
Sepanjang malam itu Siska terus memikirkan apa yang dikatakan oleh Imeh mengenai kemungkinan dirinya dijebak oleh Amora.
" Apakah mungkin?" tanya Siska kepada dirinya sendiri. Karena Siska merasa sangat ganjil sekali dengan kasus yang terjadi kepada dirinya yang berhubungan dengan Amora sebagai saksi kunci dari kasus itu.
" Besok aku akan mengatakan semua kepada pengacaraku. Mengenai dugaan ini. Semoga saja akan ada titik terang dan aku bisa segera dibebaskan dari sini. Aku benar-benar sudah merindukan Aaron ya Allah!" tidak ada hentinya Siska terus bermonolog. Setelah pembicaraannya dengan Imeh tadi sore. Membuat matanya mulai terbuka tentang fakta yang lain yang selama ini tidak pernah dia pikirkan barang satu detik pun.
Hati Siska memang terlalu baik. Sehingga dia tidak pernah berpikir buruk tentang orang lain.
" Ya Allah semoga kau menunjukkan jalan yang terbaik untuk menunjukkan kebenaran dari kasus ini. Semoga suamiku bisa melihat siapa yang salah dan siapa yang benar, tanpa harus ditutupi lagi!" doa Siska pada seperempat malam itu.
Siska sangat berharap ada sebuah keajaiban yang bisa membuatnya keluar dari masalah saat ini yang benar-benar telah membuat hatinya sangat sedih dan juga bingung.
Sudah hampir 2 bulan Siska di penjara dan sampai saat ini penyelidik belum menemukan bukti-bukti baru yang menunjukkan bahwa Siska tidak bersalah sebagai tersangka dari kasus pembunuhan itu.
Siska sudah hampir putus asa dan sudah hampir menyerah. Bahwa dirinya bisa bebas dari penjara. Karena memang semua bukti-bukti hanya mengarah kepadanya dan tidak ada yang menjadi alibi dirinya untuk bisa lolos dari kasus itu.
Semua terasa begitu buntu dan seperti tidak ada harapan sama sekali. Jalan seakan begitu gelap untuk kehidupan Siska saat ini. Apalagi selama 2 bulan ini Farel hanya pernah menemuinya sebanyak tiga kali dan itu pun hanya sebentar saja. Hal itu membuat Siska menjadi benar-benar merasa kehilangan suaminya. Dia takut kalau Farel sampai berpikir bahwa dialah yang benar-benar telah membunuh ibunya.
Air mata Siska terus mengalir di kelopak mata Siska. Dan Dia benar-benar telah kehilangan pegangan untuk saat ini. Rasa kepercayaan dirinya benar-benar telah merosot tajam dan dia tidak percaya bahwa dirinya bisa keluar dari penjara dalam waktu dekat ini.
Dalam kehampaan dan kesepian hati yang begitu menyesakkan jiwa dan raganya. Siska berusaha untuk memejamkan matanya dan berusaha untuk berdamai dengan situasi yang sedang terjadi di dalam hidupnya saat ini. Yah Siska berjuang dan berusaha untuk ikhlas. Walaupun hatinya merintih dan menjerit Dia sangat ketakutan kehilangan cinta seorang Farel. Laki-laki yang sangat dia cintai dengan sepenuh jiwa dan raga.
Keesokan paginya. Siska mendapatkan kunjungan dari pengacara beserta Adrian dan juga Steven. Akan tetapi Siska merasa kecewa karena dia tidak melihat Farel bersama dengan mereka.
" Farel saat ini sedang mengurus sesuatu yang sangat penting. Jadi dia tidak bisa ikut dengan kami kemari. Dia hanya titip salam kerinduan untukmu dan percayalah bahwa dia sedang berjuang untuk membebaskanmu agar bisa keluar dari penjara secepatnya." ucap Adrian lembut.
Adrian dan Steven terus berusaha untuk menghibur keponakannya yang sepertinya merasa kecewa karena tidak melihat Farel ikut bersama dengan mereka berkunjung padanya hari ini.
Karena sejujurnya Siska benar-benar sangat merindukan suaminya dan ingin sekali memeluknya. Siska ingin mengatakan bahwa bukan dialah pembunuh dari ibunya.
" Nyonya Siska. Tenanglah! Kami sudah menemukan bukti baru bahwa anda bukan pembunuh dari Nyonya Meiliana. Saat ini Tuan Farel sedang membuktikan keaslian bukti-bukti yang telah dia temukan dan bisa dipastikan sebentar lagi akan segera bebas. Sabarlah sebentar lagi!" ucap Sang pengacara mengulas senyum kepada Siska yang hanya bisa tersenyum kecut.
' Semoga benar Ya Allah. Semua yang dikatakan oleh mereka. Bahwa suamiku di luar sana sedang berjuang dan berusaha untuk membebaskanku!' rintih hati Siska yang sedang menahan kerinduan yang luar biasa terhadap sang suami.
Sementara itu Farel yang saat ini tengah berada tidak jauh dari tempat berkunjung keluarga para tahanan. Farel terlihat sedang meneteskan air mata. Ketika dia melihat sang istri yang sekarang tambah kurus dan tampak tidak terurus lagi.
Hati Farel benar-benar teriris sembilu dan benar-benar pilu. Farel harus merasakan kehilangan ibunya. Kehilangan putranya yang sampai sekarang belum ada kabar beritanya.
Farel sebenarnya tadi datang bersama dengan Adrian, Steven dan pengacaranya Siska. Akan tetapi dia tidak berani untuk masuk ke dalam sana untuk bertemu Siska. Karena dia benar-benar tidak sanggup untuk melihat istrinya yang sekarang terlihat begitu menyedihkan. Dia takut kalau dia tidak kuat mental dan iman saat melihat penderitaan istrinya gara-gara Amora.
Amora sekarang sudah di dalam penjara juga. Hanya saja ditempatkan di sektor yang lain. Karena Farel tidak mau kalau sampai Amora nantinya akan memberikan kesulitan kepada Siska. Oleh karena itu Farel meminta kepada pihak kepolisian agar Amora ditempatkan di penjara yang lain dan tidak bersama Siska. Tentu saja Farel harus membayar sangat mahal untuk bisa mewujudkan itu.
Kalau Siska mengetahui seberapa banyak perjuangan Farel ketika dirinya berada di dalam penjara. Pasti Siska akan semakin mencintai Farel dan semakin menjadikannya sebagai laki-laki tercintanya yang ada di dalam hidupnya.
Setelah melihat kunjungan Adrian dan Steven sudah selesai. Farel kemudian memutuskan untuk meninggalkan kantor polisi dan memilih untuk mencari Aaron melalui detektif yang sudah dia sebar di sepanjang kota.
Hingga saat ini Farel masih belum mengerti. Siapa sebenarnya yang sedang bermain-main dengannya.
Tiba-tiba saja Farel mendapatkan telepon dari kantor polisi di mana Amora saat ini sedang dipenjara.
" Tuan Farel. Nyonya Amora meminta anda untuk datang ke kantor polisi sekarang juga. Katanya dia memiliki berita yang sangat penting tentang putra anda!" ucap petugas polisi yang berada di seberang sana.
Farel benar-benar terperanjat ketika dia mendengarkan berita itu. Dia pun kemudian langsung menyanggupi dan segera meluncur menuju penjara di mana Amora saat ini mendekam di sana.
" Di mana wanita itu?" tanya Farel kepada kepala penjara ketika dia sampai di sana. Karena Farel benar-benar tidak sabar lagi ingin mendengarkan kabar tentang putranya.
" Silakan tunggu dulu. Kami akan memanggil Nyonya Amora!" ucap petugas polisi.
Farel yang benar-benar sudah tidak sabar sejak tadi dia terus bolak-balik dan mondar-mandir di ruang tunggu tidak sabar ingin bertemu dengan Amora.
" Katakan! Apa yang kau ketahui tentang Putraku?" tanya Farel seperti orang yang hampir gila. Karena Farel sudah prustasi dan hampir putus asa untuk bisa menemukan Aaron Handoyo, putranya yang telah menghilang sejak Siska masuk penjara.
" Bantu aku untuk keluar dari penjara. Maka aku akan segera memberitahumu di mana keberadaan Aaron!" ucap Amora dengan senyum liciknya membuat Farel benar-benar gemas dibuatnya.
" Kau memang b******* brengsek! Kau meminta sesuatu yang tidak mungkin bisa aku lakukan!" ucap Farel sambil menarik pakaian Siska dan menatap tajam kepada perempuan dia mengaku mencintai dirinya.
" Ayolah Farel! Apakah kau tidak penasaran penculik anakmu?" tanya Amora seakan sedang bermain teka-teki dengan Farel.
" Katakan padaku. Siapa yang sudah menculik putraku! Maka aku akan meminta kepada tim penyelidik. Untuk meringankan hukumanmu!" Ucap Farel memberikan janji kepada Amora tetapi Amora menolak karena dia ingin keluar dari penjara dan namanya dibersihkan dari segala tuduhan.
" Kamu gila Amora! Bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal seperti itu, huh? Sementara kau telah membunuh ibuku dengan begitu kejam!" ucap Farel dengan mata melotot dan penuh kebencian terhadap wanita yang dulu pernah menjadi orang paling penting dalam hidupnya dan dia bahkan pernah hampir melamarnya.