
Sore harinya.
Rafka sudah selesai bertugas, kini ia tengah berjalan menuju ruangan istirahatnya. Sesampainya di ruangan, Rafka tersenyum melihat Keyla yang tertidur menggunakan mukenah. Ia pun membuka jas dokternya lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah dari kamar mandi, Rafka memilih membangun istrinya.
"Bangunlah." Rafka mencubit lengan Keyla dengan pelan. Karena Keyla tak kunjung bangun, Rafka mengeraskan cubitannya.
"Iya iya, ada apa?" Keyla langsung duduk karena terkejut. Ia menatap Rafka yang ada di depannya lalu menghela nafas lega.
"Ku kira ada hantu tadi," gumam Keyla.
"Kau memakai mukenah ini dari selesai shalat ashar atau dhuhur?" tanya Rafka memicingkan matanya.
"Selesai ashar lah," jawab Keyla menepuk dadanya bangga.
"Baguslah. Ayo kita pulang," ucap Rafka membuat Keyla langsung melepaskan mukenah nya dan kembali memakai jilbabnya.
"Jalan-jalannya jadi kan?" tanya Keyla di sela memasang kaus kaki.
"Jadi, tapi hanya ke taman saja."
"Tidak apa-apa," sahut Keyla tersenyum senang.
Mau di manapun itu yang penting aku bisa kabur, hehehehe.
"Sudah siap," seru Keyla mengambil tas nya lalu menggandeng lengan Rafka.
"Ayo, suamiku." Tak ada salahnya bersikap manis sebelum meninggalkan suaminya.
Rafka dan Keyla pun keluar berjalan dengan santai menuju parkiran. Banyak pasang mata yang melihat mereka, hal itu membuat Keyla semakin mengeratkan gandengan nya.
Sesampainya di parkiran dua insan itu langsung masuk ke dalam mobil dan Rafka pun melajukan mobilnya menuju taman terbesar di kota ini.
"Kalau sore begini biasanya taman akan sangat ramai," gumam Keyla.
"Kau pernah ke taman itu sebelumnya?" tanya Rafka mendengar gumaman Keyla.
"Iya, bersama....
"Kekasih mu," sela Rafka masih terlihat santai.
"Iya."
"Kau tidak cemburu?" tanya Keyla menatap suaminya.
"Untuk apa?" tanya Rafka membuat Keyla cemberut
"Tidak untuk apa-apa," ketus Keyla.
Beberapa menit kemudian, mobil sudah tiba di parkiran taman. Rafka dan Keyla langsung turun dari mobil dan benar saja taman sudah sangat ramai dengan pengunjung.
"Jangan jauh-jauh, kita hanya jalan-jalan sebentar." Rafka menarik ujung lengan baju Keyla.
Keyla pun mengikuti kemana kaki Rafka melangkah, ia begitu menikmati jalan-jalan bersama laki-laki yang sekarang menjadi suaminya. Namun, bukan berarti Keyla melupakan misi nya untuk kabur. Wanita itu kini sedang menyusun strategi saja.
"Wah, jus buah. Aku mau jus," pinta Keyla manja.
"Yasudah beli sana," sahut Rafka pelan.
"Belikan lah, biar romantis. Aku akan menunggu di kursi sana," pinta Keyla sembari menunjuk kursi panjang di seberang sana. Rafka tampak mengangguk, dengan semangat Keyla berjalan menuju kursi sedangkan Rafka pergi membeli jus buah. Rafka bahkan tak bertanya Keyla mau jus apa.
Disaat Rafka sedang mengantri untuk membeli jus, Keyla menggunakan kesempatan itu untuk diam-diam kabur. Ia berjalan menjauh dari Rafka lalu bersembunyi di balik semak-semak. Ia harus memastikan Rafka pergi dari taman ini tanpanya, barulah ia akan tenang untuk kabur.
Selang beberapa menit, Rafka sudah mendapatkan jus yang di minta Keyla. Ia berjalan menuju kursi seberang yang tampak kosong. Laki-laki itu terlihat santai lalu duduk di kursi panjang yang tadinya di duduki Keyla.
Melihat itu, Keyla yang berada di kejauhan merasa aneh. Mengapa Rafka tidak mencarinya atau kaget karena ia menghilang.
Sepertinya ia harus pergi tanpa menunggu Rafka pergi dari taman ini.
Keyla keluar dari semak-semak dan berniat melarikan diri. Namun, ketika ia membalikkan badannya dua orang wanita dengan tubuh tegap dan pakaian hitam sudah ada di belakangnya.
"Si-siapa kalian?" tanya Keyla gugup melihat tatapan tajam dua wanita itu.
"Sebaiknya anda kembali pada tuan muda sebelum kami mematahkan tulang-tulang anda!" ancam mereka membuat mata Keyla melotot seketika.
"Apa maksud kalian?" tanya Keyla meneguk Saliva dengan kasar.
"Anda lihat di sana," tunjuk mereka ke arah Rafka yang tampak menikmati jus alpukat.
"Anda ingin mencoba kabur bukan? Sebaiknya kubur dalam-dalam niatan buruk anda, nona! Kembali ke sana dalam hitungan 10 detik atau kami akan mematahkan tulang anda!"
"Satu...
"Hei, kalian tak bisa mematahkan tulang orang lain dengan sesuka hati kalian!" tegas Keyla dengan tatapan menantang.
"Tiga..
Keyla tampak panik namun ia berusaha untuk tenang, sebaiknya ia kabur dari dua wanita ini.
"Enam..
Kreekk
Kreekk
Tampak kedua wanita itu merenggangkan tulang-tulang mereka. Hal itu membuat Keyla merinding, sisa 4 detik lagi. Keyla memilih lari menuju Rafka karena ketika ia melihat sekeliling, ada beberapa wanita yang menggunakan pakaian sama dengan kedua wanita itu. Itu artinya ia tak bisa kabur, banyak mata-mata di sini.
"Suamiku." Keyla langsung duduk dan memeluk lengan Rafka sembari masih memperhatikan dua wanita yang berjalan mendekat ke arah nya.
"Ayo kita pulang," ajak Keyla namun tak di respon oleh Rafka yang masih asyik meminum jus nya.
"Hei, ayo pulang." Keyla semakin takut melihat kedua wanita itu semakin dekat. Ia semakin khawatir karena suaminya tidak mau mendengarkan nya.
"Pergilah, kau ingin kabur bukan? Pergilah, aku tidak akan melarang mu." Rafka kembali menikmati jus alpukat nya setelah mengatakan itu.
"Pergi kemana? Ke kuburan maksudnya?" kesal Keyla semakin erat memeluk lengan Rafka.
"Boleh juga," sahut Rafka.
"Jangan seperti itu, ayo kita pulang. Aku minta maaf, aku janji tidak akan mengulanginya lagi," lirih Keyla ingin menangis karena Rafka tak peduli sedangkan kedua wanita itu sudah sangat dekat.
"Tidak jadi kaburnya?" tanya Rafka dengan masih menatap ke depan.
"Tidak, aku tidak jadi kabur." Memangnya Keyla punya keberanian setelah melihat orang-orang yang memata-matai nya. Itu pasti suruhan bapak mertuanya.
"Oh." Rafka hanya menjawab oh tanpa niat berdiri membuat Keyla semakin kalang kabut. Bagaimana jika ia di seret dari sini lalu dipatahkan tulangnya.
"Suamiku," rengek Keyla dengan mata yang sudah berair. Ini lebih pada rasa kecewa karena tak dianggap.
Rafka tampak berdiri lalu berjalan, begitu pun dengan Keyla yang mengikuti kemana Rafka berjalan. Tampak kedua wanita itu juga sudah tak mengikuti Keyla membuat wanita itu menghela nafas lega.
"Terimakasih," ucap Keyla tersenyum senang hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
"Hm."
"Jangan marah, yah."
"Hm."
"Aaa, jangan ngambek." Rafka pun memilih masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Keyla.
"Kau mau jus tadi kan? Ini jus nya, habiskan." Rafka memberikan jus yang sudah ia minum pada Keyla.
"Tapi kan ini sudah di minum."
"Siapa suruh kabur," sahut Rafka. Keyla pun mau tak mau menerima jus itu lalu meneguk dengan pelan jus alpukat sisa suaminya. Hari ini menjadi pengalaman menegangkan untuk Keyla. Ia sampai takut untuk kabur lagi.
"Ada niat kabur lagi?" ledek Rafka sembari fokus mengemudi meninggalkan taman.
"Tidak." Keyla menggelengkan kepala sembari masih meminum jusnya. Tidak ada niatan kabur lagi dalam benaknya, ia malah takut keluar rumah setelah melihat kedua wanita itu tadi. Tangan berotot, mata tajam dan wajah sangar, bagaimana bisa wanita yang seharusnya lemah lembut menjadi mengerikan seperti itu.
Membayangkan itu membuat Keyla merinding.
_
_
_
_
_
_
Makanya jangan kabur lagi Key, kan udah dapat bang Rafka yang tampan, baik, sopan, ramah, ganteng pula tuh dan yang terpenting kaya raya😂 paket komplit dari author.
Hari ini author akan melaksanakan UAS. Doakan yah kawan-kawan semoga lancar 🤗
Dan mungkin author akan up satu eps satu hari karena author sedang UAS.
Semoga masih suka yah sama ceritanya.
yang gak suka silahkan tinggalkan tanpa jejak, jangan koar-koar situ🥴🥴
typo bertebaran dimana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.