Gadis Urakan Yang Mempesona

Gadis Urakan Yang Mempesona
202. Rencana Jalan-jalan


Keesokan paginya Adrian sengaja bangun pagi-pagi sekali dan berolahraga di rumahnya seperti biasa. Setelah di rasa cukup, Adrian kemudian sarapan dan bersiap untuk menjemput keluarga Andini dengan mobilnya sendiri.


Silvia yang melihat putranya sudah begitu tampan terlihat mengerutkan keningnya.


" Kamu mau pergi ke mana Adrian? Pernikahanmu tinggal dua hari lagi. Kamu harus sudah dipengit dan tidak boleh pergi ke mana-mana lagi." ucap Silvia mencoba untuk mengingatkan Adrian.


Adrian terkejut ketika melihat ibunya sudah berdiri di hadapannya dengan kesal.


" Aku cuma mau pergi sebentar saja Mah. Aku bosan sudah tiga hari aku dikurung di rumah ini tanpa kegiatan apapun." ucap Adrian sambil meringis kepada Silvia.


" Kau ini lucu sekali! Emangnya siapa yang mengurungmu di rumah ini? Bukankah kemarin kamu baru saja keluar untuk membantu persiapan pernikahanmu bersama Steven dan juga Farel? Apa kau sudah amnesia Adrian?" tanya Silvia sambil terus menggelengkan kepalanya.


Adrian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar apa yang dikatakan oleh Silvia.


" Tapi Mah. Aku harus pergi hari ini, sebentar saja Mah! Aku janji. Aku gak akan lama!" Steven pun yang baru saja keluar dari kamarnya terlihat bingung melihat Adrian yang begitu keukeuh ingin pergi.


" Untuk hari ini saja. Tolong turuti Mama kita. Karena semua itu adalah untuk kebaikan kita. Sudah diatur sejak dulu kalau pengantin itu memang tidak boleh keluar menjelang hari pernikahannya. Tolonglah Kak." Steven ikut membujuk Adrian untuk mengikuti apa yang dikatakan ibunya.


Adrian tampak begitu lemas karena gagal mendapatkan izin dari ibu dan juga adiknya untuk pergi bersama dengan Andini dan kedua adiknya.


Dengan kesal Adrian pun kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.


" Steven apa-apaan sih ikut-ikutin belain mama! Nyebelin banget!" Adrian pun kemudian mencari ponselnya dan ternyata ponselnya lowbat karena semaleman digunakan untuk menelpon Andini tanpa di carger sama sekali.


Adrian pun kemudian mencharge ponselnya sambil membaringkan tubuhnya di ranjang.


1 jam benar-benar sangat lama bagi Adrian yang saat ini sedang menunggu agar ponselnya bisa dihidupkan lagi.


Setelah ponselnya bisa dihidupkan kembali Adrian pun kemudian menghubungi Andini.


" Ya?" tanya Andini di sebrang sana.


Adrian melihat kesibukan di dalam rumahnya yang saat ini sedang mempersiapkan banyak sekali seserahan yang akan diberikan kepada calon pengantinnya.


Perasaan Adrian berkecamuk dan penuh dengan rasa bahagia saat melihat semua itu. Tergambar jelas bahwa pernikahannya adalah sebuah kenyataan bukanlah sebuah mimpi.


Tanpa terasa terbit senyum di bibir Adrian saat membayangkan dirinya yang akan menikahi Andini wanita yang dia cintai.


" Adrian!! Apa kau masih di sana? Kenapa diam saja?" tanya Andini lagi.


Mendengarkan suara Andini di seberang sana membuat Adrian akhirnya tersadar dari lamunannya yang sedang menghayalkan dirinya bersanding di samping Andini.


" Oh iya, maaf maafkan aku. Andini aku sepertinya tidak bisa pergi berjalan-jalan denganmu dan juga adik kamu. Ibuku dan juga Steven melarangku untuk pergi keluar. Katanya aku harus dipingit sebelum hari pernikahan kita." Adrian terdengar begitu menyesal dengan yang dia katakan.


Dari seberang sana terlihat Andini yang terkekeh mendengar ucapan Adrian.


" Iya tidak apa-apa. Kami bertiga akan pergi dengan menggunakan taksi saja. Kau tidak usah khawatir. Kami cuma jalan-jalan di sekitar sini aja kok. Tidak jauh-jauh amat. Hanya makan dan berbelanja kebutuhan adik-adikku yang sebentar lagi mau masuk ke SMP dan SMA." ucap Andini memberitahukan kepada Adrian apa yang akan dia lakukan hari ini bersama kedua adiknya.


" Ya sudah sayang. Kalau begitu Kau Pergilah duluan. Nanti kalau aku bisa keluar dari rumah ini, aku akan menyusul kalian. Nanti aku akan menghubungimu lagi!" ucap Adrian pada akhirnya.


" Sudahlah Adrian. Kau Ikutilah kata-kata ibumu. Jangan sampai nanti ibumu marah lagi kepadamu dan tidak mau mengizinkan pernikahan kita. Itu akan jauh lebih berbahaya lagi. Aku tidak mau kalau sampai kamu dan ibumu berselisih paham lagi. Kau harus ingat kita sudah susah payah untuk mendapatkan restu dari beliau." Andini berusaha untuk menasehati kekasihnya agar tidak menentang keinginan ibu kandungnya.


Seketika tubuh Adrian lemas saat mendengar ucapan Andini yang ada kebenarannya.


" Baiklah, baiklah, baiklah!" Adrian akhirnya mengalah dengan semua orang yang hari ini melarang dia untuk pergi keluar dari rumah.


" Apa kau tahu aku rasanya seperti seorang Tuan Putri yang sedang dipingit dan tidak boleh kemana-mana. Padahal di sini kan, kamu yang mempelai wanita tapi kau bebas pergi ke mana saja." Adrian terlihat kecewa.


Dengar perkataan Adrian seketika hati Andini mencelos karena dia mengingat bahwa dirinya adalah anak yatim piatu yang tidak ada siapapun yang memperhatikannya.


" Seharusnya kamu bersyukur Adrian. Karena ada seorang ibu yang mengingatkanmu untuk Jangan melakukan suatu kesalahan. Aku mohon padamu bersyukurlah dengan apa yang kau miliki saat ini. Aku bebas melakukan apa yang aku mau, karena tidak ada siapapun yang melarangku untuk melakukan ini dan itu. Semuanya ada di dalam kendaliku karena aku tidak memiliki orang tua yang akan melakukan semua itu." ucap Andini dengan perasaan sedih dan juga haru.


Kedua adik Andini yang saat ini sedang mendengarkan sering bicaraan Andini dan Adrian saling menatap satu sama lain.


" Apakah itu artinya kalau seorang pengantin itu tidak boleh keluar rumah, kalau menjelang hari pernikahan?" tanya Anto sambil menatap kepada Andi.


" Aku pernah sih mendengar istilah kalau seorang pengantin itu harus dipingit selama seminggu sebelum hari pernikahan di dalam rumah. Supaya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan." ucap Andi mengatakan kepada Anto apa yang pernah dia dengar.


" Kalau calon pengantin itu memang tidak boleh keluar-keluar rumah satu minggu sebelum hari H. Kalau kata orang zaman dulu itu namanya pamali. Ya sebenarnya sih untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di tengah jalan kepada calon pengantin." tiba-tiba saja Mbok Atun yang menjadi pembantu di apartemen Andini menimpali ucapan kedua pemuda tanggung itu.


Andi dan Anto pun kemudian saling menatap satu sama lain.


" Ya sudah Kak kita batalkan saja acara jalan-jalan kita. Aku juga takut kalau nanti terjadi apa-apa dengan kita. Apalagi pernikahan Kak Andini kan tinggal 2 hari lagi. Aku juga takut kena tula kalau berani melanggar adat istiadat yang ada. Nanti kita bisa jalan-jalan dan juga berbelanja semua kebutuhan sekolah kita, setelah pernikahan Kak Andini dan Mas Adrian! Bagaimana Anto?" tanya Andi kepada adiknya yang terlihat kecewa.


Mbok Atun terlihat mengelus kepala keduanya dengan penuh kasih sayang.


" Kita bisa berbelanja kapan saja. Kalian juga kan mulai sekolahnya masih lama. Nanti mbok Atun bisa menemani kalian untuk berbelanja kalau misalkan Non Andini tidak bisa mengantar kalian berbelanja setelah pernikahannya bersama Tuan Adrian. tapi Mbok yakin kok pasti Non Andini dan Tuan Adrian tidak akan melupakan kebutuhan kalian untuk bersekolah." ucap Mbok Atun yang merupakan pegawai yang sengaja digaji oleh Adrian untuk menjaga kedua adik Andini yang sehari-hari selalu ditinggalkan oleh Andini untuk bekerja kepadanya dan perusahaan Prayoga Group.


Kedua pemuda itu pun akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh Mbok Atun.


Mereka kemudian mengetuk pintu kamar Andini dan mengutarakan keinginan mereka untuk membatalkan acara mereka hari.


" Kak, Aku sudah mendengar semua pembicaraan kakak dengan Mas Adrian. Mungkin kita perginya setelah acara pernikahan aja Kak. Kata Mbok Atun pamali, calon pengantin keluar rumah sebelum hari pernikahannya. Kak, kami takut terjadi apa-apa dengan kakak." Andi menundukkan kepalanya saat berbicara dengan Andini.


Andini terharu melihat adiknya yang begitu peduli dengan dirinya.


" Ayolah kedua adikku. Kalian percaya dengan hal-hal tahayul seperti itu?" tanya Andini sambil tersenyum kepada Andi dan Anto yang kini saling menatap satu sama lain.


" Percaya tidak percaya yang jelas kita harus mentaati adat istiadat yang ada. Sudahlah Kak tidak ada salahnya kalau kita mengikuti. Toh semua itu juga adalah demi kebaikan kakak di masa depan. Ya udah Kak, kamike kamar dulu ya? Kami mau melanjutkan aktifitas kami lagi menyiapkan hadiah pernikahan untuk kakak!" Ucap Anto yang kemudian meninggalkan Andini sendiri.


" Oh jadi mereka berdua dari kemarin begitu sibuk di dalam kamar itu sudah nyiapin hadiah pernikahanku bersama Mas Adrian?" hati Andini merasa hangat setelah mengetahui semua itu.


Andini tidak mau merusak kesenangan adiknya dengan mengganggu mereka berdua di dalam kamar. " Baiklah tidak ada salahnya aku berada di rumah. Sekalian Aku mau perawatan tubuh untuk pernikahanku nanti." Andini terlihat begitu bahagia untuk melakukan perawatan tubuh di rumahnya sebelum hari pernikahannya bersama Adrian tiba di depan mata.