
Setelah ponsel ibunya mulai terisi. Farel kemudian membuka percakapan maupun log panggilan yang dilakukan oleh ibunya. Farel juga membaca semua percakapan sang ibu. Menyelidiki apa yang terjadi di akhir perjalanan hidupnya sebelum dia meninggal.
Mata Farel terlihat tertarik dengan sebuah file rekaman yang tersimpan terakhir sebelum Ibunya meninggal.
Dengan tangan gemetar. Farel kemudian memutar rekaman tersebut.
Amora: Kenapa sih sekarang tante malah membela Siska padahal dulu Tante selalu mendukung hubunganku dengan Farel.
Meiliana: Karena sekarang aku sudah sadar bahwa kau ternyata hanyalah wanita ular yang tidak pernah benar-benar mencintai putraku.
Amora: Dari mana Tante mengetahui kalau aku adalah wanita ular? Aku dari dulu selalu mencintai Farel dengan sepenuh hati.
Meiliana: Kalau kau memang benar-benar mencintai Putraku. Kau pasti akan berbahagia melihat putraku sekarang berbahagia dengan istrinya dan keluarganya. Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah menghalalkan segala cara untuk memisahkan mereka berdua!
Amora: Aku sangat mencintai Farel Tanta. Bagaimana mungkin aku bisa melepaskan dia untuk bahagia dengan wanita lain?
Terdengar Amora yang mulai menangis dan terisak kemudian Meiliana mendekati Amora.
Meiliana: Lupakanlah Farel dan mulailah kau untuk menjalani kehidupanmu yang baru.
Amora: Tidak akan Tante. Aku tidak akan pernah melupakan Farel karena aku sangat mencintainya.
Meiliana: Kalau begitu terserah padamu. Aku tidak akan lagi berurusan denganmu dan satu lagi. Kau harus mulai menjauhiku dan juga Farel. Biarkanlah Farel hidup berbahagia dengan Siska dan anaknya!" ucap Meiliana.
Amora: Aku mohon Tante! jangan meninggalkan aku untuk berjuang sendiri mendapatkan Farel kan aku benar-benar membutuhkanmu dan juga dukunganmu.
Meiliana: Hentikan semua perbuatan busukmu yang selalu berusaha untuk memisahkan Farel dan menantuku! Atau aku akan membocorkan ke media tentang kebusukan mentalmu yang telah tidur bersama dengan asisten Farel!
Setelah itu terdengar botol Whisky yang pecah dan suara teriakan ibunya yang sangat menghiris hati Farel yang mendengarkannya.
Tidak lama kemudian terdengar percakapan antara Amora dan David yang tadi telah dipanggil oleh Amora untuk datang ke sana.
Amora: David! Cepatlah kau datang kemari. Tolonglah aku ada kecelakaan di sini kau harus menolongku.
David: Baiklah aku akan segera ke sana.
Sejenak hening dan tidak ada suara apapun. Jantung Farel yang saat ini sedang mendengarkan percakapan di dalam ponsel milik ibunya yang terus berputar.
Amora: Sebentar lagi Siska akan datang kemari. Kita akan membuat semua ini seakan-akan dia lah yang menjadi pelakunya. Ayo kita segera bereskan semua yang ada di sini dan kita tinggalkan tempat ini.
David: Ah kau benar-benar ceroboh sekali! Bagaimana mungkin kau membunuhnya begitu saja? Seharusnya aku mendapatkan tanda tangan dia untuk menyerahkan saham-saham perusahaan milik keluarga Handoyo kepadaku.
Amora: Di saat seperti ini kau masih saja memikirkan kepentinganmu sendiri. Ayo cepat bereskan semua ini dan jangan sampai ada jejakku berada di kediaman ini kalau tidak aku pasti akan dalam bahaya.
David: Kau ini benar-benar sangat menyebalkan! Kau sudah membuat masalah dan sekarang kau pun mengajak aku terseret di dalamnya. Menyebalkan!
Amora: Kau mau membantu atau tidak? Atau aku akan membuka identitas kamu yang sesungguhnya kepada Farel, bahwa kau adalah anak haram dari ayahnya. Kamu lahir dari selingkuhan ayahmu yang telah disingkirkan oleh Tante Meiliana sehingga kau memiliki dendam yang sangat besar kepada keluarga Handoyo!
David: Aku menyesal telah menceritakan masa laluku padamu sekarang kau selalu menggunakan hal itu untuk menekan dan juga memerintah aku.
Setelah itu terdengar bangku dan meja yang bergeser ke sana kemari. Tampak keributan dan juga keheningan yang terjadi secara bersamaan.
Amora: Semuanya sudah beres. Ayo cepat sekarang juga kita tinggalkan tempat ini karena sebentar lagi Siska akan datang! Nanti aku akan berpura-pura baru datang ke tempat ini dan merekam semua kejadian ketika Siska menemukan mayat ibunya Farel.
David: Hahahaha! aku benar-benar sudah tidak sabar lagi melihat ekspresi Farel ketika dia tahu istrinya telah membunuh ibu kandungnya sendiri dia pasti sangat sedih dan juga marah.
Amora: Aku juga merasa senang karena Siska sebentar lagi akan masuk penjara dan harus melakukan pertanggungjawaban atas pembunuhan yang telah kulakukan terhadap tante Meiliana.
Kemudian terdengar langkah kaki dan juga suara pintu yang ditutup.
Farel sangat terkejut sekali mendengarkan suara ibunya yang tampak terbata-bata dan sangat kesakitan menahan luka tusuk di sekujur tubuhnya.
Tidak lama kemudian Siska masuk ke dalam apartemen dan dia langsung berlari melihat Meiliana yang sedang bersimbah darah.
Siska: Mama, Siapa yang telah melakukan semua ini mah?
Meiliana: Tolong cabutlah pisau yang ada di dadaku. Ini benar-benar terasa sangat sakit sekali .Tolonglah Mama Siska!
Kemudian terdengar suara teriakan Meiliana ketika pisau dicabut oleh Siska dan ketika itulah Amora masuk ke dalam dan langsung menuduh Siska sebagai pembunuh dari Meiliana yang telah menghembuskan nafas yang terakhirnya.
Siska begitu panik sehingga dia kemudian mengguncangkan tubuh Meiliana untuk membangunkan wanita paruh baya itu agar tidak sampai pingsan ataupun meninggal.
Tetapi semuanya malah menjadi bumerang untuk diri Siska. Karena perbuatan itu membuat di mana-mana terdapat sidik jarinya dan itu benar-benar menguntungkan Amora yang sudah merekam dan memfoto semua yang dilakukan oleh Siska di dalam sana.
Terdengar Amora yang menelpon polisi dan kemudian terjadilah keributan dan kericuhan di dalam ruangan itu. Rekaman pun berhenti karena kelihatannya Amora yang tadi sudah mengambil ponsel dan juga dompet milik Meiliana. Setelah itu dia meninggalkan apartemen ketika melihat polisi yang sudah menggelandang Siska ke penjara.
Terlihat Farel menangis terisak di dalam kamarnya. Setelah dia mendengarkan habis rekaman yang ada di dalam ponsel ibunya.
" Tampaknya Mama sengaja merekam semua percakapan yang ada di dalam apartemen itu. Mungkin Mama sudah menangkap gelagat aneh Amora yang tiba-tiba saja mengajak dia bertemu. Ketika suasana yang sedang memanas antara hubungan kamu bertiga!" monolog Farel kepada dirinya sendiri.
Farel kemudian mengirimkan rekaman itu ke pengacara Siska. Agar dijadikan sebagai bukti yang bisa digunakan untuk meringankan hukuman Siska bahkan mungkin bisa membebaskan istrinya dari segala tuduhan.
Farel juga mengirimkan rekaman itu kepada Adrian dan Steven untuk menjamin bahwa dirinya telah benar-benar percaya bahwa Siska bukanlah pembunuh ibunya yang sekarang sudah dia makamkan di Indonesia.
Keesokan harinya Farel membawa rekaman itu ke kantor polisi dan melaporkan Amora dan David sebagai dalang dan juga partner pembunuhan ibunya.
Dengan bukti rekaman itu, polisi kemudian membebaskan Siska dari segala tuduhan. Polisi juga mulai mengangkat Amora sebagai pelaku dan David sebagai partner dari kasus pembunuhan itu. Polisi lalu menyebarkan berita itu ke segala penjuru negeri.
Hanya dalam waktu sekejap saja. Amora telah berganti status menjadi tersangka dari kasus pembunuhan ibunya Farel yang semula berstatus sebagai saksi saja dengan bukti rekaman yang ada di dalam ponsel ibunya.
Farel juga menyerahkan ponsel serta dompet ibunya ke kantor polisi sebagai bukti bahwa dia menemukan kedua benda itu di dalam apartemen Amora.
Setelah sebelumnya Farel telah mengcopy isi rekaman itu ke dalam ponsel dan juga laptopnya. Hanya untuk segera berjaga-jaga dari segala kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi.
Sementara itu sekarang Amora yang sudah berada di pinggiran kota California. Matanya nyalang sempurna. Setelah dia mendengar berita di televisi yang mengabarkan bahwa dirinya sekarang adalah buronan polisi.
" Hah! Amora kau memang bodoh dan juga tolol. Kenapa kau tidak membuang saja ponsel tante Meliana saat itu? Kenapa kau harus membawa ponsel dan juga dompetnya ke dalam apartemen kamu huh? Sekarang kau mengundang kematianmu sendiri!" monolog Amora yang saat ini sedang bolak-balik dan terus menutupi kebodohannya sendiri yang sudah membawa ponsel serta dompet milik ibunya padahal ke dalam apartemennya.
Sebenarnya waktu itu Amora hanya ingin mengamankan saja kedua benda itu. Dia sendiri tidak mengetahui kalau ada rekaman di dalam ponsel milik ibunya Farel.
Ketakutan Amora kemarin hanyalah karena Farel yang telah menemukan kedua benda milik ibunya di dalam apartemennya. Tetapi dia sama sekali tidak mengetahui tentang rekaman itu. Makanya Amora sekarang sangat terkejut dan juga tertekan. Karena sudah pasti rekaman itu menjadi bukti yang paling kuat untuk membawa dirinya dan juga David untuk masuk ke dalam penjara.
" Farel Aku tidak menyangka kalau kau tega untuk melaporkan aku ke kantor polisi kau tidak pernah memikirkan ataupun mengingat masa lalu kita yang begitu indah!" ucap Amora benar-benar merasa frustasi dengan kehidupannya sekarang. Dengan nasibnya berstatus sebagai seorang pembunuh dari ibu dari pria yang dia cintai.
Terlihat Amora yang sedang menangis di pojokan. Amora menyesali kebodohan dan juga ketololan dirinya yang sekarang telah mengakibatkan dirinya dan juga karirnya berada dalam bahaya.
Awalnya Amora berniat untuk keluar makan malam. Akan tetapi dia melihat ada beberapa orang polisi yang saat ini sedang berada di luar kamarnya.
" Ah, sialan! Pemilik penginapan ini pasti yang sudah melaporkanku ke Kantor Polisi. Setelah dia melihat berita itu di televisi!" monolog Amora sambil berusaha untuk keluar dari kamar itu dengan menggunakan jendela sebagai media untuknya kabur dari kamar.
Tetapi Amora kecelek. Karena ketika dia keluar dari kamar itu, dia lihat polisi sudah menodongkan pistol ke arah wajahnya.
" Segera serahkan diri Anda baik-baik nyonya Amora. Jangan sampai kami harus membawa anda dalam keadaan cacat karena timah panas yang akan kami lontarkan pada anda!" ancam Kapten polisi yang menjadi kepala tim untuk meringkus Amora menuju penjara.
Akhirnya Amora hanya bisa pasrah saja dan membiarkan dirinya digelandang oleh Polisi menuju penjara dan bersiap untuk menjalani pengadilan kasus pembunuhan ibunya Farel yang dia lakukan dengan dibantu oleh David.