
Akan tetapi Amora mengerutkan keningnya, karena dia melihat Farel dan Siska yang sudah duduk di pelaminan dengan damai.
" Eh, ke mana para anak buahku yang telah Aku perintahkan untuk menghancurkan pesta ini?" monolog Amora sambil matanya celingak celinguk ke semua penjuru gedung.
Tiba-tiba saja tangan Amora dicekal oleh seseorang. Amora sangat terkejut sekali ketika dia melihat Adrian dan Steven yang kini sedang menatap tajam ke arahnya.
" Cepat ikut denganku!" ucap Steven dengan tatapan horornya yang membuat Amora bergidik ngeri.
Karena tidak mau menarik perhatian orang lain. Amora kemudian mengikuti Adrian dan Steven yang dia tidak tahu hendak membawanya pergi ke mana.
" Cepat katakan apa keinginan kalian!" ucap Amora sambil menghentakkan tangan Steven yang sekarang berada di lengannya.
Steven melipat kedua tangannya di depan dada. Begitu pula Adrian melakukan hal yang sama dengan adiknya.
Mata kedua laki-laki tampan itu menatap Amora dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sehingga membuat Amora menjadi gelisah dan mulai ketakutan.
" Kenapa kalian menatapku seperti itu huh? Cepat katakan apa kebutuhan kalian?" tanya Amora mulai hilang kesabaran.
Steven mendekati Amora. Kemudian dia membingkai wajah Amora yang terlihat sangat ketakutan dengan jemarinya.
" Dengar ya, Nona Amora yang terhormat! Jangan coba-coba kau berniat untuk menghancurkan acara pernikahan keponakan kami yang tercinta. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan acara pernikahan ini, akan aku pastikan hidupmu dan juga karirmu berakhir hanya sampai di sini!" ucap Steven sambil mengarahkan tangannya ke arah lehernya seakan-akan hendak menyembelih leher Amora seketika itu.
Tubuh Amora mulai gemetar melihat aura permusuhan yang ditampilkan oleh Adrian dan Steven ketika menatap matanya.
" Apa maksud perkataanmu? Tolong berkata yang berkualitas sedikit! Memangnya apa kepentinganku untuk menghancurkan acara konyol seperti ini?" tanya Amora dengan suara gemetar dan terlihat sangat gugup.
Steven dan Adrian tertawa terbahak-bahak mendengarkan penyanggahan Siska yang tidak mengakui bahwa dia telah merencanakan kejahatan untuk pernikahan keponakannya bersama Farel.
" Dengarkan aku ya nona Amora yang terhormat! Jangan kau pikir kami berdua ini adalah orang-orang tolol yang tidak tahu niat jahat apa yang ada di kepalamu yang picik itu. Ketika tadi kau melangkahkan kakimu ke gedung ini!" ucap Steven dengan seringai licik di wajah tampannya.
Amora kesulitan menelan syarifahnya sendiri mendengarkan penuturan dari Steven.
Sementara itu Adrian yang sejak tadi terus memperhatikan kehadiran orang lain dari kejauhan yang terus memperhatikan mereka bertiga.
" Steve! Ayo kita tinggalkan perempuan jahat ini. Tampaknya di kejauhan sana, aku melihat ada seseorang yang sedang memperhatikan kita berdua. Akan sangat berbahaya kalau sampai apa yang kita lakukan ini mencuat ke media!" ucap Adrian sambil menarik tangan Steven untuk segera menjauhi Amora yang mulai ketakutan.
Steven dan Adrian lalu menjauhi Amora. Amora langsung mengelus dadanya, dia merasa lega, terbebas dari intimidasi yang dilakukan oleh kedua pamannya Siska terhadap dirinya tadi.
" Ya ampun! Siapakah orang yang dimaksud oleh kedua pamannya Siska itu? Aku harus berterima kasih ke padanya karena dia sudah menolongku secara tidak langsung!" ucap Amora sambil melihat ke sekelilingnya namun dia tidak melihat ada siapapun.
Amora kemudian memutuskan untuk meninggalkan gedung xx karena dia merasa takut dengan ancaman Steven dan Adrian.
" Biarlah aku pergi dari gedung ini saja. Nanti anak buahku yang akan melaporkan hasil pekerjaan mereka kepadaku. Aku rasa sangat berbahaya kalau aku berada di sini!" ucapnya.
Sementara itu dokter Andrew yang tadi mengawasi Amora, Steven dan Adrian dari kejauhan. Dia langsung meninggalkan tempat itu dan kembali masuk ke dalam gedung.
" Aku harus menemui papahku, biarkan papah saja yang bertemu dengan Siska. Mungkin Siska masih mengingat papaku!" ucap dokter Endro yang masih penasaran Apakah Siska akan mengingatnya ketika Siska bertemu dengan ayahnya nanti.
" Papa sekarang di mana? Karena acara pernikahan akan segera dimulai!" ucap dokter Andrew sambil matanya terus menatap ke arah Siska dan Farel yang sedang bersalaman dengan para tamu undangan mereka.
Andrew bisa melihat sinar kebahagiaan di mata Siska dan Farel. Karena pernikahan mereka berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan apapun. Seperti ketakutan mereka tadi malam yang khawatir atas gangguan Amora yang pasti tidak akan tinggal diam dengan pernikahan mereka berdua.
Tentu saja semua yang dilakukan oleh Steven and Adrian tidak diberitahukan kepada Siska maupun Farel. Karena mereka berdua tidak mau mengganggu kebahagiaan pengantin dengan laporan yang tidak menyenangkan tentang 10 orang yang tadi sudah mereka tangkap. Ketika mereka berusaha untuk menghancurkan pesta Siska dan Farel.
Untung saja Steven datang tepat waktu. Ketika salah satu anak buah yang dikirimkan oleh Amora hendak memotong kabel yang menghubungkan aliran listrik ke gedung yang saat ini sedang digunakan oleh Farel dan Siska.
Selain itu anak buah yang ditugaskan oleh Steven dan Adrian pun telah menangkap salah seorang pelayan yang bekerja di acara pernikahan itu, hendak memasukkan racun ke dalam makanan para tamu.
Satu demi satu anak buah yang dikirimkan oleh Amora telah ditangkap oleh para petugas security maupun anak buah Adrian dan Steven yang diwaspadakan di setiap titik rawan yang ada di gedung itu.
Jadi tidak ada kesempatan bagi anak buah Amora untuk melancarkan usaha mereka dalam menghancurkan pernikahan Farel dan Siska.
Tidak sia-sia kombinasi antara Adrian dan Farel bekerja sama. Karena mereka telah berhasil melumpuhkan konspirasi yang sudah diatur demikian apik oleh Amora.
Sekarang 10 anak buah Amora sudah berada di dalam penjara dan sedang diinterogasi oleh petugas kepolisian.
" Kita tinggal menunggu hasil pemeriksaan dari kantor polisi. Kalau benar Amora yang telah menjadi dalang dari para penjahat itu. Aku pasti tidak akan melepaskan perempuan itu begitu saja!" ucap Steven dengan mata berapi-api.
Adrian menepuk bahu adiknya yang telah bekerja sangat keras untuk keberhasilan pernikahan keponakan mereka yang terkasih.
" Kau sangat hebat Steven! Aku benar-benar sangat bangga kepadamu sebagai kakakmu!" ucap Adrian sambil mengelus bahu adiknya yang tersenyum dengan begitu bangga terhadap sang kakak.
Kakak Adik tersebut kemudian masuk kembali ke dalam gedung dan membantu ayahnya dalam menyambut para tamu bersama dengan keluarga Handoyo yang tampak begitu berbahagia pernikahan antara Farel dan Siska telah berlangsung dengan sangat lancar tanpa ada gangguan dari pihak manapun yang merisaukan hati mereka.
Tentu saja acara itu berlangsung dengan sangat lancar. Karena pengganggunya sudah ditangkal duluan oleh Steven dan Adrian di balik layar. Tanpa mereka berdua membuat keributan maupun kehebohan yang akan mengganggu kekhidmatan acara pernikahan Farel dan Siska yang merupakan kebahagiaan terbesar dari dua keluarga.
Semua orang dalam keluarga mereka mengetahui bahwa Farel dan Siska sudah dijodohkan sejak mereka masih kecil oleh kedua kakek mereka.
Walaupun mereka tidak mengetahui alasan kedua kakek mereka saat dulu memutuskan untuk menjodohkan mereka berdua. Tetapi kedua orang tua Farel hanya melaksanakan amanah yang sudah diberikan oleh ayahnya kepada mereka untuk menikahkan Farel dan Siska.
Satu hal yang mereka syukuri. Ternyata Farel dan Siska saling mencintai. Sehingga mereka tidak menemui hambatan yang berarti untuk melaksanakan perjodohan itu.
" Selamat atas pernikahan kalian berdua. Om berharap pernikahan kalian selalu bahagia dan langgeng!" ucap Adrian ketika dia memberikan ucapan selamat kepada keponakannya yang telah melangkahhinya dengan menikah duluan. Siska tersenyum melihat kedua paman tampannya.