
Begitu sampai di Amerika Farel langsung mencari alamat Siska yang telah diberikan oleh temannya yang berada di KBRI.
" Kamu di mana sayang? Aku sangat merindukan kamu!" Ucap Farel sambil menyusuri jalanan California.
Kota yang begitu luas dan juga begitu indah. Tetapi di mata Farel semuanya terasa tidak membahagiakan sama sekali. Karena wanita yang dia cari belum juga ketemu padahal Farel sudah satu minggu berada di California.
Alamat yang diberikan oleh temannya tidak lengkap karena ternyata memang Siska tidak berniat untuk memberikan alamat aslinya.
Selama satu minggu itu Farel bolak-balik ke kampus yang terdaftar namanya Siska. Tapi masih belum bertemu juga dengan wanita yang dia cintai.
" Kamu dimana sebenarnya Siska?" Farel hampir putus asa di buatnya.
Ketika Farel memutuskan untuk segera pergi meninggalkan kampus Siska, tiba-tiba saja Farel menangkap siluet wajah Siska yang mengendarai mobil bersama dengan seorang laki-laki bule yang sangat tampan.
Farel mengerutkan keningnya dan merasa tidak senang dengan kenyataan itu.
Di sana di kejauhan terlihat Siska yang sedang tertawa begitu bahagia di samping seorang laki-laki yang saat ini sedang merangkul bahunya dengan begitu mesra.
Hati Farel benar-benar terluka melihat adegan demi adegan yang terjadi di hadapannya yang seperti sebuah pisau menyayat hatinya.
" Padahal kita baru berpisah selama satu minggu. Bahkan belum ada keputusan apakah pertunangan kita akan dibatalkan ataukah tidak. Akan tetapi kau di sini sudah begitu bahagia dengan laki-laki lain. Apakah begitu mudahnya Kau melupakan aku?" tanya Farel begitu sengsara hatinya.
Farel mengingat kembali apa yang dikatakan oleh sepupunya, bahwa Siska telah melihat dirinya yang bermesraan dengan Amora di kamar apartemennya.
" Apakah perasaanmu juga seperti ini ketika melihat aku bermesraan dengan Amora? Maafkan aku sayang karena sudah membuat kamu sedih dan terluka!" Farel berusaha untuk menghapus air matanya dan dia mendekat ke arah Siska yang sedang bersama dengan seorang laki-laki yang tidak dikenal oleh Farel.
Dengan hati hancur lebur Farel kemudian mendekati Siska. Sebenarnya harga dirinya cukuplah tinggi akan tetapi kerinduan dan perasaan bersalahnya yang membuat Farel nekat untuk mendekati Siska.
" Sayang, apa kabar?" tanya Farel dengan suara gemetar ketika dia berada di dekat Siska.
Siska langsung menoleh ke belakang, ketika dia mendengar suara Farel berada di dekatnya. Siska terkejut mendapatkan Farel yang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
" Kamu sedang apa di sini?" tanya Siska berusaha untuk menghindari Farel dengan menarik tangan temannya yang tadi datang ke kampus bersama dia.
Akan tetapi Farel tidak membiarkan Siska pergi begitu saja. Farel langsung menarik tangan Siska ke arahnya, menguncinya dengan pelukan yang sangat erat. Farel lalu menyuruh laki-laki yang bersama dengan Siska untuk pergi.
" Pergilah kau dari sini! Karena aku perlu bicara dengan tunanganku!" ucap Farel dengan tegas dan lugas.
Akan tetapi Siska melarang laki-laki untuk pergi sehingga membuat Farel menjadi mengamuk.
" Jangan pergi Mateo! Tunggulah aku di kursi itu, aku akan bicara dengan dia sebentar!" ucap Siska sambil menatap kepada Farel yang menatapnya dengan ribuan pertanyaan.
Para mahasiswa yang lain tampak berbisik dan juga terus memperhatikan keributan yang terjadi di tempat parkir.
" Cepat katakan kau mau bicara apa?" tanya Siska kesal dan ketus.
Sejujurnya Siska pun merindukan Farel, akan tetapi luka hatinya karena melihat Farel yang tidur bersama dengan Amora, telah membuat Siska tidak bisa memaafkan Farel.
Luka hati itu belum sembuh. Dan Dia sedang berusaha untuk bisa melupakan Farel. Oleh karena itu dia menerima Matteo sebagai kekasihnya. Lebih tepatnya Siska meminta kepada Matteo untuk menjadi kekasihnya.
Siska dan Matteo baru menjalin hubungan dua hari yang lalu itu terjadi karena Siska yang benar-benar merasa frustasi karena kesulitan untuk melupakan Farel.
Siska pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa luka cinta hanya bisa diobati oleh cinta yang lain. Oleh karena itu Siska memaksa Mateo untuk menjadi kekasihnya.
Walaupun sebenarnya Matteo sendiri memiliki seorang tunangan yang saat ini masih kuliah di Prancis.
Siska mengatakan kepada Matteo kalau dia hanya membutuhkan seseorang untuk bisa membantunya melupakan kenangan pahit bersama dengan Farel.
Setelah mendengarkan cerita panjang dan lebar mengenai kisah cinta Farel dan Siska. Akhirnya Matteo bersedia untuk menjadi pacar pura-pura Siska selama dia berada di Amerika.
Mendengarkan nada suara Siska yang seakan tidak senang dengan kehadirannya membuat Farel benar-benar frustasi.
" Apakah kau begitu membenciku sehingga bicara denganku begitu formal? Aku sangat merindukanmu sayang. Oleh karena itu aku datang kemari untuk mencarimu!" ucap Farel berusaha menggenggam tangan Siska tetapi langsung ditepis oleh gadis itu.
Hati Farel sangat sakit mendapatkan penolakan dari Siska yang tak mau melihat dia sama sekali.
" Kalau tidak ada lagi yang perlu kau bicarakan. Aku pergi dulu ya? Kasihan sekali, kekasihku sudah menunggu dari tadi!" demi mendengarkan perkataan Siska Farel sontak menjadi marah dan langsung mengangkut tubuh Siska untuk masuk ke dalam mobilnya.
Matteo yang dari kejauhan melihat Siska diangkut seperti karung beras oleh Farel, dia berusaha untuk mengejar Farel, akan tetapi dia terlambat. Karena Farel dan Siska sudah meninggalkan kampus dengan menggunakan mobilnya yang di kendarai dengan kecepatan tinggi. Farel menyetir seperti orang kesetanan.
Siska sudah menjerit ketakutan sejak tadi berusaha untuk menghentikan mobil Farel karena dia tidak mau mengikuti Farel yang sedang menggila.
" Hentikan mobilnya sekarang juga Farel! Cepat Kau turunkan aku di sini! Farel, jangan gila kamu!" Siska sudah gemetar ketakutan melihat Farah yang mengendarai mobil benar-benar kencang sekali.
" Farel aku mohon! Cepat kau hentikan mobil ini. Kita bisa ditangkap polisi kalau mengendarai mobil seperti ini Fatel! Ini bukan Indonesia Farel. Apa kau ingin dideportasi?" Siska terus memohon kepada Farel Untuk menghentikan kecepatan mobilnya.
Akan tetapi Farel yang saat ini hatinya sedang marah ketika mendengarkan Siska sudah memiliki kekasih lian, membuat dia hampir gila dan tidak bisa mengendalikan diri lagi.
" Biarkan saja kita berdua mati atau masuk penjara bersama daripada aku harus melihat kau berbahagia dengan laki-laki lain! Dengar Siska! Aku tidak akan pernah memberikanmu kepada siapapun! Karena kita selamanya akan menjadi pasangan. Pernikahan kita sudah diatur bahkan sebelum kita lahir di atas dunia ini!" ucap Farel sambil memukul setirnya untuk melampiaskan emosi yang ada di dalam hatinya karena perasaan cemburu dan amarah yang sangat sulit dia kendalikan.
Siska menggelengkan kepalanya mendengarkan semua perkataan Farel bagaimanapun dia belum bisa memaafkan apa yang sudah dia lihat di kediaman Amora.