
Meski sudah Sean jelaskan, Zalina tetap menangis hingga matanya terlihat sembab. Satu hal yang Sean perlu ingat tentang Zalina, dia adalah seorang wanita yang pernah difitnah mati-matian.
Luka dan trauma yang membekas dalam diri Zalina membuatnya benar-benar takut merasakan hal itu untuk kedua kali, terlebih jika menyeret nama Sean sebagai sang suami. Keluarganya mungkin bisa memaklumi, terutama pihak Sean.
Namun, pihak luar yang bukan berasal dari keluarga mungkin saja berbeda. Zalina tidak ingin nama Sean dan Zalina yang baru saja membaik pasca Bramanto ditangkap kembali dinilai buruk oleh beberapa pasang mata yang lain.
Semalam suntuk dia sama sekali tidak sabar menunggu pagi, Zalina tampak gusar dan emosinya benar-benar tidak stabil. Lebih menyebalkan lagi, Zalina kembali kumat dan enggan tidur dalam pelukan Sean dengan alasan sesak.
Tidak peduli meski sudah Sean rayu, dia benar-benar enggan bahkan sengaja menempatkan guling di tengah sebagai bantalan untuk kakinya. Tidakkah Zalina berpikir betapa panasnya jiwa Sean melihat kaki yang sengaja diangkat di hadapannya itu? Sungguh Sean bingung sendiri apa maunya sang istri.
Situasi malam ini bahkan lebih buruk dari malam-malam lainnya. Sean merasa malam ini sangatlah panjang dan dia brnapas lega kala matahari mulai menampakkan keperkasaannya. Sementara Zalina yang sama-sama menanti pagi tiba jelas saja menjadikan kamar mandi sebagai tujuan utama.
Sean menunggu seraya bersedekap dada, meski dia sudah seyakin itu tetap saja masih gugup kala menunggu jawaban yang sesungguhnya. Hingga, pintu kamar mandi terbuka dan Zalina hanya tersenyum tipis ke arah sang suami.
"Gimana, Sayang? Positif?"
"Hem ... ini, Mas."
Tidak seperti semalam, Zalina tidak sesedih itu. Meski Sean sadar senyumnya belum benar-benar mengembang, tapi mata Zalina sudah menunjukkan kebahagiaannya pagi ini.
Mata Sean memanas kala melihat benda pipih yang baru saja Zalina berikan. Debaran dalam dadanya masih sama, persis sewaktu Zalina mengandung pertama kali. Pria itu merengkuh istrinya begitu erat, satu hal yang sudah dia duga dan tetap membuat Sean merasa bahwa hal ini adalah kejutan untuknya.
"Kamu hamil, alat ini tidak mungkin salah, 'kan, Sayang?"
"Hm, tidak salah ... Mas bahagia?"
Masih saja ditanya, haruskah Sean siarkan di mushola terdengar agar Zalina mengerti? Bagaimana dia sekarang sudah menjawab sebahagia apa dirinya. Tidak cukup sekali Sean memandangi testpack yang ada di tangannya, tatapan penuh arti Sean tertangkap jelas di mata Zalina.
"Tentu saja, kita akan punya anak lagi, mas bisa begadang jaga bayi."
Melihat Sean yang kini melompat layaknya kangguru seraya menggenggam benda pipih itu, air mata Zalina kembali luruh bersamaan dengan penyesalan terhadap sikapnya tadi malam.
Bisa-bisanya dia mengkhawatirkan pandangan orang lain dan lupa tentang kebahagiaan suaminya. Zalina tidak pernah melihat Sean sebahagia ini, dia saat ini bahkan tidak berbeda dengan balita seusia Hudzaifah yang diberikan izin makan coklat oleh orang tuanya.
Sean seakan lupa usia, apa dia tidak sadar jika di bawah kamar mereka adalah ruang keluarga, besar kemungkinan abinya ada di bawah. Meski bangunan itu memang kuat, bukan berarti tidak akan menimbulkan bunyi yang terdengar dari bawah.
"Mas jangan lompat-lompat!!" teriak Zalina yang sama sekali tidak Sean indahkan, dia terlalu bahagia dan menikmati dunianya saat ini.
"Mas Sean!! Astaghfirullah laki-laki ini, Mas berhen_"
"ZALINA!!"
Bibir Zalina belum kering menegurnya, tangan Zalina saja baru berhasil meraih pergelangan tangan sang suami. Berhasil memang, Sean berhenti melompat seolah tengah berada di atas trampolin. Sayangnya, dia terlambat dari baru sadar kala umi Rosita yang naik darah.
"Umi ya, Sayang?"
"Zalina?! Buka pintunya!!" teriak umi Rosita yang membuat mata pasangan suami-istri itu kini membola, keduanya sama-sama panik dan bingung menghadapi situasi semacam ini.
"Mas sih, makanya jangan lompat ... pasti umi mikir macam-macam nanti."
"Bi-biarkan saja mas yang bicara."
Meski Sean panas dingin, pria itu tetap nekat menghadapi ibu mertuanya. Jujur, Sean memang lebih takut pada umi Rosita, tentu saja alasan Sean karena pernah mendengarkan amukannya kemarin malam.
"Hehe umi, ada ap_"
"Umi yang seharusnya tanya! Ada apa? Umi pikir gajah liar masuk kamar kalian tahu tidak?"
Sean mendadak bungkam, baru kali ini dia benar-benar dibuat tdak perdaya oleh seorang wanita. Jangankan menjawab lagi, menatap wajahnya saja Sean tidak berani.
"Maaf, Umi ... ti-tidak sengaja."
"Jawab pertanyaan umi!! Ada apa, Sean? Zalina?" tanya umi Rosita berkacak pinggang dengan centong nasi yang sejak tadi ada di tangan kanannya.
Zalina sudah telanjur takut, sementara Sean masih berusaha meredakan amarah umi Rosita. Namun, dia memang tidak pandai berbicara mengambil hati orang layaknya Zean.
"Aku terlalu bahagia umi, barusan Zalina menunjukkan ini." Terpaksa, meski belum berencana memberitahu mertuanya lebih dahulu, Sean menggunakan cara itu untuk membuat umi Rosita luluh.
"Masya Allah? Zalina ini benar, Nak?"
"Benar, Umi."
Awalnya Zalina kira uminya akan marah, di luar dugaan umi Rosita juga bersikap sama seperti Sean. Ya, dia yang tadi marah karena lantai kamar Zalina seolah mau roboh justru meloncat lebih heboh dan Sean yang terbawa suasana kembali melompat hingga guncangan itu menjadi dua kali lipat.
"Astaghfirullah!! Umi kenapa semakin ramai!!" teriak kiyai Husain dengan suara menggema dari arah ruang keluarga.
.
.
- To Be Continued -
Hallo, kemarin ada beberapa yang tanya Giveaway berakhir kapan? Di sini aku jawab lagi ya ... kemungkinan besar Sean tamat bulan ini (Bisa jadi dalam waktu dekat) Tapi untuk periode Giveaway tetap di tanggal 30 April jam 23:00.
...****************...
Juminten : Lah, lu bilang di pengumuman tanggal 29 April deh
Author : Gue gatau kalau April sampai 30.
Juminten : Yah begitulah kalau sekolahnya di bawah batang ubi.