
Farel segera meninggalkan rumah sakit dengan membawa ponsel Siska. Karena dia akan membaca semua pesan-pesan yang diberikan oleh ibunya kepada istrinya selama perpisahan mereka.
" Suster tolong jaga anak dan istriku aku ada keperluan keluar sebentar!" ucap Farel berpesan kepada suster ketika dia hendak pergi meninggalkan rumah sakit karena dia perlu tempat privasi yang tidak akan diketahui ataupun dilihat oleh siapapun.
Saat ini Adrian dan Steven sedang pergi keluar untuk membeli semua kebutuhan si bayi yang belum sempat dibeli oleh Siska.
Sementara itu Farel yang saat ini berada di dalam apartemennya. Dia membaca semua chatting yang dikirimkan oleh ibunya yang tidak pernah dibalas satu kali pun oleh Siska.
" Ya Allah aku tidak menyangka kalau ternyata Ibuku begitu kejam. Dia menghalalkan segala cara untuk memisahkanku dengan istriku." ucap Farel begitu sedih setelah mengetahui semua fakta yang tersembunyi dari alasan Siska yang tidak pernah menghubunginya walaupun istrinya sedang online di aplikasi hijaunya.
Kebenaran sudah terungkap di depan mata Farel. Bahwa ternyata semua itu adalah ulah perbuatan ibunya yang selalu menaruh garam di atas luka sang istri. Dengan mengirimkan setiap hari foto-foto mesra antara dirinya dengan Amora yang sebenarnya hanya masalah Angel pengambilan gambar.
Foto-foto yang terlihat mesra itu tidak benar-benar nyata karena itu hanyalah permainan trik kamera karena pada kenyataannya Farel tidak pernah benar-benar bertemu dengan Siska dengan semesra itu.
Farel tergelitik hatinya membaca pesan terakhir yang dikirimkan oleh ibunya untuk Siska.
" Hari ini Farel sedang menginap di kediaman Amora. Besok pagi-pagi aku akan segera mengirimkan foto dan videonya. Perempuan pembawa sial, kau bersiaplah untuk melihat kenyataan bahwa dirimu, sekarang sudah tak berarti sama sekali untuk Putraku!" ucap Ibunya dengan emot amarah.
Farel melihat tanggal pengiriman pesan tersebut.
" Bukankah ini adalah tanggal ketika Amora tiba-tiba menelponku dan mengancam akan bunuh diri dengan memotong nadinya?" tanya Farel bingung sekali.
Farel kemudian mengingat kembali kejadian pada hari itu. Si mana Amora yang menelpon dirinya, kemudian memaksanya untuk datang ke apartemennya pada tengah malam dengan mengancam Farel akan memotong nadinya yang pada akhirnya dia meminta kepada asistennya untuk menemui Amora sementara dirinya pergi meninggalkan Indonesia menuju Amerika untuk mencari Siska dan anaknya.
Hati Farel mencelos ketika menyadari bahwa ternyata itu adalah jebakan yang telah direncanakan oleh ibunya bersama dengan Amora.
" Ya Tuhan mama. Berapa banyakkah kejahatan yang sudah kau rencanakan bersama Amora hanya untuk menghancurkan hati menantumu?" tanya Farel dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Kesedihan benar-benar telah menguasai hati Farel. Sehingga dia tidak mampu untuk mengangkat telepon ibunya sendiri yang sejak tadi terus berdering di ponselnya.
Farel hanya terus menatap panggilan tersebut tanpa ada niat untuk menjawabnya sama sekali.
Hati Farel yang merasa telah dikhianati oleh sang ibu. Dia tidak sanggup lagi untuk menahan amarah dan juga rasa kecewanya. Karena ternyata orang yang sedang berusaha menghancurkan kebahagiaannya bersama sang istri adalah ibunya sendiri.
Farel akhirnya terlelap di sofa yang ada di apartemennya hingga subuh menjelang.
Farel terbangun karena ponsel Siska yang berdering mendapatkan panggilan dari Adrian. Akan tetapi Farel tidak punya niat untuk mengangkat panggilan itu karena dia tidak mau Siska mengetahui kalau ponselnya sekarang berada di tangannya.
Bagaimanapun Farel tidak ingin kalau sampai Siska mengetahui bahwa dirinya sudah mengetahui tentang kelakuan ibunya yang selalu mengirimkan foto-foto mesra antara dirinya dan Amora untuk Siska.
Setelah mengirimkan semua foto-foto yang tadi dia ambil melalui ponsel Siska. Farel pun kemudian menghapus dan menghilangkan semua jejak seakan-akan Dia tidak pernah menggunakan ponsel milik Siska sehingga Siska tidak akan pernah mencurigainya.
Farel akan menyembunyikan fakta bahwa dia sudah mengetahui semua kelakuan Sang Ibu terhadap istrinya.
Besok Farel akan datang ke Indonesia dan menanyakan semua itu kepada ibunya. Farel ingin ibunya menjelaskan semua hal yang benar-benar sangat mengganggu dirinya.
" Kalau Ibuku belum juga bisa menerima anak dan istriku. Maka aku akan siap-siap untuk melepaskan nama Handoyo di dalam namaku dan aku akan meninggalkan perusahaan secepatnya." Uca Farel mengambil keputusan tegas untuk kehidupannya dan masa depan keluarganya yang telah dihancurkan oleh ibu kandungnya sendiri.
Farel kemudian mandi dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit.
Farel mengerutkan keningnya ketika dia melihat dokter Andrew dan Dokter Edward yang saat ini berada di ruangan istrinya dan sedang asyik bermain dengan putranya.
Hati Farel sebenarnya tidak suka melihat itu semua. Akan tetapi dia kembali mengingat bahwa orang-orang itulah yang selama dirinya tidak ada di samping istri nya,mereka selalu siap siaga untuk membantu Siska.
" Selamat pagi aku sudah membawakan sarapan untuk kita semua!" ucap Farel dengan senyum sumringah yang sangat dipaksakan untuk membuat Siska maupun Adrian dan Steven curiga dengan dirinya.
Disaat semua orang tampak begitu terpesona dengan bayi mungil itu di saat itulah Farel meletakkan ponsel Siska di balik bantal sofa. Bersikap bahwa dirinya tidak tahu apa-apa soal ponsel milik Siska.
Akan tetapi Siska bisa menangkap apa yang dilakukan oleh Farel dengan ekor matanya. Tetapi Siska pun tidak mau mengungkap apa yang dia lihat saat ini. Karena dia percaya bahwa Farel pasti telah memiliki rencananya sendiri kenapa dia melakukan hal konyol seperti itu pada ponselnya.
" Terima kasih karena kalian berdua telah menjaga istri dan anakku selama diriku tidak ada di sini!" ucap Farel sambil menyodorkan telapak tangannya untuk bersalaman dengan dokter Andrew dan Edward.
Siska terperanjat mendengarkan ucapan suaminya.
" Dari mana kau mengetahui kalau selama kamu tidak ada, mereka berdua lah yang selama ini selalu membantuku?" tanya Siska sambil terus saja mengerutkan keningnya.
" Sejujurnya aku sudah memasang seorang detektif yang setiap hari selalu mengawasi semua kegiatanmu! Kau jangan salah paham sayang. Aku hanya ingin menjagamu dari kejauhan. Aku selalu mewanti-wanti kepada orang ku itu untuk selalu membantumu disaat kau kesulitan! Tetapi dia mengatakan bahwa dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk membantumu karena dokter Endro dan ayahnya lah yang selalu stand by untuk menjagamu!" ucap Farel menjelaskan segalanya kepada sang istri yang mulai memahami maksud dari para menaruh orang kepercayaannya dan mengawasi semua kehidupannya selama ini.
' Jadi selama ini Farel tidak pernah benar-benar meninggalkanku seperti yang dikatakan oleh ibunya setiap hari?' bathin Siska benar-benar sangat bahagia mendengarkan fakta tersebut dari sang suami.
Adrian dan Steven hanya merasa senang karena dia sudah mengetahui kalau ternyata selama ini yang menginginkan perpisahan antara Farel dan Siska adalah ibunya bukan murni 100% keinginan dari Farel.