mengangguk mengerti.


"Panggil saja Umi seperti suamimu memanggilku," ucap Aria.


"Umi pergi yah, jaga diri kalian baik-baik. Assalamualaikum," sambung Aria memeluk putra nya lalu berganti dengan memeluk Keyla.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh. Hati-hati, Umi." Rafka melambaikan tangannya ke arah Aria yang perlahan menjauh darinya.


Setelah pesawat lepas landas, Rafka pun memutar tubuhnya untuk kembali ke mobil. Tak lupa pula ia menarik ujung lengan baju Keyla.


"Hei, mengapa aku ditarik-tarik?" tanya Keyla hanya mengikuti kemana Rafka melangkah.


Sesampainya di parkiran, Rafka langsung naik ke dalam mobil begitu juga dengan Keyla. Dengan kecepatan sedang Rafka melajukan mobil untuk kembali pulang. Hari ini ia akan masuk kerja.


Namun sebelum itu Rafka ingin berhenti di pusat perbelanjaan, ia ingin membeli ikan dan juga bahan masakan lainnya.


Sesampainya di area pusat perbelanjaan, Rafka membuka pintu mobil namun terhenti ketika Keyla juga ikut membuka pintu mobil.


"Tetaplah di dalam mobil," titah Rafka.


"Aku tidak mau, aku ingin ikut juga."


"Aku bilang tetaplah di mobil," ulang Rafka dengan suara yang pelan.


Melihat Keyla menutup kembali pintu mobil, Rafka pun langsung keluar dari mobil dan mengunci mobil itu agar pintunya tak dapat terbuka.


"Hei, mengapa di kunci!" teriak Keyla namun Rafka tak mendengar itu karena ia sudah masuk ke pusat perbelanjaan.


Keyla berdecak kesal, bisa-bisanya ia menurut seperti kucing. Kalau saja mobilnya tak di kunci ia akan pergi dari sini, maksudnya kabur.


Setelah hampir satu jam, akhirnya Rafka keluar dengan membawa dua kantong plastik besar. Keyla yang melihat itu hanya bisa diam, entah apa yang di beli laki-laki itu sehingga terlihat begitu banyak dan berat.


Rafka membuka bagasi mobil lalu meletakkan belanjaannya di dalam bagasi. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam mobil.


"Ambillah," ucap Rafka memberikan satu bungkus eskrim cokelat pada Keyla.


"Aku tidak mau! Aku ini bukan anak kecil," tolak Keyla jual mahal.


"Yakin tidak mau?" tawar Rafka sekali lagi.


"Mau," jawab Keyla mengangguk sembari memposisikan kedua telapak tangannya seperti sedang meminta. Rafka pun memberikan eskrim itu pada Keyla lalu wanita itu dengan senang hati menyantap eskrim pemberian suaminya.


******


Sesampainya di apartemen.


Rafka meletakkan semua belanjaannya di atas meja makan lalu menyusun satu-satu di lemari pendingin. Keyla tampak duduk di meja makan sembari memperhatikan Rafka yang sibuk menyusun bahan makanan.


"Kenapa banyak sekali ikan dan udang?" tanya Keyla melihat betapa banyak nya Rafka membeli ikan dan udang.


"Aku suka ikan dan udang," jawab Rafka.


"Kau tak membeli ayam yah?" tanya Keyla tak melihat ayam di dalam belanjaan Rafka.


"Aku tak suka ayam," jawab Rafka lagi.


"Kenapa?" tanya Keyla.


"Entahlah, aku hanya tak suka ayam."


Setelah selesai menyusun belanjaan, Rafka membuka jaketnya lalu mengeluarkan beberapa ikan dan udang serta bahan dapur lainnya. Dengan telaten ia membersihkan ikan yang ia beli hidup-hidup.


"Mari bercerai," ucap Keyla dengan santainya. Rafka tampak tak menjawab dan hanya sibuk membersihkan ikan nya.


"Aku rasa kau pantas mendapatkan wanita yang baik daripada aku. Lagi pula pernikahan ini adalah sebuah kesalahpahaman, tidak ada cinta di sana. Mari bercerai lalu kembali pada kehidupan masing-masing," jelas Keyla.


"Lalu bagaimana jika aku tidak mau?" tanya Rafka memotong bahan-bahan dapur.


"Apa yang kau harapkan dariku? Aku hanyalah wanita nakal yang suka keluar malam-malam, aku hanyalah wanita pendosa. Aku bahkan belum bisa melupakan kekasihku," jelas Keyla serius.


Rafka tampak terdiam dan kembali fokus pada masakan nya. "Kau mendengar ku kan?" tanya Keyla merasa kesal karena tak ada respon dari Rafka.


"Ck, aku berbicara dengan batu ternyata." Keyla menghela nafas panjang. Ia pikir akan mudah meminta cerai, lagi pula apa yang diharapkan dari dirinya. Ia hanyalah wanita penuh dengan dosa dan masa lalu yang kelam


Indra penciuman Keyla serasa sedang di uji dengan wangi masakan Rafka. Entah apa yang sedang di masak laki-laki itu.


"Kau memasak apa? Wangi sekali," tanya Keyla penasaran.


"Ikan asam pedas," jawab Rafka.


"Aku akan bekerja hari ini, kau tetap di rumah. Lakukan apapun yang kau mau asalkan tidak bunuh diri," ucap Rafka berjalan menuju kamar membiarkan masakannya matang dengan sempurna.


"Kalau sudah mendidih dan ikannya matang tolong matikan sebentar apinya, aku ingin mandi." Rafka masuk ke dalam kamar meninggalkan Keyla yang ternganga. Apa ia harus terkurung di apartemen ini seperti Rapunzel.


"Oh ya, jika kau bisa menggoreng udang tolong goreng kan untuk ku sedikit, jika tak bisa tak apa-apa," sambung Rafka mengeluarkan kepalanya dari balik pintu.


Keyla pun berdiri dan melihat masakan suaminya yang sudah mendidih, hanya saja ikannya belum terlalu matang. Ia mengambil udang lalu membersihkan udangnya. Setelah itu Keyla menggoreng udangnya hingga matang.


****


Beberapa Menit kemudian.


Rafka sudah rapi dengan pakaiannya, hanya belum memakai jas dokter saja. Ia tampak memasukkan nasi dalam tempat makan lalu mengambil kuah asam pedasnya dan udang goreng yang di masak Keyla.


"Apa kau lama di sana sampai-sampai bawa bekal?" tanya Keyla.


"Aku akan pulang sore nanti," jawab Rafka menutup bekalnya lalu memasukkan nya dalam tas kerja.


Dengan semangat Keyla mengikuti langkah Rafka. Ini adalah kesempatan baik untuknya kabur, jika Rafka sudah pergi ia akan segera pergi juga.


"Hati-hati yah," ucap Keyla memegang tangan Rafka membuat laki-laki itu terkejut. Apalagi melihat Keyla yang mencium tangannya.


"Sampai jumpa nanti sore," sambung Keyla.


"Iya, sampai jumpa nanti sore, jangan lupa shalat. Aku akan memeriksa CCTV nanti. Assalamualaikum," balas Rafka tersenyum pada Keyla lalu berjalan keluar dari apartemen.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh." Keyla bersorak riang. Ia akan segera bebas.


Ia pun berniat ke kamar untuk mengganti bajunya, namun baru dua langkah tiba-tiba terdengar suara pintu terkunci. Tak hanya pintu, bahkan terdengar juga suara jendela yang terkunci otomatis.


Apa ini? Semua akses keluar terkunci secara otomatis. Itu berarti ia tak bisa kabur.


"Akhhh!!!!! Sial!!" teriak Keyla frustasi. Tidak ada yang bisa ia lakukan, bahkan ia tak punya ponsel untuk menghubungi orang lain. Sepertinya akan sangat sulit untuk keluar dari sini, ia harus mengubur dalam-dalam semua niatan kaburnya.


_


_


_


_


_


_


_


Typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.