Pernikahan Tak Terduga

Pernikahan Tak Terduga
Tugas selesai, waktunya pulang.


1 bulan kemudian.


Tugas Rafka sudah selesai, sore nanti Rafka akan segera pulang ke negaranya. Ia sudah mengatakan hal itu pada Keyla jauh hari. Awalnya Keyla tampak bingung karena akan hidup di negara orang. Tapi, tak mungkin juga ia tak ikut karena ia sudah menjadi istri orang. Ia harus ikut kemanapun suaminya pergi.


Siang ini, Keyla tampak sudah beres-beres memasukkan semua pakaian ke dalam koper besar. Sedangkan Rafka pergi membeli makanan. Mereka tak memasak hari ini, hanya membeli makanan saja.


Beberapa menit kemudian. Rafka sudah pulang dengan dua kantong plastik makanan. Ia hanya membeli lauk saja, sedangkan nasi nya di masak di rumah.


"Sayang, ayo makan." Rafka menata nasi dan juga lauk serta sayur ke dalam piring.


"Iya," jawab Keyla keluar dari kamar. Ia akan membereskan barang-barang setelah makan. Pinggang nya sudah pegal karena duduk.


"Jangan dikasih sayur," cegah Keyla ketika melihat Rafka ingin meletakkan sayur di piring.


"Kau harus makan sayur," sahut Rafka tetap meletakkan sayur itu di piring. Keyla memasang wajah cemberut dan duduk di meja makan.


"Wanginya," gumam Keyla berselera melihat menu lainnya selain sayur.


"Makanlah, sayang. Setelah itu istirahat. Biar aku saja yang berkemas," ucap Rafka mengelus kepala Keyla lalu duduk di samping istrinya.


Mereka pun makan siang dengan tenang, sesekali Keyla minta di suap dan Rafka pun memenuhi permintaan Keyla.


Satu jam kemudian.


Rafka tengah mengemasi barang-barang sedangkan Keyla sudah tertidur. Awalnya Keyla ingin membantu tapi Rafka tak mengizinkan nya.


Drrrrttt


Drrrrttt


Ponsel Rafka bergetar. Rafka pun langsung menjawab panggilan dari Umi nya.


"Assalamualaikum," ucap Aria dari balik telepon.


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, Umi."


"Jadikan pulang hari ini?" tanya Aria.


"Jadi, Umi. Ini Rafka sedang mengemasi baju dan barang-barang lain," jawab Rafka lembut.


"Istrimu mana? Sudah makan? Apa dia baik-baik saja?" tanya Aria membuat Rafka tersenyum geli.


"Keyla tidur, Umi. Kami sudah makan tadi dan Keyla baik-baik saja," jawab Rafka.


"Oh, baguslah. Nanti kalau mau naik pesawat telepon umi lagi yah. Hanya memastikan saja kalau kalian pulang hari ini," pinta Aria.


"Siap, Umi."


"Oh ya, kira-kira jam berapa kalian sampai?" tanya Aria.


"Sekitar jam 8 malam, Umi."


"Oh, hati-hati yah. Umi tutup panggilan nya, assalamualaikum."


"Wa'alaikumusalam warohmatullahi wabarakatuh, Umi."


Tut


Tut


Tut.


Rafka pun kembali melanjutkan aktivitas nya. Mereka akan berangkat jam tiga sore nanti menggunakan pesawat pribadi Abi nya.


*****


15.00


Rafka dan Keyla sudah berada di bandara. Tampak Keyla duduk di kursi yang ada di bandara sambil menunggu suaminya yang pergi ke kamar mandi sebentar.


Sembari makan buah apel, Keyla bersenandung kecil. Ada rasa deg-degan karena akan tinggal di negara suaminya.


Seperti apa yah orang-orang di sana? Apa nanti Keyla akan diperlakukan baik? Keyla masih sedikit takut.


"Keyla," panggil seseorang membuat Keyla menoleh dan alhasil Keyla langsung berdiri.


Dengan cepat Keyla melangkah kakinya menjauh dari orang itu.


"Kau tak bisa lari." Orang itu memegang tangan Keyla dengan kuat membuat Keyla meringis kesakitan.


"Cih, kau lagi!" umpat Alan kesal.


"Apa yang ingin kau katakan? Kami akan segera pergi, katakan sekarang," ucap Rafka menyembunyikan Keyla di belakangnya.


"Kembalilah, Key. Ayo kita hidup bersama, bukankah sedari dulu kau ingin hidup dengan ku. Ayo kembali, aku akan menerima mu dengan lapang dada," ucap Alan mencoba meyakinkan Keyla.


"Aku tidak mau. Aku sudah menikah dan aku ingin hidup bersama suamiku," sahut Keyla tegas.


"Tapi kau tak mencintainya, kau mencintaiku!" tekan Alan.


"Aku tak mencintai mu lagi! Aku mencintai suamiku!" balas Keyla dengan nada penekanan.


Mendengar perkataan Keyla membuat kedua pria itu terkejut. Rafka juga terkejut karena ia mendengar bahwa Keyla mencintai nya. Selama pernikahan mereka, belum ada yang mau mengatakan cinta.


"Kau berbohong, Key. Kau berbohong," lirih Alan tak percaya.


"Aku tidak berbohong, aku mencintai suamiku. Carilah wanita lain yang lebih baik dariku dan segeralah bertaubat. Kau sudah terlalu jauh jatuh dalam kemaksiatan," sahut Keyla.


"Kalau begitu kembalilah padaku, bukankah kau sudah menjadi wanita yang baik. Maka bimbing aku, Key."


"Aku rasa percakapan tidak berguna ini harus di akhiri. Terimakasih atas waktu yang kau luangkan demi mengantarkan kami ke bandara, kami pergi dulu. Assalamualaikum," sela Rafka sembari tersenyum ramah lalu mengajak Keyla untuk segera masuk ke pesawat.


"Aku tak akan membiarkan kalian! Lihat saja nanti, kemana kalian berpijak maka aku akan menghampiri kalian!" teriak Alan membuat Keyla menjadi takut dan refleks memeluk tangan Rafka.


"Aku akan datang menjadi malaikat maut dan mencabut nyawa diantara kalian berdua," lanjut Alan dengan suara rendah namun masih dapat di dengar oleh Keyla maupun Rafka.


"Sayang."


"Jangan takut, selama kita dekat dengan Allah maka kita akan selalu dalam perlindungan nya," ucap Rafka menenangkan Keyla yang tampak gemetar.


Keyla dan Rafka pun masuk ke dalam pesawat. Rafka mencoba menghibur Keyla yang terlihat masih kepikiran.


"Jangan di pikirkan, sayang. Itu tak baik untuk kesehatan, dia hanya kesal saja." Rafka mengelus kepala Keyla dengan lembut.


"Tapi dia adalah laki-laki tipekal nekat, sayang. Aku takut dia akan melukai mu," ucap Keyla memeluk sang suami.


Di bandingkan menghawatirkan dirinya, Keyla lebih menghawatirkan suaminya. Rasa cinta yang ia miliki menjadikan ia tak rela melihat orang yang di cintai nya terluka. Lebih baik ia saja yang terluka dan merasakan sakit.


"Jangan memikirkan aku, Key. Pikirkan saja dirimu dan jagalah kesehatan mu," sahut Rafka membalas pelukan Keyla.


"Kau bilang kau mencintaiku, apa itu benar?" tanya Rafka.


"Iya, tentang kapan itu aku tak tau." Rafka tersenyum senang mendengar jawaban Keyla.


"Kalau kau mencintaiku maka jagalah kesehatan mu dan tetap baik-baik saja, aku tak ingin kau kenapa-kenapa. Mengerti?"


"Iya, mengerti."


"Kalau begitu tersenyumlah," pinta Rafka.


Keyla pun mendongakkan kepalanya lalu tersenyum manis menatap sang suami.


"Good girl," ucap Rafka mencubit kedua pipi Keyla


_


_


_


_


_


_


Wah, author up lagi nih😁😁😁


suka gak author up banyak-banyak 😁😁😌


Jangan lupa support nya kawan-kawan 🥰


typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah


tbc.